KOMPAS.com -Selain hutan, padang rumput dan lahan basah di seluruh dunia saat ini semakin cepat dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dan tempat penggembalaan ternak.
Tim peneliti internasional untuk pertama kalinya menganalisis lokasi, untuk apa, dan seberapa cepat ekosistem alami, selain hutan, yang diubah menjadi lahan pertanian secara global.
Baca juga:
Hasilnya menunjukkan bahwa area alami yang sangat berharga bagi alam ini ternyata diubah empat kali lebih cepat daripada hutan, dilansir dari Phys.org, Sabtu (28/2/2026).
Studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menekankan perlunya strategi konservasi yang lebih menyeluruh.
Strategi itu tidak hanya berfokus pada hutan, tapi juga mempertimbangkan pola konsumsi dan struktur permintaan pasar internasional.
Studi menunjukkan, padang rumput dan lahan basah dialihfungsikan jadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dari hutan. Simak alasannya.Padang rumput lebih dari sekadar "ruang hijau". Sekitar 20 hingga 35 persen karbon yang diserap di seluruh dunia tersimpan dalam ekosistem ini. Padang rumput berkontribusi dalam memitigasi perubahan iklim.
Pada saat yang sama, sekitar 33 persen hotspot keanekaragaman hayati dunia terletak di wilayah padang rumput.
"Entah itu untuk penyimpanan air, perlindungan terhadap erosi tanah, atau sebagai habitat bagi tak terhitung banyaknya spesies hewan dan tumbuhan, padang rumput menyediakan layanan ekosistem penting yang secara langsung memberikan manfaat bagi masyarakat lokal maupun iklim global," jelas penulis utama studi, Dr. Siyi Kan dari Senckenberg Biodiversity and Climate Research Center di Frankfurt, Jerman.
Meskipun sudah banyak penelitian yang dilakukan mengenai deforestasi beserta penyebab dan dampaknya, konversi ekosistem non-hutan, terutama yang berkaitan dengan peternakan dan permintaan produk pertanian global, selama ini hampir belum pernah diteliti.
Martin Persson dari Chalmers University of Technology di Swedia menjelaskan, temuan ini menunjukkan perlunya fokus tidak hanya pada hutan tropis, tapi juga pada jenis ekosistem lain yang menyimpan keanekaragaman hayati yang besar dan menyimpan karbon dalam jumlah banyak.
Hal itu berbeda dengan deforestasi yang didorong oleh perluasan lahan pertanian yang terutama terjadi di negara-negara tropis.
Sebagian besar perluasan lahan pertanian saat ini terjadi di padang rumput dan ekosistem lain di negara-negara seperti Rusia, China, Amerika Serikat, dan di dalam wilayah Uni Eropa.
Baca juga:
Studi menunjukkan, padang rumput dan lahan basah dialihfungsikan jadi lahan pertanian empat kali lebih cepat dari hutan. Simak alasannya.Bersama-sama, para peneliti menyelidiki di mana dan seberapa luas padang rumput serta lahan alami (bukan hutan) berubah menjadi lahan pertanian dan penggembalaan antara tahun 2005 hingga 2020.
Mereka juga melacak produk pertanian apa yang dihasilkan dari lahan tersebut, serta ke mana produk itu dikirim dan untuk apa digunakan.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa ekosistem alami ini diubah menjadi lahan pertanian dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Penyebab utamanya adalah tingginya permintaan pasar, baik lokal maupun internasional, akan berbagai produk pertanian, terutama daging, serealia, kacang-kacangan, dan biji penghasil minyak.
Analisis tim peneliti menunjukkan bahwa selama periode studi 15 tahun, padang rumput dan lahan basah diubah fungsinya hampir empat kali lebih cepat dibandingkan area berhutan.
Baca juga:
Brasil memimpin dunia dengan 13 persen wilayah yang terdampak, diikuti oleh Rusia, India, China, dan Amerika Serikat dengan masing-masing sekitar enam persen.
Penelitian juga menunjukkan risiko yang ditimbulkan oleh konversi lahan pertanian di masing-masing wilayah, mengidentifikasi ekosistem alami non-hutan yang sangat perlu dilindungi, serta menawarkan saran mengenai langkah awal untuk melakukan perubahan di sepanjang rantai pasok global.
Para peneliti menyerukan kebijakan politik yang lebih terkoordinasi dan tanggung jawab yang lebih besar dari pihak produsen maupun konsumen dalam rantai pasok yang terhubung secara internasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya