Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance

Kompas.com, 23 Februari 2026, 15:08 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Kebiasaan kerja lembur

Ekspektasi sosial di balik fenomena kerja 996 didukung oleh beberapa pengusaha sukses di China, termasuk pendiri Alibaba, Jack Ma.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah China telah berupaya memberantas budaya kerja 996, dengan melarangnya sejak tahun 2021 lalu.

Raksasa teknologi, seperti ByteDance, dan Tencent, mencoba menghentikan budaya kerja 996 setelah peristiwa meninggalnya perempuan berusia 22 tahun yang bekerja di perusahaan lokapasar Pingduoduo.

Perempuan tersebut pingsan hingga meninggal dunia dalam perjalanan pulang kerja saat waktu sudah lewat tengah malam, dilansir dari Reuters

Aturan dan praktik yang tidak sesuai

Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.Dok. Freepik/jcomp Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.

Kerja lembur yang intensif tetap menjadi praktik umum di China. Alasannya kompleks, terutama kurangnya penegakkan hukum ketenagakerjaan dan upah minimum yang rendah di negara itu.

Menurut hukum ketenagakerjaan China, jam kerja legal seorang karyawan tidak boleh melebihi delapan jam sehari dan 44 jam seminggu.

Hukum tersebut juga membatasi jam lembur mereka maksimal satu jam sehari, atau tiga jam jika kesehatan mereka terjamin, dan 36 jam sebulan.

Meski semua parameter ini sesuai dengan rekomendasi Organisasi Buruh Internasional (ILO), kenyataannya bisa sangat berbeda. Selama lima bulan pertama tahun 2025, warga China rata-rata bekerja selama 48,5 jam per minggu.

“Saya bekerja lebih dari 996 jam setiap minggu. Saya merasa sangat, sangat lelah,” ucap seorang direktur perusahaan di industri energi terbarukan di China.

Jam kerja direktur tersebut fleksibel, tapi mengharuskannya bekerja lebih dari 12 jam sehari tanpa bayaran lembur jika ingin mencapai target penjualan dan mendapatkan bonus.

Ia bekerja lembur secara sukarela, mengingat bonusnya mencapai 50 persen dari gaji bulanannya.

Baca juga:

Target kerja yang agresif

Jam kerja yang panjang sering kali disebabkan oleh budaya perkantoran yang kompetitif di China.

Direktur pelaksana Sissin Consulting berbasis di Hong Kong, Joyce Cheng mengatakan, beberapa perusahaan menerapkan target kinerja yang agresif kepada staf mereka.

"Beberapa karyawan juga berharap dapat menunjukkan kemauan untuk bekerja keras dan meningkatkan keamanan kerja dengan mengambil jam kerja tambahan," ucap Cheng.

Direktur pelaksana perusahaan konsultan komunikasi Corporate Perspectives berbasis di London, yang pernah bekerja di China selama 15 tahun, Oliver Pearce mengatakan, banyak karyawan di negara tersebut yang sangat ingin sukses.

"Atau perlu mempertahankan pendapatan mereka untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih ambisius sehingga ada cukup banyak orang di dunia kerja yang akan bertahan dengan jam kerja seperti ini,” ujar Pearce.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
Pemerintah
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau