KOMPAS.com - Kadar polusi udara 19 kota besar di dunia, termasuk London di Inggris, San Francisco di Amerika Serikat (AS), dan Beijing di China, telah berkurang secara signifikan.
Pengurangan polusi udara tersebut disebabkan sejumlah intervensi, seperti jalur sepeda, pemakaian mobil listrik, dan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil yang mencemari lingkungan.
Baca juga:
Informasi tersebut berdasarkan laporan Breathe Better: How Leading Cities Have Rapidly Cut Air Pollution dari layanan kesehatan lingkungan yang berbasis di London, Breathe Cities.
"Laporan ini mengidentifikasi 19 kota yang berhasil mencapai penurunan signifikan setidaknya sebesar 20 persen baik pada partikel halus (PM2.5) maupun nitrogen dioksida (NO2) selama 15 tahun terakhir, bahkan dalam beberapa kasus mencapai penurunan sekitar 45 persen," tulis laporan tersebut, dilansir dari laman resminya, Sabtu (14/3/2026).
Sebagai informasi, laporan ini mengkaji tren kualitas udara di kota-kota anggota C40 dan Breathe Cities periode 2010 hingga 2024.
C40 mencakup 96 kota yang mewakili seperdua belas populasi dunia dan seperempat perekonomian global.
Beijing dan Warsawa menduduki kota peringkat teratas dalam upaya membersihkan polusi partikulat halus PM2.5.Beijing dan Warsawa, Polandia, menduduki peringkat teratas dalam upaya membersihkan polusi partikel halus berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5), yang mana kadarnya berkurang lebih dari 45 persen sejak tahun 2010.
Sementara itu, Amsterdam dan Rotterdam di Belanda mengalami peningkatan terbesar dalam pengurangan NO2, dengan penurunan lebih dari 40 persen.
Menurut analisis terhadap hampir 100 kota di seluruh dunia, San Francisco menjadi satu-satunya kota di AS yang berhasil menurunkan tingkat kedua polutan tersebut lebih dari 20 persen.
Adapun China dan Hong Kong menjadi rumah bagi sembilan dari 19 kota tersebut, sedangkan kota-kota di Eropa mencakup sisanya
“Laporan ini menunjukkan bahwa kota-kota dapat mencapai apa yang dulunya dianggap mustahil: Mengurangi polusi udara beracun sebesar 20-45 persen hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu dekade,” ujar Direktur Eksekutif Breathe Cities, Cecilia Vaca Jones, dilansir dari The Guardian.
Bahkan, kota-kota besar, seperti Bangkok di Thailand dan Warsawa, juga membuktikan bahwa krisis polutan yang memperburuk gangguan pernapasan itu bisa diselesaikan.
Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan gas "beracun" dan partikel berbahaya yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia.
Partikel polutan yang lebih kecil dari PM2.5 berisiko masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, merusak organ mulai dari otak hingga alat kelamin. Sementara itu, NO2 merusak saluran pernapasan dan bereaksi dengan air membentuk hujan asam.
Baca juga:
Laporan tersebut menemukan, pengurangan polusi udara secara substansial bisa dicapai dalam waktu 15 tahun melalui berbagai intervensi, di antaranya peralihan dari mobil berbahan bakar fosil ke listrik di China, perluasan jalur sepeda di kota-kota besar di Eropa, dan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di London.
Namun, laporan tersebut tidak mengeksplorasi rantai sebab akibat untuk membedakan antara peningkatan kualitas udara yang berasal dari kebijakan nasional versus kebijakan lokal.
Menghirup udara yang tercemar memengaruhi kesehatan manusia di setiap tahap kehidupan. Mulai dari bayi dengan berat badan rendah saat lahir dan asma pada anak-anak, hingga kanker dan masalah jantung di usia dewasa.
Dalam 10 tahun terakhir, berbagai studi menyebut, polusi udara terkait dengan penurunan kognitif dan demensia di usia lanjut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya