KOMPAS.com - Lego Group mengumumkan, penggunaan materi terbarukan dan hasil daur ulang dalam produksi balok Lego mencapai 52 persen pada tahun 2025, melonjak drastis dari 33 persen pada tahun sebelumnya.
Data terbaru tersebut dirilis bersamaan dengan Pernyataan Keberlanjutan LEGO Group tahun 2025, yang memaparkan kemajuan perusahaan dalam mencapai target-target lingkungannya, dilansir dari ESG Today, Jumat (13/3/2026).
Baca juga:
Target perusahaan tersebut mencakup pembuatan produk dari bahan-bahan yang lebih berkelanjutan yaitu bahan yang diproduksi menggunakan sumber daya terbarukan, atau daur ulang dengan meminimalisasi atau tanpa limbah sama sekali pada tahun 2032.
Selain itu, Lego juga menargetkan untuk mencapai emisi nol bersih di seluruh rantai nilai pada tahun 2050, serta mengurangi emisi karbon sebesar 37 persen pada tahun 2032 dengan basis tahun 2019.
"Kami sangat berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi dunia dan masyarakat tempat kami berada. Kami melakukan ini dengan berupaya mengurangi jejak lingkungan kami dan meningkatkan akses bermain bagi anak-anak yang paling membutuhkannya, dan kami akan terus berinvestasi secara signifikan untuk mewujudkan ambisi tersebut," papar CEO Lego Group, Niels B. Christiansen.
Lego Group mengumumkan, penggunaan materi terbarukan dan hasil daur ulang dalam produksi balok Lego mencapai 52 persen pada tahun 2025, melonjak drastis dari 33 persen pada tahun sebelumnya.Perusahaan mainan ini juga mengumumkan bahwa mereka telah meningkatkan investasi dalam bidang keberlanjutan, dengan total pengeluaran untuk inisiatif lingkungan dan sosial naik sebesar 20 persen secara tahunan (year-over-year) pada tahun 2025, setelah sebelumnya melonjak sebesar 68 persen pada tahun lalu.
Salah satu area fokus utama dalam strategi keberlanjutan perusahaan ini mencakup inisiatif untuk berinvestasi dalam riset bahan berkelanjutan guna mengurangi jejak karbon pada produk dan kemasannya.
Meskipun perusahaan ini menggunakan beberapa bahan daur ulang dan terbarukan secara langsung dalam produksi baloknya, sebagian besar bahan berkelanjutan tersebut diperoleh melalui pendekatan mass balance (keseimbangan massa).
Dalam sistem ini, pemasok mencampur bahan baku fosil murni dengan sumber terbarukan dan daur ulang yang tersertifikasi, seperti minyak goreng bekas atau minyak nabati, yang mana pemasok memberikan sertifikat yang mengonfirmasi jumlah kandungan terbarukan yang telah dibeli oleh Lego Group.
Perusahaan mengungkapkan bahwa pada 2025, mereka meningkatkan penggunaan metode keseimbangan bahan tersebut menjadi 60 persen, naik dari 47 persen di tahun sebelumnya.
Ditambah dengan empat persen bahan ramah lingkungan yang dibeli langsung, saat ini rata-rata separuh lebih (52 persen) bahan baku Lego berasal dari sumber terbarukan dan hasil daur ulang.
Baca juga:
Perusahaan mencatat pula bahwa mereka menggunakan lebih sedikit bahan baku fosil murni untuk membuat balok pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2022, padahal pendapatan mereka naik 29 persen pada periode tersebut.
Sebagai bagian dari upaya penggunaan bahan berkelanjutan, Lego Group juga mengumumkan inisiatif pada tahun 2023 untuk mulai menghapus penggunaan plastik sekali pakai dalam kotak Lego, serta menggantinya dengan kantong kertas.
Dalam pernyataan keberlanjutannya, Lego Group menyebutkan bahwa 56 persen lini pengemasan pabrik globalnya kini telah beralih menggunakan kantong berbasis kertas untuk mengemas elemen-elemen produknya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya