KOMPAS.com - Singapura mengupayakan akuntan, resepsionis, perawat, pengacara, dan pekerja profesional lainnya mahir mengoperasikan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk memecahkan masalah di dunia nyata. Sekitar 100.000 pekerja akan dilatih pada 2029.
"Tidak semua dari kita bisa menjadi insinyur kecerdasan buatan (AI). Namun, kita bisa menjadi ‘bilingual’ dalam AI dan bidang keahlian kita sendiri, untuk memecahkan masalah di bidang kita masing-masing," kata Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, dilansir dari Straits Times, Jumat (6/3/2026).
Berkaca dari keputusan Singapura, apakah Indonesia patut meniru langkah negara tetangga?
Baca juga:
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan, perkembangan adopsi teknologi AI yang cepat memang tidak dapat dihindari.
Ke depannya, adopsi AI di Indonesia akan semakin meluas ke berbagai sektor, khususnya terkait peningkatan produktivitas.
Di sisi lain, perkembangan adopsi AI di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk dari aspek ketenagakerjaan.
"Akan ada pergeseran struktur tenaga kerja, seperti yang disampaikan, ada jenis-jenis pekerjaan yang bisa digantikan (AI). Misalnya, yang bersifat administratif, (ada pula) yang lebih cepat dikerjakan dengan adopsi AI," ujar Eisha kepada Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Singapura targetkan 100.000 pekerja mahir AI pada 2029. Simak analisis pengamat soal tantangan reskilling dan nasib tenaga kerja di Indonesia.Menurut Eisha, nantinya pekerja di Indonesia tetap membutuhkan keterampilan dalam mengoperasikan teknologi dan mengadopsi AI.
Negara juga perlu mengadakan pelatihan AI bagi pekerjanya untuk penambahan keterampilan baru dalam peran berbeda (reskilling) dan peningkatan keahlian agar lebih mahir (upskilling).
"Indonesia perlu melihat kebutuhan tenaga kerja industri ke depan serta memfasilitasi training peningkatan kapasitas agar dapat memenuhi kebutuhan industri ke depan yang akan lebih luas mengadopsi AI," tutur Eisha.
Perkembangan teknologi dan adopsi AI akan memicu "gelombang" pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia pada berbagai sektor yang bisa digantikan.
Sebaliknya, AI juga membuka lapangan pekerjaan di Indonesia untuk berbagai sektor ekonomi yang bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi ini.
"Akan ada pergeseran sektor ekonomi, dari yang tidak produktif ke sektor yang produktif. Di sektor yang tidak produktif, akan banyak PHK. Di sektor produktif, yang mengadopsi AI, akan tersedia lebih banyak pekerjaan karena sektornya sedang booming," ucapnya.
Pergeseran tersebut akan menjadi lancar ketika tenaga kerja di Indonesia mampu menyesuaikan dengan keterampilan yang dibutuhkan pada sektor-sektor ekonomi baru.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia perlu membantu proses pergeseran ini dengan memfasilitasi pelatihan untuk peningkatan keterampilan yang dibutuhkan di ekonomi sektor-sektor baru.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya