Penulis
Meski begitu, dampak jangka panjang polusi ini masih belum diketahui secara pasti.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa satu ton emisi di ketinggian 75 kilometer setara dengan 100.000 ton emisi di permukaan bumi.
"Apa yang kami ketahui adalah satu ton emisi di ketinggian 75 kilometer setara dengan 100.000 ton emisi di permukaan bumi," kata tim tersebut.
Penelitian ini juga disebut sebagai “harbinger” atau pertanda awal dari polusi yang bisa meningkat masa depan.
Saat ini terdapat sekitar 14.000 satelit aktif yang mengorbit bumi, dan jumlahnya bisa bertambah drastis.
China diketahui mengajukan izin untuk meluncurkan sekitar 200.000 satelit ke orbit. Di sisi lain, pada akhir Januari 2026, CEO SpaceX, Elon Musk juga mengajukan izin untuk meluncurkan hingga satu juta satelit tambahan.
Lonjakan jumlah satelit berarti lebih banyak roket diluncurkan. Artinya akan lebih banyak tahap roket yang kembali masuk ke atmosfer, yang bisa meningkatkan jumlah polutan di lapisan atas atmosfer.
Eloise Marais, profesor kimia atmosfer di University College London yang tidak terlibat dalam studi, menyebut penelitian ini sangat penting.
"Saat ini, tidak ada peraturan yang sesuai yang menargetkan polusi yang masuk ke lapisan atas atmosfer," kata Marais.
"Meskipun bagian-bagian atmosfer ini jauh dari kita, mereka dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan di bumi jika polutan yang dihasilkan mampu mempengaruhi iklim bumi dan menguras lapisan ozon yang melindungi kita dari radiasi UV berbahaya," tambah dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya