Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi.
Di situlah, kata dia, kekuatan kuliner Nusantara menemukan maknanya.
“Bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya,” lanjutnya.
Tahun ini, Indonesia Kaya mengajak pencinta kuliner berkunjung ke Ternate, Palembang, dan Banten melalui episode terbaru webseries tersebut. Ketiga daerah itu dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan budaya Indonesia.
“Melalui tayangan ini masyarakat diharapkan dapat melihat kuliner sebagai bagian dari identitas dan warisan yang perlu terus dikenalkan serta diapresiasi oleh generasi sekarang maupun mendatang,” kata Renitasari.
Baca juga: Pentingnya Menjaga dan Mencatat Kuliner Nusantara, Pengaruhi Masa Depan
Jika Palembang mengajarkan kesabaran lewat kukusan delapan jam, Ternate menghadirkan cerita berbeda. Kota yang sejak lama dikenal sebagai pulau rempah ini menyimpan tradisi memasak yang lahir dari kemampuan beradaptasi dengan alam.
Bagi masyarakat Ternate, ruang memasak pada mulanya bukan dapur konvensional, melainkan bentang hutan. Dari lingkungan alam itulah muncul pemahaman bahwa mengolah makanan adalah strategi untuk bertahan hidup.
Tradisi itu dikenal dengan nama Rimo-rimo. Metode memasak ini menggunakan bambu sebagai wadah alami, lalu dipanggang di atas bara api.
Teknik tersebut muncul dari kebutuhan masyarakat yang harus memasak saat berada di hutan tanpa peralatan dapur. Bambu dipotong, diisi bahan makanan, kemudian dipanggang perlahan hingga matang.
Panas dari dinding bambu mematangkan isi sekaligus memberi aroma khas pada makanan. Cara ini sederhana, tetapi mencerminkan kecerdikan masyarakat dalam memanfaatkan alam.
Kini, Rimo-rimo hadir dalam berbagai olahan seperti ayam rempah, ikan kerapu kuah kuning kenari, sayur lilin ikan tuna, hingga singkong ngo. Hidangan ini bahkan menjadi salah satu kuliner yang dicari wisatawan saat ebrkunjung ke Ternate.
Baca juga: Melindungi Budaya Kuliner Nusantara
Namun pada awalnya hidangan ini bukan lahir dari pariwisata, melainkan dari kebutuhan bertahan hidup. Dari keterbatasan itulah lahir teknik memasak yang kini menjadi identitas.
Selain Rimo-rimo, Ternate juga dikenal dengan Gohu Ikan. Hidangan ini memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap bahan pangan.
Kata “gohu” berarti mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah. Karena itu, ikan yang disajikan tidak melalui proses pemasakan.
Gohu Ikan dibuat dari daging tuna atau cakalang yang dipotong kecil, lalu dilumuri garam dan perasan lemon cui. Daun kemangi ditambahkan untuk menghadirkan cita rasa segar dan khas.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya