Penulis
KOMPAS.com - Hidrogen dikenal sebagai energi masa depan dan alternatif dari bahan bakar fosil. Sebab, saat digunakan, hidrogen hanya menghasilkan uap air.
Namun, penelitian terbaru di jurnal Nature menunjukkan, hidrogen ternyata turut berperan dalam pemanasan global karena membantu metana, gas rumah kaca yang kuat, bertahan lebih lama di atmosfer.
Baca juga:
"Kita memerlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang siklus hidrogen global dan hubungannya dengan pemanasan global untuk mendukung ekonomi hidrogen yang aman bagi iklim dan berkelanjutan," kata penulis utama penelitian tersebut, sekaligus ilmuwan dari Universitas Stanford, Rob Jackson, dilansir dari AFP, Jumat (19/12/2025).
Hidrogen dikenal sebagai energi masa depan, tapi penelitian menunjukkan gas ini berkontribusi pada kenaikan suhu bumi. Bagaimana cara menanganinya?Menurut penelitian tersebut, emisi hidrogen mengalami kenaikan antara tahun 1990 dan 2020, serta berkontribusi sebesar 0,02 derajat celsius terhadap kenaikan suhu rata-rata sebesar 1,5 derajat Celsius sejak periode pra-industri.
Dilakukan oleh konsorsium ilmuwan internasional Global Carbon Project, penelitian ini menemukan, peningkatan emisi hidrogen sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.
Peningkatan tersebut berhubungan dengan peningkatan emisi metana yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil, ternak, dan tempat pembuangan sampah.
Adapun kedua molekul tersebut saling terkait, tepatnya metana menghasilkan hidrogen saat terurai di atmosfer.
Meskipun hidrogen bukan polutan, gas ini secara tidak langsung berkontribusi terhadap pemanasan global dengan menyerap detergents (pembersih) alami yang menghancurkan metana.
"Semakin banyak hidrogen berarti semakin sedikit detergents di atmosfer, menyebabkan metana bertahan lebih lama dan, oleh karena itu, memanaskan iklim lebih lama," kata penulis utama studi tersebut dan asisten profesor ecosystem modelling di Auburn University di Alabama, Zutao Ouyang.
Interaksinya dengan detergents alami juga memengaruhi pembentukan awan, serta menghasilkan gas rumah kaca seperti ozon dan uap air stratosfer.
Baca juga:
Sumber lainnya yang menyebabkan hidrogen di atmosfer sejak tahun 1990 adalah kebocoran produksi hidrogen industri.
Hidrogen dapat diproduksi dengan mengalirkan arus listrik melalui air untuk memisahkannya menjadi hidrogen dan oksigen, suatu proses yang disebut elektrolisis.
Saat ini, sebagian besar hidrogen masih diproduksi dari gas alam dan batu bara. Proses ini membutuhkan energi besar dan menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah tinggi.
Tujuan utamanya adalah memproduksi hidrogen "hijau" secara massal menggunakan energi terbarukan, tapi prosesnya mahal dan sektor ini menghadapi berbagai hambatan yang signifikan.
Temuan ini tidak berarti hidrogen harus ditinggalkan. Penelitian ini bisa menjadi peringatan awal tentang pengelolaan yang tepat.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya