Penulis
KOMPAS.com - Polusi akibat masuknya roket kembali ke atmosfer bumi akhirnya berhasil diukur untuk pertama kalinya.
Temuan ini menjadi peringatan penting di tengah rencana peluncuran ribuan hingga jutaan satelit ke luar angkasa dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga:
Ilmuwan untuk pertama kalinya mengukur polusi dari roket yang masuk kembali ke atmosfer. Lonjakan lithium terdeteksi di ketinggian 100 km.Peristiwa ini bermula pada pertengahan Februari 2025 dini hari. Saat itu, bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX kembali memasuki atmosfer bumi. Roket itu meledak dan berubah menjadi bola api besar, yang terlihat dari Inggris hingga Polandia.
Namun, pada saat yang sama, tim ilmuwan dari Jerman justru bersiap melakukan pengukuran.
Tim ini dipimpin oleh Robin Wing dan Gerd Baumgarten dari Leibniz Institute of Atmospheric Physics. Mereka ingin menguji peralatan dan mengukur jejak puing roket di atmosfer atas.
"Kami sangat bersemangat untuk mencoba dan menguji peralatan kami dan semoga bisa mengukur jejak puing," ucap tim tersebut, dilansir dari AFP, Jumat (20/2/2026).
Fokus utama penelitian ini adalah wilayah atmosfer yang mereka sebut sebagai "ignorosphere", yang berada di ketinggian sekitar 50 hingga 100 kilometer di atas permukaan bumi.
Area ini mencakup mesosfer dan bagian bawah termosfer yang ini sulit dipelajari karena terlalu tinggi untuk balon cuaca dan terlalu rendah untuk satelit.
Untuk mengukur polusi, tim menggunakan teknologi LIDAR. Teknologi ini bekerja dengan menembakkan pulsa laser ke atmosfer, lalu pantulan cahaya yang kembali dianalisis untuk mengetahui kandungan partikel di udara.
Hasilnya, mereka mendeteksi lonjakan logam lithium di ketinggian hampir 100 kilometer. Konsentrasi lithium itu mencapai 10 kali lipat dari kondisi normal di wilayah tersebut.
Tim kemudian melacak asal jejak logam tersebut. Mereka menemukan bahwa sumbernya berasal dari lokasi masuknya kembali roket di sebelah barat Irlandia.
Untuk pertama kalinya, penelitian ini membuktikan bahwa polusi dari roket yang masuk kembali ke atmosfer bisa dipelajari sebelum menyebar luas. Studi ini dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya