Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 20:39 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Upaya global untuk memperluas penggunaan energi surya ternyata bisa membawa dampak buruk yang tersembunyi bagi keanekaragaman hayati.

Hal ini diungkapkan dalam penelitian di China yang diterbitkan di jurnal Science.

Melansir Phys, Kamis (20/8/2026) berdasarkan penelitian yang mencakup lebih dari 2.300 wilayah di China, kebijakan yang mendukung energi surya justru menyebabkan penurunan jumlah jenis burung.

Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai "dilema hijau" yaitu persimpangan antara mengurangi emisi karbon atau menjaga kelestarian alam.

"Pesan utamanya bukan untuk memperlambat peralihan ke energi terbarukan, melainkan agar pembangunan proyek surya lebih memperhatikan lingkungan," kata penulis utama penelitian, Huiming Zhang dari Nanjing University of Information Science & Technology.

Baca juga: Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai

Menurunnya keanekaragaman burung

Target China untuk mencapai bebas emisi sebelum tahun 2060 memang telah memicu revolusi besar-besaran dalam penggunaan energi terbarukan.

Pada tahun 2024, luas lahan yang tertutup panel surya di China diperkirakan mencapai 4.520 kilometer persegi. Energi surya ini diproyeksikan akan menyumbang 45 persen dari total pasokan listrik China pada tahun 2060.

Penentuan lokasi proyek energi surya di China tidak hanya didasarkan pada daerah yang terik dan ketersediaan lahan, tetapi juga diatur oleh "Rencana Lima Tahun" pemerintah untuk mendongkrak ekonomi di wilayah tertentu.

Zhang dan timnya meneliti perbedaan kebijakan proyek surya ini di 2.344 wilayah kabupaten di China dari tahun 2014 hingga 2023. Dalam riset ini, mereka juga memperhitungkan faktor iklim, kondisi ekonomi-sosial, penggunaan lahan, hingga kebiasaan warga dalam mengamati burung.

Data tersebut kemudian digabungkan dengan catatan pengamatan warga untuk memahami dampaknya terhadap keanekaragaman jenis burung.

Temuan mereka menunjukkan adanya dampak buruk dari proyek ini yakni semakin ketat dan gencar kebijakan pembangunan panel surya, semakin turun jumlah dan keanekaragaman burung di daerah tersebut, meskipun penurunannya masih terbilang sedang.

Dengan menggunakan skala 0 hingga 15,5 untuk mengukur seberapa kuat kebijakan proyek surya, studi ini menemukan bahwa setiap kenaikan 4 poin pada kekuatan kebijakan berhubungan dengan penurunan 2 persen pada tingkat keanekaragaman jenis burung.

Alih fungsi lahan yang terlalu cepat menjadi penyebab utamanya terutama pengubahan lahan pertanian dan padang rumput menjadi kawasan proyek. Dampak ini jauh lebih parah di wilayah yang kaya dan daerah non-gurun.

Baik burung lokal maupun burung migran mengalami penurunan populasi yang cukup besar. Namun, spesies burung yang tinggal di habitat pegunungan tidak terdampak karena wilayah gunung memang tidak cocok untuk dibangun ladang panel surya.

Baca juga: China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030

Penghijauan kualitas rendah

Dorongan pembangunan ladang surya memang disertai upaya penghijauan demi memenuhi aturan lingkungan. Namun, para peneliti menemukan fenomena penghijauan kualitas rendah. Itu merupakan kondisi di mana dedaunan tampak makin rimbun, tetapi karena jenis tanamannya seragam, mutu lingkungan justru menurun.

"Burung adalah petunjuk yang sangat baik untuk menilai kelestarian alam secara luas karena data jumlah dan keberadaan burung paling mudah ditemukan dibanding hewan lainnya," jelas Yuanning Liang dari Peking University.

Ia menambahkan, meski penelitian ini berfokus pada panel surya, masalah pemilihan lokasi proyek ini juga berlaku untuk fasilitas energi terbarukan lainnya, termasuk kincir angin.

Tim peneliti memberikan beberapa saran, di antaranya mengarahkan proyek surya skala besar ke lokasi yang minim risiko kerusakan lingkungan, melakukan pemeriksaan lokasi yang lebih teliti, serta membatasi alih fungsi lahan di daerah yang subur dan kaya akan tempat tinggal hewan.

"Pembangunan energi bersih dan perlindungan kelestarian alam tidak harus saling mengorbankan, tetapi pemilihan lokasi yang cermat dan perlindungan ekosistem adalah hal yang wajib dilakukan," ujar Zhang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Pemerintah
Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
Pemerintah
Swasembada Energi dan Janji Net Zero Emissions
Swasembada Energi dan Janji Net Zero Emissions
Pemerintah
Atasi Darurat Sampah, Model Kemitraan TPS3R dan Industri Tekan Penumpukan di TPA
Atasi Darurat Sampah, Model Kemitraan TPS3R dan Industri Tekan Penumpukan di TPA
Swasta
Keanekaragaman Hayati Jadi Modal Ekonomi Baru Indonesia
Keanekaragaman Hayati Jadi Modal Ekonomi Baru Indonesia
LSM/Figur
Putus Rantai TBC, Universitas Pakuan Perkuat Deteksi Dini di Bogor
Putus Rantai TBC, Universitas Pakuan Perkuat Deteksi Dini di Bogor
LSM/Figur
Ekspor Monyet Ekor Panjang Dinilai Tak Sejalan dengan Tren Riset Tanpa Hewan
Ekspor Monyet Ekor Panjang Dinilai Tak Sejalan dengan Tren Riset Tanpa Hewan
LSM/Figur
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau