KOMPAS.com - Kue Delapan Jam menjadi salah satu kuliner khas Palembang yang dikenal karena proses memasaknya yang panjang, yakni hingga delapan jam. Kue berbahan dasar telur ini bukan hanya populer sebagai sajian hari raya, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Seperti namanya, kue ini dimasak selama delapan jam penuh hingga menghasilkan tekstur lembut dengan warna coklat keemasan. Prosesnya tidak bisa tergesa, karena panas kukusan harus dijaga stabil selama berjam-jam.
Sebab, yang jadi proses dalam pembuatan kue bukan hanya soal waktu, melainkan juga soal ketelitian, mulai dari ketelitian pencampuran bahan baku dengan puluhan butir telur hingga panas kukusan yang harus dijaga stabil selama berjam-jam.
Adonan kue dibuat dari telur, gula, dan susu kental manis. Jumlah telur yang digunakan pun tidak sedikit, bisa mencapai puluhan butir untuk menghasilkan tekstur yang padat tetapi lembut.
Jika panas terlalu besar, adonan bisa berlubang atau pecah. Karena itu, proses memasaknya membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Di tengah budaya serbainstan, Kue Delapan Jam seakan pengingat bahwa rasa terbaik lahir dari ketekunan. Waktu menjadi bahan utama yang tak tertulis dalam resep.
Di Palembang, kue ini kerap hadir dalam momen penting, mulai dari Lebaran hingga perayaan keluarga. Ia bukan sekadar sajian manis, tetapi juga simbol kematangan dan kecermatan dalam tradisi kuliner setempat.
Tradisi itu menunjukkan bahwa kuliner Nusantara tak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap teknik memasak, ada nilai hidup yang diwariskan lintas generasi.
Baca juga: Kluwek: Rahasia Kepayang pada Kuliner Nusantara
Upaya merekam nilai-nilai tersebut terus diinisiasi Indonesia Kaya melalui program Kuliner Indonesia Kaya. Sejak 2017, program ini konsisten mendokumentasikan ragam kuliner khas Nusantara dalam format audiovisual.
Pada episode terbaru yang tayang tahun ini, Kuliner Indonesia Kaya mengangkat tiga kota dengan sejarah kuliner kuat, yakni Ternate, Palembang, dan Banten. Ketiganya dipilih karena menyimpan kekayaan rasa sekaligus jejak panjang perjalanan budaya di Indonesia.
Melalui webseries yang dapat disaksikan di kanal YouTube IndonesiaKaya, penonton diajak menelusuri bagaimana rasa menjadi bagian dari perjalanan budaya Nusantara.
Rasa terbentuk dari pertemuan berbagai peradaban, jalur perdagangan, serta proses akulturasi yang membentuk identitas masyarakat dari masa ke masa.
Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa dokumentasi ini tidak hanya menampilkan kelezatan hidangan, tetapi juga cerita yang melatarbelakanginya.
Menurut dia, setiap hidangan selalu menyimpan cerita panjang yang jarang terungkap.
Baca juga: Spesies Cecak Ini Diberi Nama Pecel Madiun, Kenalkan Kuliner Nusantara Lewat Sains
“Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kami ingin terus menghadirkan dokumentasi yang tidak hanya menampilkan kelezatan sebuah hidangan, tetapi juga menggali cerita di baliknya,” ujar Renitasari dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi.
Di situlah, kata dia, kekuatan kuliner Nusantara menemukan maknanya.
“Bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya,” lanjutnya.
Tahun ini, Indonesia Kaya mengajak pencinta kuliner berkunjung ke Ternate, Palembang, dan Banten melalui episode terbaru webseries tersebut. Ketiga daerah itu dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan budaya Indonesia.
“Melalui tayangan ini masyarakat diharapkan dapat melihat kuliner sebagai bagian dari identitas dan warisan yang perlu terus dikenalkan serta diapresiasi oleh generasi sekarang maupun mendatang,” kata Renitasari.
Baca juga: Pentingnya Menjaga dan Mencatat Kuliner Nusantara, Pengaruhi Masa Depan
Rimo-rimo. Metode memasak ini menggunakan bambu sebagai wadah alami, lalu dibakar di atas bara api. Teknik tersebut muncul dari kebutuhan masyarakat yang harus memasak saat berada di hutan tanpa peralatan dapur.Jika Palembang mengajarkan kesabaran lewat kukusan delapan jam, Ternate menghadirkan cerita berbeda. Kota yang sejak lama dikenal sebagai pulau rempah ini menyimpan tradisi memasak yang lahir dari kemampuan beradaptasi dengan alam.
Bagi masyarakat Ternate, ruang memasak pada mulanya bukan dapur konvensional, melainkan bentang hutan. Dari lingkungan alam itulah muncul pemahaman bahwa mengolah makanan adalah strategi untuk bertahan hidup.
Tradisi itu dikenal dengan nama Rimo-rimo. Metode memasak ini menggunakan bambu sebagai wadah alami, lalu dipanggang di atas bara api.
Teknik tersebut muncul dari kebutuhan masyarakat yang harus memasak saat berada di hutan tanpa peralatan dapur. Bambu dipotong, diisi bahan makanan, kemudian dipanggang perlahan hingga matang.
Panas dari dinding bambu mematangkan isi sekaligus memberi aroma khas pada makanan. Cara ini sederhana, tetapi mencerminkan kecerdikan masyarakat dalam memanfaatkan alam.
Kini, Rimo-rimo hadir dalam berbagai olahan seperti ayam rempah, ikan kerapu kuah kuning kenari, sayur lilin ikan tuna, hingga singkong ngo. Hidangan ini bahkan menjadi salah satu kuliner yang dicari wisatawan saat ebrkunjung ke Ternate.
Baca juga: Melindungi Budaya Kuliner Nusantara
Namun pada awalnya hidangan ini bukan lahir dari pariwisata, melainkan dari kebutuhan bertahan hidup. Dari keterbatasan itulah lahir teknik memasak yang kini menjadi identitas.
Selain Rimo-rimo, Ternate juga dikenal dengan Gohu Ikan. Hidangan ini memperlihatkan pendekatan berbeda terhadap bahan pangan.
Kata “gohu” berarti mengunyah sesuatu dalam keadaan mentah. Karena itu, ikan yang disajikan tidak melalui proses pemasakan.
Gohu Ikan dibuat dari daging tuna atau cakalang yang dipotong kecil, lalu dilumuri garam dan perasan lemon cui. Daun kemangi ditambahkan untuk menghadirkan cita rasa segar dan khas.
Tidak ada api, tidak ada proses panjang. Yang diandalkan adalah kesegaran bahan dan ketepatan meracik.
Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana. Ia juga menunjukkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Baca juga: Asal-usul Kuliner Nusantara yang Dipengaruhi Kuliner Tionghoa
Baik Rimo-rimo, Gohu Ikan, maupun Kue Delapan Jam memperlihatkan satu benang merah. Kuliner bukan sekadar soal rasa, melainkan refleksi cara hidup masyarakatnya.
Di Palembang, waktu menjadi inti dalam proses memasak. Di Ternate, alam menjadi guru utama.
Dari kukusan yang mengepul selama delapan jam, bambu yang dipanggang di bara api, hingga ikan segar yang disantap tanpa api, tersimpan cerita tentang adaptasi, tradisi, dan dan identitas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya