Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aksi Iklim Ambisius Bisa Selamatkan 1,32 Juta Jiwa pada 2040

Kompas.com, 13 Februari 2026, 21:14 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Aksi iklim yang ambisius untuk meningkatkan kualitas udara global dapat menyelamatkan hingga 1,32 juta jiwa per tahun pada tahun 2040, menurut studi terbaru yang dipimpin Universitas Cardiff di Wales.

Studi yang diterbitkan dalam Nature Communications ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang sangat bergantung pada kerja sama internasional untuk mendapatkan manfaat itu. 

Hal itu karena mayoritas polusi negara-negara berkembang berasal dari luar perbatasan mereka.

Baca juga:

Aksi iklim ambisius bisa selamatkan 1,32 juta jiwa pada 2040

Keputusan mitigasi iklim di negara kaya bisa berdampak signifikan

Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.freepik Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.

Studi sebelumnya menganalisis pertukaran polusi lintas batas terjadi di hampir setiap negara atau sebanyak 168 negara.

Dengan dunia yang terfragmentasi, sedikitnya kebijakan mitigasi iklim secara kolaboratif akan memperlebar kesejangan kesehatan antar negara. Imbasnya, negara-negara miskin akan kesulitan mengendalikan kualitas udara mereka.

Studi terbaru ini berfokus pada partikel halus (PM 2.5), faktor risiko lingkungan utama penyebab kematian dini secara global.

"Meskipun kita tahu bahwa aksi iklim dapat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, sebagian besar penelitian mengabaikan bagaimana hal ini memengaruhi polusi udara yang melintasi perbatasan internasional dan menciptakan ketidaksetaraan antar negara," ujar penulis utama dari Sekolah Ilmu Bumi dan Lingkungan Universitas Cardiff, Omar Nawaz, dilansir dari Phys.org, Jumat (13/2/2026).

Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara Selatan. Khususnya, di Afrika dan Asia.

Studi yang turut melibatkan para peneliti di Universitas Colorado Boulder ini menggunakan pemodelan atmosfer tingkat lanjut dan data satelit NASA untuk mensimulasikan berbagai skenario emisi masa depan untuk tahun 2040.

Studi tersebut juga melakukan estimasi beban kesehatan, memungkinkan para peneliti untuk memahami siapa yang mendapat manfaat dan menilai berbagai tingkat ketergantungan saat negara-negara menerapkan kebijakan mitigasi iklim.

Para peneliti melihat bagaimana manfaat kesehatan dari aksi iklim dapat berbeda ketika ada kerja sama global yang lebih besar atau semakin lemah.

Baca juga:

Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.

"Kami terkejut menemukan bahwa meskipun Asia memperoleh manfaat total terbesar dari aksi iklim bagi sebagian besar penduduknya, negara-negara Afrika sering kali paling bergantung pada aksi eksternal, dengan jumlah manfaat kesehatan yang mereka peroleh dari mitigasi iklim di luar negeri meningkat dalam skenario masa depan yang terfragmentasi," tutur Nawaz.

Berdasarkan proyeksi dari studi ini, keseimbangan polusi udara yang mengalir melintasi perbatasan dapat bergeser, bahkan saat total polusi udara global menurun. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau