Sebaiknya, kata Pereira, anak muda tidak perlu bersikap panik dalam menghadapi cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim.
Ia menyarankan anak muda mengadopsi pendekatan yang positif sekaligus realistis, dengan bersedia membahas solusi atas fenomena cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim ini.
Berdasarkan berbagai penelitian, kecemasan ekologis bisa memotivasi seseorang untuk mengadopsi perilaku menjaga lingkungan. Salah satu dari tiga strategi umum yang paling efektif untuk mengatasi kecemasan ekologis justru terkait inisiatif melindungi lingkungan.
"Beberapa peneliti mengatakan bahwa tindakan, keterlibatan dalam tindakan untuk melindungi lingkungan, adalah penawar terbaik untuk kecemasan ekologis, karena hal itu menciptakan rasa bermanfaat, tetapi juga kendali dan harapan," ucapnya.
Cara lainnya, dengan terlibat dalam kelompok atau asosiasi yang berfokus pada lingkungan agar memperoleh dukungan sosial lebih besar untuk mengatasi respons emosional terkait kecemasan ekologis.
Selain itu, banyak penelitian mengaitkan kontak dengan alam dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Hal ini dapat menjadi strategi untuk mengatasi kecemasan, depresi, dan gejala lain terkait antisipasi terhadap dampak krisis iklim.
Baca juga:
Eco-anxiety atau kecemasan ekologis makin dirasakan akibat krisis iklim. Simak gejala dan dampaknya.Dengan dukungan yang tepat, besarnya dampak kecemasan ekologis terhadap anak-anak dan remaja bisa diubah menjadi potensi untuk mengembangkan kekuatan luar biasa dalam mengatasi berbagai tantangan cuaca ekstrem akibat krisis iklim, dilansir dari Unicef.
Kecemasan ekologis merupaan tanda kesehatan mental anak-anak dan remaja yang peduli terhadap masa depan planet ini.
Berdasarkan survei global terbesar tentang kecemasan ekologis, dari 10.000 responden anak muda berusia 16-25 tahun di 10 negara, sebesar 60 persen sangat atau sangat khawatir tentang masalah lingkungan.
Sekitar 50-67 persen responden anak muda merasa bersalah, sedih, takut, cemas, marah, serta tidak berdaya. Sebanyak 45 persen melaporkan dampak negatif emosi-emosi dari kecemasan ekologis terhadap keseharian mereka.
Survei yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health (2021) juga mengungkapkan, 83 persen responden anak muda berpendapat bahwa orang dewasa telah gagal menjaga planet ini.
Sekitar 64 persen responden menilai pemerintah tidak menanggapi kekhawatiran mereka dengan serius, tidak berbuat cukup untuk menghindari bencana iklim, dan mengecewakan kaum muda di seluruh dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya