KOMPAS.com - Perusahaan teknologi mengklaim kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) dapat membantu mencegah kerusakan iklim.
Berdasarkan analisis terhadap 154 pernyataan perusahaan teknologi, mayoritas klaim mencegah kerusakan iklim tersebut merujuk pada pembelajaran mesin (machine learning).
Baca juga:
Padahal chatbot dan alat pembuatan gambar yang boros energi mendorong pertumbuhan pesat pusat data di Amerika Serikat (AS), dengan menghabiskan banyak gas, dilansir dari The Guardian, Rabu (18/2/2026).
Laporan terbaru dari berbagai organisasi nirlaba, termasuk Beyond Fossil Fuels dan Climate Action Against Disinformation, tidak menemukan satu pun contoh AI dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).
Gemini milik Google atau Copilot dari Microsoft diniali tidak menurunkan emisi GRK yang berdampak terhadap pemanasan global secara material, terverifikasi, dan substansial.
Analis energi dan penulis laporan tersebut, Ketan Joshi, menyamakannya dengan perusahaan bahan bakar fosil yang mengiklankan investasi kecil mereka di panel surya dan melebih-lebihkan potensi penangkapan karbon.
"Teknologi-teknologi ini hanya menghindari sebagian kecil emisi dibandingkan dengan emisi besar dari bisnis inti mereka. Perusahaan teknologi besar mengambil pendekatan itu dan meningkatkan serta memperluasnya," ujar Joshi.
Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?Data yang dianalisis berasal dari Badan Energi Internasional (IEA), serta perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka, seperti Google dan Microsoft.
Laporan IEA memaparkan potensi manfaat iklim dari AI tradisional, dengan pembagian hampir merata antara klaim yang didasarkan pada publikasi akademis, situs web perusahaan, dan yang tidak memiliki bukti.
Sementara itu, mayoritas klaim dari Google dan Microsoft disebut tidak mempunyai bukti. Google dan Microsoft mencampuradukkan kecerdasan buatan tradisional dengan AI generatif ketika mengklaim teknologi ini dapat membantu mencegah kerusakan iklim.
“Ketika kita berbicara tentang AI yang relatif buruk bagi planet ini, sebagian besar adalah AI generatif dan model bahasa yang besar. Ketika kita berbicara tentang AI yang 'baik' untuk planet ini, yang sering kita maksud adalah model prediktif, model ekstraktif, atau model AI jadul," ujar Kepala bidang AI dan iklim di Hugging Face, Sasha Luccioni, yang tidak terlibat dalam penyusunan laporan itu.
Laporan tersebut menemukan bahwa klaim ramah lingkungan, bahkan untuk AI tradisional, cenderung bergantung pada bentuk bukti yang lemah yang belum diverifikasi secara independen.
Hanya 26 persen dari klaim ramah lingkungan yang diteliti mengutip penelitian akademis terpublikasi. Sementara itu, 36 persen tidak mengutip bukti sama sekali.
Salah satu contoh paling awal yang diidentifikasi dalam laporan tersebut adalah klaim yang tersebar luas bahwa AI dapat membantu mengurangi lima sampai 10 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global pada tahun 2030.
Baru-baru ini, Google mengulang-ulang klaim dari keterangan BCG, sebuah perusahaan konsultan, yang mengutip postingan blognya sendiri tahun 2021 lalu, dengan mengaitkan angka lima sampai enam persen dengan 'pengalaman mereka dengan klien'.
Menurut BloombergNEF, pusat data hanya mengonsumsi satu persen listrik dunia, meski pangsa konsumsi listriknya di AS diproyeksikan akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 8,6 persen pada 2035.
IEA memperkirakan bahwa pusat data akan menyumbang setidaknya 20 persen dari pertumbuhan permintaan listrik negara-negara kaya hingga akhir dekade ini.
Baca juga:
Pertumbuhan pusat data untuk AI generatif di AS memicu lonjakan konsumsi listrik dan PLTG baru. Benarkah klaim AI cegah krisis iklim?Konsumsi energi untuk kueri teks sederhana ke model bahasa besar, seperti ChatGPT, kemungkinan hanya sebesar nyala lampu selama satu menit.
Namun, konsumsi energi meningkat secara signifikan untuk fungsi yang kompleks, seperti pembuatan video dan riset mendalam.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa peneliti energi terkait kecepatan maupun skala pertumbuhannya.
“Perkiraan pengurangan emisi kami didasarkan pada proses pembuktian yang kuat yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia, dan kami telah secara transparan membagikan prinsip dan metodologi yang memandu hal tersebut," ujar seorang juru bicara Google.
Joshi mengangnggap wacana seputar manfaat AI terhadap iklim perlu dikembalikan ke kenyataan. "Kesalahpahaman dalam mengaitkan masalah besar dengan solusi kecil hanya berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari kerugian yang sebenarnya dapat dicegah yang terjadi akibat perluasan pusat data tanpa batasan," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya