BANDUNG, KOMPAS.com - Limbah pertanian dan kehutanan yang selama ini kerap berakhir dibakar atau menjadi sampah residu mulai dilirik sebagai bahan baku untuk menciptakan material bernilai tambah.
Di Bandung, perusahaan rintisan bioteknologi Mycotech Lab (MYCL) mengolah limbah pertanian dan kehutanan menjadi biomaterial berbasis jaringan akar jamur atau miselium.
Sementara itu, Parongpong RAW Lab mengembangkan material dari sampah anorganik yang sulit didaur ulang, seperti jaring nelayan bekas, puntung rokok, hingga sampah kemasan multilayer.
Baca juga: PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular hingga Hilirisasi di Cilegon
Keduanya mengembangkan pendekatan serupa: memanfaatkan jenis limbah yang paling sulit terserap oleh industri lain untuk menciptakan produk baru sekaligus memperpanjang siklus pemanfaatannya.
Co-founder MYCL Ronaldiaz Hartantyo mengatakan, perusahaan sengaja mencari limbah yang paling tersisa agar tidak berkompetisi dengan industri lain dalam memperoleh bahan baku.
"Sebenarnya kalau dari limbah, kami pakenya waste of the waste. Jadi, kami enggak mau berkompetisi sama industri lain. Paling sisa. Kami cari yang availability-nya paling banyak, tetapi masih masuk, seperti tengkawang, albasia, atau ini kelapa sawit, kami mencari yang masih limbah banget," ujar Ronaldiaz, Kamis (20/8/2026).
MYCL mengembangkan biomaterial dengan membudidayakan miselium jamur menggunakan nutrisi yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan lokal.
Hingga 2026, perusahaan telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara dan mengembangkan aplikasi material untuk berbagai kebutuhan, mulai dari fesyen dan insulasi bangunan hingga solusi berbasis miselium untuk teknologi bernilai tambah tinggi.
MYCL juga telah menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas. Hal ini menunjukkan semakin terbukanya pasar global terhadap pengembangan biomaterial dari Asia Tenggara.
Dalam proses produksinya, MYCL dapat memanfaatkan berbagai jenis limbah pertanian dan kehutanan, termasuk limbah dari perkebunan kelapa sawit yang belum banyak dimanfaatkan.
Pendekatan tersebut tidak hanya menghasilkan material alternatif, tetapi juga memperpanjang masa pemanfaatan limbah sebelum akhirnya masuk ke tahap penggunaan berikutnya.
"Yang lucu, kalau misalnya dipakai biomassa oleh mereka kan ya sudah langsung dibakar. Kalau kami prolonged cycle gitu. Jadi ya sudah kami pakai dulu, nanti habis dari situ mau jadi biomassa bisa," tutur Ronaldiaz.
Melalui model tersebut, MYCL juga berupaya membangun rantai nilai yang melibatkan masyarakat di sekitar sumber bahan baku.
Baca juga: Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Perusahaan tercatat memberikan manfaat kepada lebih dari 200 petani dan sekitar 600 penerima manfaat tidak langsung dari keluarga petani. Selain itu, MYCL Eco Factory menciptakan sekitar 60 lapangan kerja hijau.
Meski bahan baku tersedia melimpah, pengembangan biomaterial di Indonesia masih menghadapi persoalan ekosistem.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya