KOMPAS.com - Perusahaan utilitas raksasa di Asia saat ini berada di bawah tekanan yang makin besar dari para investor, menurut laporan dari Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC).
Mereka diminta untuk lebih serius dalam memperkuat strategi pengurangan emisi, mengatur ulang anggaran belanja modal, serta menanggapi risiko perubahan iklim yang semakin nyata.
Baca juga:
Meskipun perusahaan-perusahaan telah membuat kemajuan sedikit demi sedikit, para investor memperingatkan masih ada masalah mendasar yang belum terselesaikan.
Hal ini bisa membuat bisnis bahkan ekonomi Asia secara luas terancam oleh risiko keuangan, operasional, dan rusaknya reputasi yang cukup serius, dilansir dari Down to Earth, Jumat (6/3/2026).
Sebagai informasi, perusahaan utilitas merupakan penyedia layanan dasar seperti listrik, air bersih, gas alam, atau sistem pengolahan limbah.
Perusahaan penyedia listrik dan air di Asia berada di bawah tekanan investor terkait emisi. Mengapa demikian?Laporan mencatat bahwa pengawasan soal masalah iklim di tingkat direksi saat ini sudah menjadi hal yang biasa di semua perusahaan listrik yang diteliti.
Bahkan, beberapa perusahaan sudah mulai mengaitkan bonus pimpinan dengan keberhasilan mereka dalam menangani isu iklim.
Namun, belum ada dewan pengawas di perusahaan-perusahaan tersebut yang benar-benar memiliki tenaga ahli khusus di bidang perubahan iklim atau perencanaan transisi energi rendah karbon.
Para investor berpendapat, tanpa keahlian mendalam mengenai transisi energi di tingkat direksi, perusahaan akan kesulitan menangani risiko rumit yang muncul akibat pengurangan penggunaan batu bara, pergeseran alokasi modal, serta kebijakan pemerintah yang terus berubah.
Selain itu, investor juga menyoroti mengenai alokasi modal.
Meskipun beberapa perusahaan sudah melaporkan rencana investasi energi terbarukan mereka baik untuk jangka pendek maupun panjang, laporan tersebut menemukan bahwa data mengenai biaya terkait dan dampaknya terhadap emisi masih tidak konsisten.
Investor disebut menuntut bukti yang lebih jelas bahwa dana perusahaan benar-benar dialihkan dari aset-aset yang menghasilkan emisi tinggi, agar sejalan dengan target pengurangan emisi yang sudah mereka janjikan.
Tanpa pengalihan modal yang benar-benar bisa diandalkan, perusahaan utilitas berisiko memiliki "aset sia-sia" yang tidak lagi bernilai, serta terpapar risiko transisi yang lebih tinggi seiring dengan semakin ketatnya kebijakan iklim dunia.
Baca juga:
Perusahaan penyedia listrik dan air di Asia berada di bawah tekanan investor terkait emisi. Mengapa demikian?Dari delapan perusahaan yang disurvei, laporan menemukan kelemahan utama mereka adalah tidak adanya tindakan nyata terkait emisi di sepanjang rantai produksi mereka.
Tidak ada satu pun perusahaan yang mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca di seluruh rantai nilai tersebut, dan hanya satu perusahaan yang telah menetapkan syarat atau target pengurangan emisi bagi pemasok maupun mitra bisnisnya.
Para investor terus mendesak perusahaan untuk terbuka mengenai jalur emisi scope 1, 2, dan 3 mereka. Termasuk juga memberikan jadwal yang jelas kapan aset-aset kotor seperti pembangkit listrik tua akan dipensiunkan, serta menetapkan target jangka pendek dan menengah yang konkret.
Hal ini diperlukan agar investor bisa menilai apakah perusahaan tersebut benar-benar berada di jalur yang tepat menuju target nol emisi.
Baca juga: Investor Relations Jadi Profesi Masa Depan, Indonesia Perlu Siapkan SDM Kompeten
Lebih lanjut, perusahaan utilitas Asia beroperasi di wilayah yang semakin terpapar panas ekstrem, banjir, dan peristiwa curah hujan.
AIGCC pun memberi peringatan jika perusahaan tidak segera melakukan langkah antisipasi, risiko fisik dari perubahan iklim bisa menyebabkan laba perusahaan merosot sebesar 6,6 persen hingga 7,3 persen setiap tahunnya.
Akhirnya, investor memberi sinyal tegas, perusahaan harus berhenti sekadar mengumbar janji "nol emisi".
Mereka menuntut rencana transisi yang kredibel, memiliki jadwal pasti, dan didukung oleh strategi pendanaan yang nyata.
Baca juga: Startup Biodiversitas Tarik Investor Beragam, Namun Raih Modal Kecil
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya