Bersama-sama, para peneliti menyelidiki di mana dan seberapa luas padang rumput serta lahan alami (bukan hutan) berubah menjadi lahan pertanian dan penggembalaan antara tahun 2005 hingga 2020.
Mereka juga melacak produk pertanian apa yang dihasilkan dari lahan tersebut, serta ke mana produk itu dikirim dan untuk apa digunakan.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa ekosistem alami ini diubah menjadi lahan pertanian dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Penyebab utamanya adalah tingginya permintaan pasar, baik lokal maupun internasional, akan berbagai produk pertanian, terutama daging, serealia, kacang-kacangan, dan biji penghasil minyak.
Analisis tim peneliti menunjukkan bahwa selama periode studi 15 tahun, padang rumput dan lahan basah diubah fungsinya hampir empat kali lebih cepat dibandingkan area berhutan.
Baca juga:
Brasil memimpin dunia dengan 13 persen wilayah yang terdampak, diikuti oleh Rusia, India, China, dan Amerika Serikat dengan masing-masing sekitar enam persen.
Penelitian juga menunjukkan risiko yang ditimbulkan oleh konversi lahan pertanian di masing-masing wilayah, mengidentifikasi ekosistem alami non-hutan yang sangat perlu dilindungi, serta menawarkan saran mengenai langkah awal untuk melakukan perubahan di sepanjang rantai pasok global.
Para peneliti menyerukan kebijakan politik yang lebih terkoordinasi dan tanggung jawab yang lebih besar dari pihak produsen maupun konsumen dalam rantai pasok yang terhubung secara internasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya