Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Jadi Ancaman Penyelenggaraan Tour de France

Kompas.com, 25 Februari 2026, 15:39 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Peningkatan suhu secara progresif menimbulkan ancaman yang kian besar terhadap penyelenggaraan acara olahraga musim panas di Eropa seperti salah satunya adalah Tour de France.

Ini merupakan salah satu kesimpulan dari studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports setelah menganalisis data iklim terkait lebih dari 50 edisi balapan Prancis tersebut antara tahun 1974 hingga 2023.

Studi dipimpin oleh Lembaga Riset Nasional Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD) di dalam proyek Eropa bernama TipESM, bekerja sama dengan institusi-institusi seperti London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM) dan Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal).

Melansir Phys, Selasa (24/2/2026) hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada waktu dan tempat di mana balapan diadakan, risiko stres panas telah meningkat secara stabil selama bertahun-tahun, dan pada dekade terakhir menunjukkan kecenderungan ekstrem tertinggi.

Episode panas merupakan periode waktu tertentu di mana suhu udara meningkat secara signifikan di atas rata-rata normal untuk suatu wilayah dan berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Meskipun ada tren ini, Tour de France sejauh ini berhasil menghindari kondisi risiko kesehatan maksimum.

"Dalam analisis, kami mengamati bahwa kota Paris, misalnya, telah melewati ambang batas risiko tinggi untuk panas sebanyak lima kali di bulan Juli, empat di antaranya terjadi sejak tahun 2014," kata Ivana Cvijanovic, peneliti di IRD dan penulis utama studi.

"Kota-kota lain juga mengalami banyak hari dengan panas ekstrem di bulan Juli, namun untungnya tidak bertepatan dengan tanggal Tour de France berlangsung," terangnya lagi.

Ivana menambahkan bisa dikatakan bahwa balapan ini sangat beruntung, namun dengan rekor gelombang panas yang menjadi semakin sering terjadi, hanya tinggal menunggu waktu sebelum Tour de France menghadapi hari dengan stres panas ekstrem yang akan menguji protokol keselamatan yang ada saat ini.

Wilayah yang Berisiko Terpapar Panas

Para peneliti menemukan bahwa episode tingkat panas yang berbahaya paling sering terjadi di sekitar Toulouse, Pau, dan Bordeaux di Prancis barat daya, serta di sekitar Nîmes dan Perpignan di tenggara.

Mereka juga memperingatkan bahwa lokasi-lokasi seperti Paris dan Lyon semakin sering melewati ambang batas panas berisiko tinggi, sehingga menjadi titik panas stres panas yang baru.

"Kewaspadaan ekstra harus diterapkan saat merencanakan balapan di wilayah-wilayah ini," kata Desislava Petrova, peneliti di ISGlobal.

Sebaliknya, lokasi etape pegunungan klasik seperti Col du Tourmalet dan Alpe d'Huez secara historis tetap berada dalam ambang batas risiko stres panas rendah hingga moderat, tanpa ada episode risiko panas ekstrem yang tercatat hingga saat ini.

Terkait waktu pelaksanaan dalam sehari, analisis menunjukkan bahwa jam-jam di pagi hari tetap menjadi waktu yang paling aman, sementara tingkat stres panas yang tinggi dapat bertahan hingga sore menjelang malam.

Pola-pola ini menekankan perlunya mengadaptasi jadwal, rute, dan protokol keselamatan guna mengurangi risiko, baik bagi para pembalap sepeda maupun bagi staf penyelenggara dan penonton.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Risiko untuk Semua Olahraga

Dalam studi ini, para peneliti menggunakan Tour de France untuk mengilustrasikan tantangan yang lebih luas yang ditimbulkan oleh kenaikan suhu akibat perubahan iklim terhadap penyelenggaraan acara olahraga musim panas.

Panas tidak hanya memengaruhi performa atletik, tetapi juga dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan atlet.

Karena alasan inilah, Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI), seperti halnya FIFA dan federasi olahraga internasional lainnya, telah menerapkan protokol keselamatan yang menilai risiko panas dan memicu tindakan perlindungan, seperti jeda hidrasi atau pendinginan dalam sepak bola.

Namun, setiap federasi menentukan ambang batas risikonya masing-masing, dan saat ini belum ada standar universal yang berlaku di seluruh cabang olahraga.

"Sains sendiri masih memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana tubuh manusia merespons panas, dan terlebih lagi dalam kasus atlet yang menghadapi pengerahan fisik secara terus-menerus sementara juga memiliki tingkat pengkondisian fisik dan pelatihan yang jauh di atas populasi umum," pungkas James Begg, peneliti di Galson Sciences.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
LSM/Figur
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
Pemerintah
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Pemerintah
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun  bagi Perekonomian Global
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global
Pemerintah
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Pemerintah
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau