Dari delapan perusahaan yang disurvei, laporan menemukan kelemahan utama mereka adalah tidak adanya tindakan nyata terkait emisi di sepanjang rantai produksi mereka.
Tidak ada satu pun perusahaan yang mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca di seluruh rantai nilai tersebut, dan hanya satu perusahaan yang telah menetapkan syarat atau target pengurangan emisi bagi pemasok maupun mitra bisnisnya.
Para investor terus mendesak perusahaan untuk terbuka mengenai jalur emisi scope 1, 2, dan 3 mereka. Termasuk juga memberikan jadwal yang jelas kapan aset-aset kotor seperti pembangkit listrik tua akan dipensiunkan, serta menetapkan target jangka pendek dan menengah yang konkret.
Hal ini diperlukan agar investor bisa menilai apakah perusahaan tersebut benar-benar berada di jalur yang tepat menuju target nol emisi.
Baca juga: Investor Relations Jadi Profesi Masa Depan, Indonesia Perlu Siapkan SDM Kompeten
Lebih lanjut, perusahaan utilitas Asia beroperasi di wilayah yang semakin terpapar panas ekstrem, banjir, dan peristiwa curah hujan.
AIGCC pun memberi peringatan jika perusahaan tidak segera melakukan langkah antisipasi, risiko fisik dari perubahan iklim bisa menyebabkan laba perusahaan merosot sebesar 6,6 persen hingga 7,3 persen setiap tahunnya.
Akhirnya, investor memberi sinyal tegas, perusahaan harus berhenti sekadar mengumbar janji "nol emisi".
Mereka menuntut rencana transisi yang kredibel, memiliki jadwal pasti, dan didukung oleh strategi pendanaan yang nyata.
Baca juga: Startup Biodiversitas Tarik Investor Beragam, Namun Raih Modal Kecil
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya