Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Singapura Latih 100.000 Pekerja agar Mahir AI, Bagaimana Indonesia?

Kompas.com, 6 Maret 2026, 10:39 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Singapura mengupayakan akuntan, resepsionis, perawat, pengacara, dan pekerja profesional lainnya mahir mengoperasikan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk memecahkan masalah di dunia nyata. Sekitar 100.000 pekerja akan dilatih pada 2029.

"Tidak semua dari kita bisa menjadi insinyur kecerdasan buatan (AI). Namun, kita bisa menjadi ‘bilingual’ dalam AI dan bidang keahlian kita sendiri, untuk memecahkan masalah di bidang kita masing-masing," kata Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, dilansir dari Straits Times, Jumat (6/3/2026).

Berkaca dari keputusan Singapura, apakah Indonesia patut meniru langkah negara tetangga?

Baca juga:

Singapura latih pekerja agar mahir AI, Indonesia bagaimana?

Pergeseran struktur tenaga kerja bisa terjadi

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, perkembangan adopsi teknologi AI yang cepat memang tidak dapat dihindari.

Ke depannya, adopsi AI di Indonesia akan semakin meluas ke berbagai sektor, khususnya terkait peningkatan produktivitas.

Di sisi lain, perkembangan adopsi AI di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk dari aspek ketenagakerjaan.

"Akan ada pergeseran struktur tenaga kerja, seperti yang disampaikan, ada jenis-jenis pekerjaan yang bisa digantikan (AI). Misalnya, yang bersifat administratif, (ada pula) yang lebih cepat dikerjakan dengan adopsi AI," ujar Eisha kepada Kompas.com, Kamis (5/3/2026).

Pekerja Indonesia tetap butuh pelatihan AI

Singapura targetkan 100.000 pekerja mahir AI pada 2029. Simak analisis pengamat soal tantangan reskilling dan nasib tenaga kerja di Indonesia.Dok. Unsplash/solenfeyissa Singapura targetkan 100.000 pekerja mahir AI pada 2029. Simak analisis pengamat soal tantangan reskilling dan nasib tenaga kerja di Indonesia.

Menurut Eisha, nantinya pekerja di Indonesia tetap membutuhkan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi dan mengadopsi AI.

Negara juga perlu mengadakan pelatihan AI bagi pekerjanya untuk penambahan keterampilan baru dalam peran berbeda (reskilling) dan peningkatan keahlian agar lebih mahir (upskilling). 

"Indonesia perlu melihat kebutuhan tenaga kerja industri ke depan serta memfasilitasi training peningkatan kapasitas agar dapat memenuhi kebutuhan industri ke depan yang akan lebih luas mengadopsi AI," tutur Eisha.

Perkembangan teknologi dan adopsi AI akan memicu "gelombang" pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia pada berbagai sektor yang bisa digantikan.

Sebaliknya, AI juga membuka lapangan pekerjaan di Indonesia untuk berbagai sektor ekonomi yang bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi ini.

"Akan ada pergeseran sektor ekonomi, dari yang tidak produktif ke sektor yang produktif. Di sektor yang tidak produktif, akan banyak PHK. Di sektor produktif, yang mengadopsi AI, akan tersedia lebih banyak pekerjaan karena sektornya sedang booming," ucapnya.

Pergeseran tersebut akan menjadi lancar ketika tenaga kerja di Indonesia mampu menyesuaikan dengan keterampilan yang dibutuhkan pada sektor-sektor ekonomi baru.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu membantu proses pergeseran ini dengan memfasilitasi pelatihan untuk peningkatan keterampilan yang dibutuhkan di ekonomi sektor-sektor baru.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau