Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai sekitar 22,97 juta orang pada 2023.
Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta berada pada usia produktif, namun hanya 45 persen yang bekerja, dengan mayoritas terserap di sektor nonformal.
Sementara itu, data International Labour Organization (ILO) menunjukkan hampir 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia belum bekerja atau masih mencari pekerjaan hingga akhir 2024.
Baca juga: Dari Uang hingga Simulasi Keuangan, Ini Cerita Anak Disabilitas Belajar Mandiri lewat FIESTA
Kondisi tersebut mencerminkan masih kuatnya tantangan inklusivitas di dunia kerja, baik dari sisi akses, stigma sosial, maupun minimnya program pemberdayaan yang berkelanjutan. Padahal, penyandang disabilitas dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar jika didukung dengan pendekatan yang tepat.
Pengajar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, Grisna Anggadwita, mengatakan keterbatasan utama penyandang disabilitas bukan pada kemampuan, melainkan pada akses dan kesempatan yang belum setara.
“Potensi penyandang disabilitas itu besar, tetapi sering kali tidak tergali karena akses yang terbatas. Dengan kesempatan yang sama, kemampuan mereka bisa setara,” ujar Grisna dalam keterangannya, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan riset dan pendampingan yang ia lakukan, Grisna menilai pemberdayaan penyandang disabilitas perlu dilakukan secara spesifik dan berkelanjutan, mengingat ragam jenis dan kondisi disabilitas yang berbeda.
Pendekatan yang tidak tepat, termasuk program yang bersifat seremonial tanpa pendampingan lanjutan, justru berpotensi menimbulkan resistensi di kalangan penyandang disabilitas.
Ia menekankan pentingnya pendekatan yang memanusiakan penyandang disabilitas, bukan memperlakukan mereka sebagai objek belas kasihan.
Baca juga: Perubahan Iklim Perparah Kerentanan Anak Disabilitas dan Penderita Kusta
Menurut dia, stigma negatif yang terus melekat dapat memengaruhi kepercayaan diri penyandang disabilitas dan menghambat mereka mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas penyandang disabilitas, Grisna bersama tim risetnya mengembangkan platform pembelajaran berbasis digital yang dirancang untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.
Platform tersebut memuat materi praktis, seperti pembukuan sederhana dan pengembangan usaha, serta menggunakan pendekatan storytelling dengan menampilkan kisah sukses penyandang disabilitas.
Selain itu, ia juga menginisiasi pengembangan inkubator usaha khusus bagi penyandang disabilitas melalui kolaborasi dengan lembaga pemberdayaan di Yogyakarta.
Program tersebut diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran dan pendampingan bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemandirian ekonomi.
Baca juga: Bus Makin Modern tetapi Belum Inklusif, Perempuan dan Disabilitas Terpinggirkan
Grisna menilai dukungan lintas pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat, sangat dibutuhkan untuk memperluas akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Menurut dia, dukungan tidak selalu berbentuk bantuan finansial, tetapi juga pendampingan, pembinaan, dan penyediaan fasilitas yang inklusif.
“Penyandang disabilitas hanya meminta kesempatan yang sama. Dengan akses dan dukungan yang tepat, mereka sangat mungkin berdaya secara ekonomi dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujar Grisna.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya