Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim

Kompas.com, 30 Januari 2026, 17:12 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Burung-burung dari Rusia dan China migrasi ke Jawa Timur, tepatnya ke Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, beberapa waktu lalu.

Migrasi tersebut merupakan kegiatan rutin, tapi krisis iklim dinilai akan cukup memengaruhinya. Suhu global diprediksi akan naik satu sampai dua derajat celsius akibat krisis iklim.

Baca juga:

Saat terjadi kenaikan suhu global, burung-burung migran akan beradaptasi dalam berbagai bentuk. Ketika terjadi ketidaksesuaian dalam proses beradaptasi, berbagai aspek dalam kehidupan burung-burung migran akan terpengaruh.

"Burung mungkin saja akan terpengaruh (krisis iklim), apakah itu waktu mereka untuk berbiak, waktu mereka melakukan pergantian bulu, dan kemudian juga proses-proses fisiologi lainnya. Nah, ketika terjadi perubahan-perubahan tersebut, tentu mereka harus menyesuaikan lagi dengan waktu mereka untuk bermigrasi," ujar dosen biologi dari Universitas Andalas, Wilson Novarino kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Burung dari Rusia dan China bisa dipengaruhi krisis iklim

Jalur migrasi burung bisa berubah akibat krisis iklim dan bencana alam

Burung dari Rusia dan China rutin datang ke Jawa Timur setiap tahun. Namun, kenaikan suhu global dan bencana iklim berpotensi mengganggu pola migrasi.Dok. Freepik/tomasrobertson Burung dari Rusia dan China rutin datang ke Jawa Timur setiap tahun. Namun, kenaikan suhu global dan bencana iklim berpotensi mengganggu pola migrasi.

Proses migrasi burung, yang telah berlangsung ribuan tahun, menjadi bagian dari evolusi yang memungkinkan keberadaan satwa tersebut hingga saat ini.  

Terdapat sembilan jalur migrasi utama burung di dunia. Indonesia menjadi salah satu bagian penting dari jalur Asia Timur-Australia (East Asia Australia Flyway), dan burung bisa melintasi Indonesia dalam dua periode per tahun. 

Periode pertama terjadi saat awal musim dingin di belahan bumi utara, yang mana burung-burung akan datang ke Indonesia untuk menetap selama akhir bulan September-November.

Pada periode kedua, burung-burung itu kembali bermigrasi ke Asia Timur pada bulan Maret-Mei.

Bila memilih jalur dari utara, burung-burung akan melewati Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, serta bisa berakhir di Bali atau pun Lombok. Jalur migrasi juga berlaku pula untuk arah sebaliknya.

Di sisi lain, krisis iklim akan memicu berbagai bencana hidrometeorologi. Misalnya, siklon tropis senyar berkontribusi menyebabkan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025.

Siklon yang biasanya terjadi di kawasan sub0tropis, seperti Jepang dan Taiwan, saat ini sudah semakin sering terjadi di Indonesia akibat krisis iklim.

Burung-burung migran yang berpindah dengan terbang jauh tentunya akan terpengaruh berbagai fenomena alam yang dipicu krisis iklim. Jalur migrasi burung-burung tersebut bisa berubah akibat berbagai fenomena alam yang dipicu krisis iklim.

"Ketika adanya siklon tersebut, tentu akan mempengaruhi pergerakan burung. Nah, salah satu contohnya adalah ketika terjadi kebakaran hutan yang cukup panjang di Sumatera beberapa tahun yang lalu. Ketika terjadinya kebakaran hutan, itu menyebabkan burung tidak bisa melewati jalur migrasi yang biasa mereka lakukan," jelas Wilson.

Berdasarkan pemantauan dengan menggunakan satellite tracking, ada beberapa jenis burung yang saat itu seharusnya melewati ke Sumatera. 

Namun, burung-burung tersebut akhirnya berbelok ke Kalimantan akibat terjadi kebakaran hutan di Sumatera.

"Nah, dengan adanya siklon senyar, kalau misalnya waktunya bertepatan dengan jalur migrasi, tentu akan mempengaruhi jalur migrasi burung," tutur Wilson.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru
Cara Mengajak Orang Peduli Perubahan Iklim, Ini Temuan Studi Terbaru
LSM/Figur
KLH Selidiki Longsor Cisarua, Dalami Dugaan Pelanggaran Lingkungan
KLH Selidiki Longsor Cisarua, Dalami Dugaan Pelanggaran Lingkungan
Pemerintah
Palmerah Yuk, Kampanye KG Media untuk Donasi Banjir dan Kurangi Sampah Fashion
Palmerah Yuk, Kampanye KG Media untuk Donasi Banjir dan Kurangi Sampah Fashion
Swasta
Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien
Elon Musk Ingin Bangun Pusat Data AI di Ruang Angkasa, Dinilai Lebih Efisien
Swasta
Hari Primata Indonesia, Kenali Primata Apa Saja yang Dilindungi
Hari Primata Indonesia, Kenali Primata Apa Saja yang Dilindungi
Pemerintah
Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim
Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim
LSM/Figur
Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi
Plastik Biodegradable Bisa Kurangi Polusi, tapi Ada Dampak Tersembunyi
LSM/Figur
Burung Rusia dan China Migrasi ke Jawa Timur, Alih Fungsi Lahan Basah Ancam Habitatnya
Burung Rusia dan China Migrasi ke Jawa Timur, Alih Fungsi Lahan Basah Ancam Habitatnya
LSM/Figur
Akademisi UI Soroti Alih Fungsi Lahan di Cisarua, Bertambah 52 Hektar per Tahun
Akademisi UI Soroti Alih Fungsi Lahan di Cisarua, Bertambah 52 Hektar per Tahun
LSM/Figur
Bencana di Indonesia Dinilai Akan Jadi Rutinitas dan Mudah Diprediksi
Bencana di Indonesia Dinilai Akan Jadi Rutinitas dan Mudah Diprediksi
LSM/Figur
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
Swasta
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Pemerintah
IPB Sinergikan Program 'One Village One CEO' dengan Koperasi Merah Putih
IPB Sinergikan Program "One Village One CEO" dengan Koperasi Merah Putih
Pemerintah
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
LSM/Figur
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau