Ekspektasi sosial di balik fenomena kerja 996 didukung oleh beberapa pengusaha sukses di China, termasuk pendiri Alibaba, Jack Ma.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah China telah berupaya memberantas budaya kerja 996, dengan melarangnya sejak tahun 2021 lalu.
Raksasa teknologi, seperti ByteDance, dan Tencent, mencoba menghentikan budaya kerja 996 setelah peristiwa meninggalnya perempuan berusia 22 tahun yang bekerja di perusahaan lokapasar Pingduoduo.
Perempuan tersebut pingsan hingga meninggal dunia dalam perjalanan pulang kerja saat waktu sudah lewat tengah malam, dilansir dari Reuters.
Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.Kerja lembur yang intensif tetap menjadi praktik umum di China. Alasannya kompleks, terutama kurangnya penegakkan hukum ketenagakerjaan dan upah minimum yang rendah di negara itu.
Menurut hukum ketenagakerjaan China, jam kerja legal seorang karyawan tidak boleh melebihi delapan jam sehari dan 44 jam seminggu.
Hukum tersebut juga membatasi jam lembur mereka maksimal satu jam sehari, atau tiga jam jika kesehatan mereka terjamin, dan 36 jam sebulan.
Meski semua parameter ini sesuai dengan rekomendasi Organisasi Buruh Internasional (ILO), kenyataannya bisa sangat berbeda. Selama lima bulan pertama tahun 2025, warga China rata-rata bekerja selama 48,5 jam per minggu.
“Saya bekerja lebih dari 996 jam setiap minggu. Saya merasa sangat, sangat lelah,” ucap seorang direktur perusahaan di industri energi terbarukan di China.
Jam kerja direktur tersebut fleksibel, tapi mengharuskannya bekerja lebih dari 12 jam sehari tanpa bayaran lembur jika ingin mencapai target penjualan dan mendapatkan bonus.
Ia bekerja lembur secara sukarela, mengingat bonusnya mencapai 50 persen dari gaji bulanannya.
Baca juga:
Jam kerja yang panjang sering kali disebabkan oleh budaya perkantoran yang kompetitif di China.
Direktur pelaksana Sissin Consulting berbasis di Hong Kong, Joyce Cheng mengatakan, beberapa perusahaan menerapkan target kinerja yang agresif kepada staf mereka.
"Beberapa karyawan juga berharap dapat menunjukkan kemauan untuk bekerja keras dan meningkatkan keamanan kerja dengan mengambil jam kerja tambahan," ucap Cheng.
Direktur pelaksana perusahaan konsultan komunikasi Corporate Perspectives berbasis di London, yang pernah bekerja di China selama 15 tahun, Oliver Pearce mengatakan, banyak karyawan di negara tersebut yang sangat ingin sukses.
"Atau perlu mempertahankan pendapatan mereka untuk mempertahankan gaya hidup yang lebih ambisius sehingga ada cukup banyak orang di dunia kerja yang akan bertahan dengan jam kerja seperti ini,” ujar Pearce.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya