Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lebih 50 Persen Balok Lego Gunakan Bahan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 14 Maret 2026, 20:10 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Lego Group mengumumkan, penggunaan materi terbarukan dan hasil daur ulang dalam produksi balok Lego mencapai 52 persen pada tahun 2025, melonjak drastis dari 33 persen pada tahun sebelumnya.

Data terbaru tersebut dirilis bersamaan dengan Pernyataan Keberlanjutan LEGO Group tahun 2025, yang memaparkan kemajuan perusahaan dalam mencapai target-target lingkungannya, dilansir dari ESG Today, Jumat (13/3/2026).

Baca juga: 

Target perusahaan tersebut mencakup pembuatan produk dari bahan-bahan yang lebih berkelanjutan yaitu bahan yang diproduksi menggunakan sumber daya terbarukan, atau daur ulang dengan meminimalisasi atau tanpa limbah sama sekali pada tahun 2032.

Selain itu, Lego juga menargetkan untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh rantai nilai pada tahun 2050, serta mengurangi emisi karbon sebesar 37 persen pada tahun 2032 dengan basis tahun 2019.

"Kami sangat berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi dunia dan masyarakat tempat kami berada. Kami melakukan ini dengan berupaya mengurangi jejak lingkungan kami dan meningkatkan akses bermain bagi anak-anak yang paling membutuhkannya, dan kami akan terus berinvestasi secara signifikan untuk mewujudkan ambisi tersebut," papar CEO Lego Group, Niels B. Christiansen.

Lebih dari 50 persen balok Lego pakai bahan berkelanjutan

Tingkatkan investasi keberlanjutan

Lego Group mengumumkan, penggunaan materi terbarukan dan hasil daur ulang dalam produksi balok Lego mencapai 52 persen pada tahun 2025, melonjak drastis dari 33 persen pada tahun sebelumnya.Lego Lego Group mengumumkan, penggunaan materi terbarukan dan hasil daur ulang dalam produksi balok Lego mencapai 52 persen pada tahun 2025, melonjak drastis dari 33 persen pada tahun sebelumnya.

Perusahaan mainan ini juga mengumumkan bahwa mereka telah meningkatkan investasi dalam bidang keberlanjutan, dengan total pengeluaran untuk inisiatif lingkungan dan sosial naik sebesar 20 persen secara tahunan (year-over-year) pada tahun 2025, setelah sebelumnya melonjak sebesar 68 persen pada tahun lalu.

Salah satu area fokus utama dalam strategi keberlanjutan perusahaan ini mencakup inisiatif untuk berinvestasi dalam riset bahan berkelanjutan guna mengurangi jejak karbon pada produk dan kemasannya.

Meskipun perusahaan ini menggunakan beberapa bahan daur ulang dan terbarukan secara langsung dalam produksi baloknya, sebagian besar bahan berkelanjutan tersebut diperoleh melalui pendekatan mass balance (keseimbangan massa).

Dalam sistem ini, pemasok mencampur bahan baku fosil murni dengan sumber terbarukan dan daur ulang yang tersertifikasi, seperti minyak goreng bekas atau minyak nabati, yang mana pemasok memberikan sertifikat yang mengonfirmasi jumlah kandungan terbarukan yang telah dibeli oleh Lego Group.

Perusahaan mengungkapkan bahwa pada 2025, mereka meningkatkan penggunaan metode keseimbangan bahan tersebut menjadi 60 persen, naik dari 47 persen di tahun sebelumnya.

Ditambah dengan empat persen bahan ramah lingkungan yang dibeli langsung, saat ini rata-rata separuh lebih (52 persen) bahan baku Lego berasal dari sumber terbarukan dan hasil daur ulang.

Baca juga:

Perusahaan mencatat pula bahwa mereka menggunakan lebih sedikit bahan baku fosil murni untuk membuat balok pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2022, padahal pendapatan mereka naik 29 persen pada periode tersebut.

Sebagai bagian dari upaya penggunaan bahan berkelanjutan, Lego Group juga mengumumkan inisiatif pada tahun 2023 untuk mulai menghapus penggunaan plastik sekali pakai dalam kotak Lego, serta menggantinya dengan kantong kertas.

Dalam pernyataan keberlanjutannya, Lego Group menyebutkan bahwa 56 persen lini pengemasan pabrik globalnya kini telah beralih menggunakan kantong berbasis kertas untuk mengemas elemen-elemen produknya.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau