Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kue Delapan Jam, "Waktu" Jadi Bahan Utama

Kompas.com, 6 Maret 2026, 14:19 WIB
Yakob Arfin T Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi.

Di situlah, kata dia, kekuatan kuliner Nusantara menemukan maknanya.

“Bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya,” lanjutnya.

Tahun ini, Indonesia Kaya mengajak pencinta kuliner berkunjung ke Ternate, Palembang, dan Banten melalui episode terbaru webseries tersebut. Ketiga daerah itu dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan budaya Indonesia.

“Melalui tayangan ini masyarakat diharapkan dapat melihat kuliner sebagai bagian dari identitas dan warisan yang perlu terus dikenalkan serta diapresiasi oleh generasi sekarang maupun mendatang,” kata Renitasari.

Baca juga: Pentingnya Menjaga dan Mencatat Kuliner Nusantara, Pengaruhi Masa Depan

Cara bertahan di tengah rimba

Jika Palembang mengajarkan kesabaran lewat kukusan delapan jam, Ternate menghadirkan cerita berbeda. Kota yang sejak lama dikenal sebagai pulau rempah ini menyimpan tradisi memasak yang lahir dari kemampuan beradaptasi dengan alam.

Bagi masyarakat Ternate, ruang memasak pada mulanya bukan dapur konvensional, melainkan bentang hutan. Dari lingkungan alam itulah muncul pemahaman bahwa mengolah makanan adalah strategi untuk bertahan hidup.

Tradisi itu dikenal dengan nama Rimo-rimo. Metode memasak ini menggunakan bambu sebagai wadah alami, lalu dipanggang di atas bara api.

Teknik tersebut muncul dari kebutuhan masyarakat yang harus memasak saat berada di hutan tanpa peralatan dapur. Bambu dipotong, diisi bahan makanan, kemudian dipanggang perlahan hingga matang.

Panas dari dinding bambu mematangkan isi sekaligus memberi aroma khas pada makanan. Cara ini sederhana, tetapi mencerminkan kecerdikan masyarakat dalam memanfaatkan alam.

Kini, Rimo-rimo hadir dalam berbagai olahan seperti ayam rempah, ikan kerapu kuah kuning kenari, sayur lilin ikan tuna, hingga singkong ngo. Hidangan ini bahkan menjadi salah satu kuliner yang dicari wisatawan saat ebrkunjung ke Ternate.

Baca juga: Melindungi Budaya Kuliner Nusantara

Namun pada awalnya hidangan ini bukan lahir dari pariwisata, melainkan dari kebutuhan bertahan hidup. Dari keterbatasan itulah lahir teknik memasak yang kini menjadi identitas.

Selain Rimo-rimo, Ternate juga dikenal dengan Gohu Ikan. Hidangan ini memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap bahan pangan.

Kata “gohu” berarti mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah. Karena itu, ikan yang disajikan tidak melalui proses pemasakan.

Gohu Ikan dibuat dari daging tuna atau cakalang yang dipotong kecil, lalu dilumuri garam dan perasan lemon cui. Daun kemangi ditambahkan untuk menghadirkan cita rasa segar dan khas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau