Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hidrogen Hijau Terancam Gagal Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Kompas.com, 5 Maret 2026, 16:12 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber TechXplore

KOMPAS.com - Hidrogen hijau berisiko gagal menjadi bahan bakar yang benar-benar berkelanjutan.

Sebagai landasan strategi nol emisi bersih (net zero emission/NZE) di seluruh dunia, hidrogen hijau perlu didukung dengan partisipasi negara-negara dalam melakukan dekarbonisasi jaringan energi mereka secara cepat.

Baca juga:

Studi terbaru menyoroti peran penting bauran energi nasional dalam menentukan tingkat emisi gas rumah kaca (GRK), yang terlibat dalam produksi bahan bakar dan dampaknya terhadap lingkungan.

Apalagi, hidrogen hijau dapat berperan penting dalam transisi energi bersih jika listrik untuk produksinya berasal dari sumber yang benar-benar rendah karbon.

Hidrogen hijau berisiko gagal jadi bahan bakar berkelanjutan

Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil jadi kunci

Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.Freepik Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Communications Sustainability ini menunjukkan, hidrogen hijau bisa memenuhi "janjinya" kalau seluruh rantai pasokan dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan.

Hidrogen hijau dapat menjadi jawaban untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor. Namun, saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.

"Kita tidak akan berhasil menggunakan hidrogen untuk mencapai nol emisi bersih, jika bahan bakar fosil masih memainkan peran yang sangat besar dalam rantai pasokan hidrogen," ujar Profesor Manajemen Operasi di Universitas Sheffield, Lenny Koh, dilansir dari TechXplore, Kamis (5/3/2026).

Koh memimpin para peneliti dalam mengevaluasi 20 skenario yang mungkin untuk memproduksi dan mengangkut hidrogen hijau di 14 negara selama periode tahun 2023-2050.

Sebanyak 14 negara yang dipilih merupakan pemimpin dunia dalam pengembangan hidrogen, termasuk Inggris, Jepang, China, Perancis, Norwegia, Kanada, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat (AS), Austria, Irlandia, Polandia, Italia, dan Belanda.

Studi tersebut berfokus pada lima cara berbeda untuk membuat bahan bakar hidrogen yaitu tiga menggunakan elektrolisis dan dua lainnya sistem biomassa, metode produksi utama saat ini secara global.

Temuan dari studi mengungkapkan, teknologi elektrolisis menghasilkan emisi GRK tertinggi pada tahun 2023. Tahap pengoperasian, pemeliharaan, dan manufakturnya intensif energi, dengan jaringan listrik yang sebagian besar ditenagai oleh minyak, gas, atau batu bara.

Baca juga:

Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.SHUTTERSTOCK/SMALL SMILES Saat ini, sekitar 96 persen hidrogen masih diproduksi menggunakan listrik yang berasal dari energi fosil.

Namun, produksi hidrogen melalui membran pertukaran proton, sejenis elektrolisis, bisa menjadi pilihan paling berkelanjutan pada tahun 2050. Syaratnya, jaringan listrik yang memasok telah beralih dari fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Banyak skenario dalam studi ini memproyeksikan pengurangan emisi GRK yang signifikan pada 2050, selama jaringan listrik menjadi lebih bersih dan negara-negara beralih ke energi terbarukan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau