KOMPAS.com - Tren peningkatan penggunaan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) oleh perusahaan dikhawatirkan dapat menghilangkan banyak lapangan pekerjaan.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dipicu adopsi AI oleh perusahaan telah terjadi di Amerika Serikat (AS). Misalnya, Amazon yang telah melakukan PHK terhadap ribuan pekerjanya dan mengganti posisi mereka dengan AI.
Baca juga:
Namun, alih-alih memicu gelombang PHK, European Central Bank (ECB) justru menyebut, tren peningkatan penggunaan AI oleh perusahaan kemungkinan justru menciptakan lapangan pekerjaan.
Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.Berdasarkan survei ECB tentang Access to Finance of Enterprises (Akses ke Pembiayaan Perusahaan), investasi dan penggunaan intensif AI saat ini belum menggantikan pekerja.
Bahkan, beberapa perusahaan justru merekrut karyawan tambahan, kemungkinan karena ingin mengembangkan dan menerapkan teknologi AI sembari mempertahankan proses produksi yang ada.
Kondisi itu mengingat AI diperlakukan sebagai alat untuk membantu perusahaan meningkatkan skala produksi dengan lebih cepat.
Dalam satu tahun ke depan, perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI, masih akan merekrut lebih banyak orang daripada yang perusahaan yang tidak berjalan ke arah yang sama.
Beberapa perusahaan kemungkinan memang menggunakan AI untuk menggantikan pekerja. Kendati demikian, perusahaan umumnya lebih cenderung merekrut staf tambahan untuk memungkinkan mereka menggunakan dan berinvestasi dalam AI.
"Perusahaan yang banyak menggunakan AI sekitar empt lebih mungkin untuk merekrut staf tambahan. Dengan kata lain, perusahaan yang banyak menggunakan AI cenderung, rata-rata, lebih banyak merekrut daripada memecat," demikian keterangan dalam laman resminya, yang ditulis oleh dua staf ekonom ECB, Laura Lebastard dan David Sondermann, dilansir dari Reuters dan ECB, Kamis (5/3/2026).
Baca juga:
Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.Perusahaan yang berencana berinvestasi di AI juga cenderung memiliki ekspektasi positif terhadap pertumbuhan lapangan kerja masa depan, bahkan ketika ekspektasi investasi keseluruhan perusahaan mereka telah diperhitungkan.
Apalagi, penghentian dalam perekrutan karyawan karena investasi AI yang direncanakan tidak mungkin terjadi dalam satu tahun ke depan.
Namun, temuan dari survei ECB ini bisa berubah dalam jangka waktu yang berbeda. Sebagai referensi, studi terbaru dari Institut Ifo mengungkapkan, lebih dari seperempat perusahaan Jerman memperkirakan AI akan menyebabkan PHK dalam lima tahun ke depan.
Diketahui, survei ECB melibatkan 5.000 responden perusahaan di Eropa, dengan dua pertiganya melaporkan bahwa karyawan mereka menggunakan AI.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya