KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan gelombang panas lebih sering terjadi dan menyebabkan peningkatan kekeringan yang merusak. Para ahli dari Korea Selatan dan Australia meneliti kombinasi panas dan kekeringan, lalu menemukan bahwa fenomena ini meningkat seiring dengan pemanasan global.
Peningkatan cuaca ekstrem terjadi sangat cepat, ketika panas datang terlebih dahulu dan memicu kekeringan yang merusak.
Dalam studi yang dipublikasikan di Science Advances, peneliti mencatat jenis cuaca ekstrem tersebut hanya mencakup sekitar 2,5 persen daratan bumi setiap tahunnya di era tahun 1980-an.
Baca juga: 51 Persen Terumbu Karang Dunia Memutih akibat Gelombang Panas 2014–2017
Pada 2023, angkanya meningkat menjadi 16,7 persen. Artinya, jika dilihat dari rata-rata 10 tahun terakhir fenomena ini terjadi di sekitar 7,9 persen wilayah daratan dunia.
"Rata-rata suhu kemungkinan bahkan lebih tinggi lagi dengan rekor suhu global tahun 2024 dan tahun 2025 yang hampir sama hangatnya," kata para peneliti dilansir dari AP News, Sabtu (7/3/2026).
Selama sekitar dua dekade pertama sejak 1980, peningkatan kejadian panas ekstrem masih berlangsung relatif lambat. Namun dalam 22 tahun terakhir laju peningkatannya naik delapan kali lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.
"Kondisi ini menyebabkan kekeringan mendadak, yang lebih merusak daripada kekeringan biasa karena terjadi tiba-tiba sehingga tidak memberi kesempatan kepada masyarakat dan petani untuk bersiap-siap," ujar penulis utama studi dari Hanyang University, Yong-Jun Kim.
Menurut Kim, kekeringan ini terjadi karena udara yang semakin hangat mampu menyerap lebih banyak kelembapan dari tanah. Akibatnya, tanah menjadi cepat kering dan tanaman lebih mudah mengalami kerusakan.
Baca juga: Hadapi Gelombang Panas Ekstrem, Spanyol Bangun Jaringan Penampungan
Para peneliti juga mengidentifikasi adanya “titik perubahan” sekitar tahun 2000. Sejak saat itu, hubungan antara gelombang panas dan kekeringan terjadi jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, peningkatan kekeringan yang diawali gelombang panas paling besar terjadi di Amerika Selatan, Kanada bagian barat, Alaska, Amerika Serikat bagian barat, serta beberapa wilayah Afrika tengah dan timur.
Ilmuwan iklim dari Woodwell Climate Research Center yang tidak terlibat dalam penelitian, Jennifer Francis mengatakan bahwa titik perubahan tersebut bertepatan dengan dimulainya pemanasan Arktik yang cepat, hilangnya es laut, dan penurunan tutupan salju musim semi di benua-benua Belahan Bumi Utara.
Para peneliti juga melihat adanya percepatan pertukaran panas antara daratan dan atmosfer sebelum periode perubahan tersebut. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa bumi mungkin telah melewati titik kritis tertentu yang membuat perubahan iklim semakin sulit untuk dikendalikan.
“Saat gelombang panas, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan terjadi pada waktu yang sama, dampaknya bisa meningkat sangat cepat,” papar Weaver.
Ia mencontohkan peristiwa besar dalam beberapa tahun terakhir, antara lain gelombang panas Rusia pada 2010, kebakaran hutan besar di Australia pada 2019-2020, kubah panas dan kekeringan di Amerika Utara pada 2021, serta gelombang panas dan kekeringan di Sungai Yangtze di China tahun 2022.
Weaver berpendapat, pemanasan global tidak hanya membuat gelombang panas lebih sering terjadi tetapi juga memperkuat hubungan antara panas dengan kekeringan. Sehingga meningkatkan risiko bencana di berbagai wilayah dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya