Dalam studi ini, para peneliti menggunakan Tour de France untuk mengilustrasikan tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh kenaikan suhu akibat perubahan iklim terhadap penyelenggaraan acara olahraga musim panas.
Panas tidak hanya memengaruhi performa atletik, tetapi juga dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan atlet.
Karena alasan inilah, Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI), seperti halnya FIFA dan federasi olahraga internasional lainnya, telah menerapkan protokol keselamatan yang menilai risiko panas dan memicu tindakan perlindungan, seperti jeda hidrasi atau pendinginan dalam sepak bola.
Namun, setiap federasi menentukan ambang batas risikonya masing-masing, dan saat ini belum ada standar universal yang berlaku di seluruh cabang olahraga.
"Sains sendiri masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana tubuh manusia merespons panas, dan terlebih lagi dalam kasus atlet yang menghadapi pengerahan fisik secara terus-menerus sementara juga memiliki tingkat pengkondisian fisik dan pelatihan yang jauh di atas populasi umum," pungkas James Begg, peneliti di Galson Sciences.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya