Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim

Kompas.com, 6 Maret 2026, 16:42 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan utilitas raksasa di Asia saat ini berada di bawah tekanan yang makin besar dari para investor, menurut laporan dari Asia Investor Group on Climate Change (AIGCC).

Mereka diminta untuk lebih serius dalam memperkuat strategi pengurangan emisi, mengatur ulang anggaran belanja modal, serta menanggapi risiko perubahan iklim yang semakin nyata.

Baca juga:

Meskipun perusahaan-perusahaan telah membuat kemajuan sedikit demi sedikit, para investor memperingatkan masih ada masalah mendasar yang belum terselesaikan.

Hal ini bisa membuat bisnis bahkan ekonomi Asia secara luas terancam oleh risiko keuangan, operasional, dan rusaknya reputasi yang cukup serius, dilansir dari Down to Earth, Jumat (6/3/2026).

Sebagai informasi, perusahaan utilitas merupakan penyedia layanan dasar seperti listrik, air bersih, gas alam, atau sistem pengolahan limbah.

Perusahaan utilitas di Asia di bawah tekanan investor

Tata kelola membaik, keahlian tertinggal

Perusahaan penyedia listrik dan air di Asia berada di bawah tekanan investor terkait emisi. Mengapa demikian?SHUTTERSTOCK/DIANA PARKHOUSE Perusahaan penyedia listrik dan air di Asia berada di bawah tekanan investor terkait emisi. Mengapa demikian?

Laporan mencatat bahwa pengawasan soal masalah iklim di tingkat direksi saat ini sudah menjadi hal yang biasa di semua perusahaan listrik yang diteliti.

Bahkan, beberapa perusahaan sudah mulai mengaitkan bonus pimpinan dengan keberhasilan mereka dalam menangani isu iklim.

Namun, belum ada dewan pengawas di perusahaan-perusahaan tersebut yang benar-benar memiliki tenaga ahli khusus di bidang perubahan iklim atau perencanaan transisi energi rendah karbon.

Para investor berpendapat, tanpa keahlian mendalam mengenai transisi energi di tingkat direksi, perusahaan akan kesulitan menangani risiko rumit yang muncul akibat pengurangan penggunaan batu bara, pergeseran alokasi modal, serta kebijakan pemerintah yang terus berubah.

Selain itu, investor juga menyoroti mengenai alokasi modal.

Meskipun beberapa perusahaan sudah melaporkan rencana investasi energi terbarukan mereka baik untuk jangka pendek maupun panjang, laporan tersebut menemukan bahwa data mengenai biaya terkait dan dampaknya terhadap emisi masih tidak konsisten.

Investor disebut menuntut bukti yang lebih jelas bahwa dana perusahaan benar-benar dialihkan dari aset-aset yang menghasilkan emisi tinggi, agar sejalan dengan target pengurangan emisi yang sudah mereka janjikan.

Tanpa pengalihan modal yang benar-benar bisa diandalkan, perusahaan utilitas berisiko memiliki "aset sia-sia" yang tidak lagi bernilai, serta terpapar risiko transisi yang lebih tinggi seiring dengan semakin ketatnya kebijakan iklim dunia.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau