Tidak ada api, tidak ada proses panjang. Yang diandalkan adalah kesegaran bahan dan ketepatan meracik.
Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Ternate memanfaatkan hasil laut secara sederhana. Ia juga menunjukkan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungannya.
Baca juga: Asal-usul Kuliner Nusantara yang Dipengaruhi Kuliner Tionghoa
Baik Rimo-rimo, Gohu Ikan, maupun Kue Delapan Jam memperlihatkan satu benang merah. Kuliner bukan sekadar soal rasa, melainkan refleksi cara hidup masyarakatnya.
Di Palembang, waktu menjadi inti dalam proses memasak. Di Ternate, alam menjadi guru utama.
Dari kukusan yang mengepul selama delapan jam, bambu yang dipanggang di bara api, hingga ikan segar yang disantap tanpa api, tersimpan cerita tentang adaptasi, tradisi, dan dan identitas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya