Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja

Kompas.com, 11 Februari 2026, 18:16 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Pengalaman masa kecil termasuk faktor yang membentuk sudut pandang para pemimpin bisnis terkait keselamatan tempat kerja ketika dewasa kelak. 

Hal itu misalnya jika mereka mengalami bencana alam sewaktu masih kecil, menurut studi yang terbit di jurnal European Financial Management dan dipimpin oleh Universitas Concordia, Kanada.

Baca juga:

Studi tersebut menemukan, para CEO yang pernah melewati peristiwa, seperti gempa bumi besar, banjir, atau badai, pada awal kehidupan mereka, akan mengelola perusahaan yang lebih memprioritaskan keselamatan tempat kerja.

Hasil disimpulkan setelah studi menganalisis statistik pelaporan wajib yang diberikan kepada Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja AS (OSHA).

Peneliti mencatat, perusahaan yang dijalankan CEO "penyintas" ini melaporkan lebih sedikit cedera dan penyakit terkait pekerjaan, dibandingkan perusahaan serupa yang dijalankan oleh para eksekutif yang tidak pernah mengalami peristiwa bencana alam.

Hasil penelitian ini bahkan terlihat lebih mencolok pada perusahaan dengan CEO yang memiliki kekuasaan besar, serta di industri dengan pengaruh serikat pekerja yang lebih lemah dan tekanan laba yang lebih tinggi.

"Kita terus mendengar di media dan komentar bahwa CEO cenderung sangat egois dan tidak terlalu peduli dengan karyawan mereka," kata salah satu penulis makalah tersebut, Michel Magnan, Profesor Riset Universitas Terkemuka di Departemen Akuntansi di John Molson School of Business.

"Dan mungkin ada kebenaran dalam beberapa kasus. Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa banyak CEO menganggap keselamatan kerja sebagai masalah yang sangat serius," tambah dia.

Baca juga: 

Pengalaman bencana pengaruhi pandangan CEO

Bagaimana CEO dinilai?

Penelitian menemukan, CEO yang mengalami bencana alam saat kecil cenderung memprioritaskan keselamatan kerja.DOK. pexels/fauxels. Penelitian menemukan, CEO yang mengalami bencana alam saat kecil cenderung memprioritaskan keselamatan kerja.

Studi ini mengharuskan para peneliti untuk menyaring sejumlah besar data dan melakukan pemetaan data saat mereka melacak catatan lebih dari 500 CEO.

Pertama, mereka mengidentifikasi perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat yang terdaftar di indeks S&P 1500 antara tahun 2002 dan 2011.

Mereka menggunakan basis data pelacakan eksekutif untuk mengidentifikasi CEO, kemudian mengumpulkan detail biografi yang tersedia untuk umum tentang masing-masing CEO, biasanya dari situs web perusahaan, artikel berita, catatan publik, dan basis data daring.

Data ini mencakup tahun kelahiran, tempat kelahiran, serta wilayah tempat tinggal para CEO selama masa pertumbuhan mereka (antara usia lima hingga 15 tahun).

Para peneliti kemudian menggabungkan informasi ini dengan basis data bencana alam tingkat wilayah di Amerika Serikat yang terjadi saat para CEO berada pada usia pertumbuhan.

Hal ini memungkinkan tim peneliti untuk mengidentifikasi siapa saja yang pernah melewati peristiwa-peristiwa tersebut.

Data dari OSHA digunakan untuk memeriksa data cedera perusahaan, yang membantu mengidentifikasi hasil keselamatan kerja, serta membandingkan perusahaan yang dijalankan oleh para CEO yang pernah dan yang tidak pernah terpapar bencana pada masa kecil mereka.

Baca juga: Survei: 32 Persen CEO Indonesia Klaim Perusahaannya Terapkan Keberlanjutan

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau