KOMPAS.com - Burung-burung dari Rusia dan China migrasi ke Jawa Timur, tepatnya ke Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, beberapa waktu lalu.
Migrasi tersebut merupakan kegiatan rutin, tapi krisis iklim dinilai akan cukup memengaruhinya. Suhu global diprediksi akan naik satu sampai dua derajat celsius akibat krisis iklim.
Baca juga:
Saat terjadi kenaikan suhu global, burung-burung migran akan beradaptasi dalam berbagai bentuk. Ketika terjadi ketidaksesuaian dalam proses beradaptasi, berbagai aspek dalam kehidupan burung-burung migran akan terpengaruh.
"Burung mungkin saja akan terpengaruh (krisis iklim), apakah itu waktu mereka untuk berbiak, waktu mereka melakukan pergantian bulu, dan kemudian juga proses-proses fisiologi lainnya. Nah, ketika terjadi perubahan-perubahan tersebut, tentu mereka harus menyesuaikan lagi dengan waktu mereka untuk bermigrasi," ujar dosen biologi dari Universitas Andalas, Wilson Novarino kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Burung dari Rusia dan China rutin datang ke Jawa Timur setiap tahun. Namun, kenaikan suhu global dan bencana iklim berpotensi mengganggu pola migrasi.Proses migrasi burung, yang telah berlangsung ribuan tahun, menjadi bagian dari evolusi yang memungkinkan keberadaan satwa tersebut hingga saat ini.
Terdapat sembilan jalur migrasi utama burung di dunia. Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari jalur Asia Timur-Australia (East Asia Australia Flyway), dan burung bisa melintasi Indonesia dalam dua periode per tahun.
Periode pertama terjadi saat awal musim dingin di belahan bumi utara, yang mana burung-burung akan datang ke Indonesia untuk menetap selama akhir bulan September-November.
Pada periode kedua, burung-burung itu kembali bermigrasi ke Asia Timur pada bulan Maret-Mei.
Bila memilih jalur dari utara, burung-burung akan melewati Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, serta bisa berakhir di Bali atau pun Lombok. Jalur migrasi juga berlaku pula untuk arah sebaliknya.
Di sisi lain, krisis iklim akan memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Misalnya, siklon tropis senyar berkontribusi menyebabkan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025.
Siklon yang biasanya terjadi di kawasan sub0tropis, seperti Jepang dan Taiwan, saat ini sudah semakin sering terjadi di Indonesia akibat krisis iklim.
Burung-burung migran yang berpindah dengan terbang jauh tentunya akan terpengaruh berbagai fenomena alam yang dipicu krisis iklim. Jalur migrasi burung-burung tersebut bisa berubah akibat berbagai fenomena alam yang dipicu krisis iklim.
"Ketika adanya siklon tersebut, tentu akan mempengaruhi pergerakan burung. Nah, salah satu contohnya adalah ketika terjadi kebakaran hutan yang cukup panjang di Sumatera beberapa tahun yang lalu. Ketika terjadinya kebakaran hutan, itu menyebabkan burung tidak bisa melewati jalur migrasi yang biasa mereka lakukan," jelas Wilson.
Berdasarkan pemantauan dengan menggunakan satellite tracking, ada beberapa jenis burung yang saat itu seharusnya melewati ke Sumatera.
Namun, burung-burung tersebut akhirnya berbelok ke Kalimantan akibat terjadi kebakaran hutan di Sumatera.
"Nah, dengan adanya siklon senyar, kalau misalnya waktunya bertepatan dengan jalur migrasi, tentu akan mempengaruhi jalur migrasi burung," tutur Wilson.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya