Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Roket Masuk Atmosfer Diukur Pertama Kali, Ada Lonjakan Lithium

Kompas.com, 20 Februari 2026, 14:32 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Polusi akibat masuknya roket kembali ke atmosfer bumi akhirnya berhasil diukur untuk pertama kalinya.

Temuan ini menjadi peringatan penting di tengah rencana peluncuran ribuan hingga jutaan satelit ke luar angkasa dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga:

Pengukuran polusi roket yang masuk ke atmosfer bumi

Ada lonjakan logam lithium di ketinggian hampir 100 kilometer

Ilmuwan untuk pertama kalinya mengukur polusi dari roket yang masuk kembali ke atmosfer. Lonjakan lithium terdeteksi di ketinggian 100 km.Freepik Ilmuwan untuk pertama kalinya mengukur polusi dari roket yang masuk kembali ke atmosfer. Lonjakan lithium terdeteksi di ketinggian 100 km.

Peristiwa ini bermula pada pertengahan Februari 2025 dini hari. Saat itu, bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX kembali memasuki atmosfer bumi. Roket itu meledak dan berubah menjadi bola api besar, yang terlihat dari Inggris hingga Polandia.

Namun, pada saat yang sama, tim ilmuwan dari Jerman justru bersiap melakukan pengukuran.

Tim ini dipimpin oleh Robin Wing dan Gerd Baumgarten dari Leibniz Institute of Atmospheric Physics. Mereka ingin menguji peralatan dan mengukur jejak puing roket di atmosfer atas.

"Kami sangat bersemangat untuk mencoba dan menguji peralatan kami dan semoga bisa mengukur jejak puing," ucap tim tersebut, dilansir dari AFP, Jumat (20/2/2026).

Fokus utama penelitian ini adalah wilayah atmosfer yang mereka sebut sebagai "ignorosphere", yang berada di ketinggian sekitar 50 hingga 100 kilometer di atas permukaan bumi.

Area ini mencakup mesosfer dan bagian bawah termosfer yang ini sulit dipelajari karena terlalu tinggi untuk balon cuaca dan terlalu rendah untuk satelit.

Untuk mengukur polusi, tim menggunakan teknologi LIDAR. Teknologi ini bekerja dengan menembakkan pulsa laser ke atmosfer, lalu pantulan cahaya yang kembali dianalisis untuk mengetahui kandungan partikel di udara.

Hasilnya, mereka mendeteksi lonjakan logam lithium di ketinggian hampir 100 kilometer. Konsentrasi lithium itu mencapai 10 kali lipat dari kondisi normal di wilayah tersebut.

Tim kemudian melacak asal jejak logam tersebut. Mereka menemukan bahwa sumbernya berasal dari lokasi masuknya kembali roket di sebelah barat Irlandia.

Untuk pertama kalinya, penelitian ini membuktikan bahwa polusi dari roket yang masuk kembali ke atmosfer bisa dipelajari sebelum menyebar luas. Studi ini dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
8 Kuskus Tembung Dilindungi Ditemukan Mati, Penjual di Sulawesi Utara Ditangkap
8 Kuskus Tembung Dilindungi Ditemukan Mati, Penjual di Sulawesi Utara Ditangkap
Pemerintah
RI Luncurkan Rencana Aksi 2025-2030 untuk Amankan 17 Persen Karbon Biru Dunia
RI Luncurkan Rencana Aksi 2025-2030 untuk Amankan 17 Persen Karbon Biru Dunia
Pemerintah
Kadar Garam di Samudra Hindia Menurun Drastis, Apa Dampaknya?
Kadar Garam di Samudra Hindia Menurun Drastis, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
Dorong Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal, KEHATI Kembali Gelar ESG Award 2026
Dorong Investasi Berkelanjutan di Pasar Modal, KEHATI Kembali Gelar ESG Award 2026
LSM/Figur
Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB
Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB
Pemerintah
Polusi Roket Masuk Atmosfer Diukur Pertama Kali, Ada Lonjakan Lithium
Polusi Roket Masuk Atmosfer Diukur Pertama Kali, Ada Lonjakan Lithium
LSM/Figur
Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Dari Bekas Tambang Jadi Hutan, Jejak Keberlanjutan PT Vale di Sorowako
Swasta
EY Luncurkan Kerangka Kerja untuk Integrasi Keberlanjutan Bisnis
EY Luncurkan Kerangka Kerja untuk Integrasi Keberlanjutan Bisnis
Swasta
Ratusan Ikan Salmon Mati akibat Pipa PLTA Pecah di Amerika Serikat
Ratusan Ikan Salmon Mati akibat Pipa PLTA Pecah di Amerika Serikat
LSM/Figur
Trump Mundur dari Komitmen Iklim, Indonesia Harus Berani Mandiri
Trump Mundur dari Komitmen Iklim, Indonesia Harus Berani Mandiri
Pemerintah
Hadapi Banjir Rob dan Abrasi, BRIN Rancang Tanggul Tegak Multifungsi
Hadapi Banjir Rob dan Abrasi, BRIN Rancang Tanggul Tegak Multifungsi
Pemerintah
Harga Tembaga Diprediksi Berlipat Ganda, Ini Alasannya
Harga Tembaga Diprediksi Berlipat Ganda, Ini Alasannya
LSM/Figur
Minyak Jelantah Jadi Pelapis Kayu Anti Rayap, Inovasi Siswa SMAN 59 Jakarta
Minyak Jelantah Jadi Pelapis Kayu Anti Rayap, Inovasi Siswa SMAN 59 Jakarta
LSM/Figur
Peserta Program Lingkungan Britania Raya Kunjungi Bengkalis untuk Pelajari  Konservasi Mangrove
Peserta Program Lingkungan Britania Raya Kunjungi Bengkalis untuk Pelajari Konservasi Mangrove
LSM/Figur
Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut
Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau