Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Otak Lelah Usai Pakai Chatbot AI di Tempat Kerja? Ini Alasannya

Kompas.com, 13 Maret 2026, 18:13 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sering pakai chatbot AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) selama berjam-jam untuk keperluan pekerjaan? Studi terbaru menunjukkan bahwa interaksi intensif dengan AI dalam waktu lama dapat memicu kelelahan mental atau yang disebut sebagai AI brain fry.

Para peneliti dari Harvard University,  Amerika Serikat (AS), menyurvei lebih dari 1.488 pekerja penuh waktu di perusahaan-perusahaan besar AS untuk mengetahui seberapa banyak mereka menggunakan AI dalam pekerjaan. Selain itu, mereka menganalisis bagaimana AI memengaruhi kognisi serta emosi responden.

Baca juga: Bukan PHK, Survei Sebut AI Bakal Perbanyak Lowongan Kerja

Hasilny,a menunjukkan, sekitar 14 persen responden melaporkan merasakan kondisi AI brain fry setelah percakapan intensif dengan sistem AI.

"Kami menyebutnya AI brain fry, yang kami definisikan sebagai kelelahan mental akibat penggunaan atau pengawasan berlebihan terhadap alat AI di luar kapasitas kognitif seseorang. Para peserta menggambarkan perasaan berdengung atau kabut mental dengan kesulitan fokus, pengambilan keputusan yang lebih lambat, dan sakit kepala," kata peneliti, dikutip dari laman resmi Harvard Business Review, Jumat (13/3/2026).

Baca juga:

AI brain fry, ketika interaksi dengan AI bikin otak lelah

Sulit konsentrasi dan lambat ambil keputusan jadi gejala

Kelelahan otak terjadi pada pekerja yang terlalu sering bekerja menggunakan chatbot AI. Apa alasannya? freepik Kelelahan otak terjadi pada pekerja yang terlalu sering bekerja menggunakan chatbot AI. Apa alasannya?

Banyak responden menggambarkan kondisi tersebut sebagai sensasi kabut atau berdengung di kepala.

Interaksi bolak-balik yang intens dengan alat AI sering kali diikuti ketidakmampuan untuk berpikir jernih, bahkan menyerupai kondisi mabuk mental.

Gejala yang dilaporkan antara lain kesulitan berkonsentrasi, lambat dalam mengambil keputusan, dan sakit kepala. Beberapa responden mengaku harus menjauh sejenak dari komputer untuk mengatur ulang kondisi mental mereka.

Tim juga meneliti bagaimana orang berinteraksi dengan AI untuk mengidentifikasi tugas mana yang paling menimbulkan rasa lelah. Hasilnya menunjukkan, jenis pekerjaan yang paling memicu kelelahan mental adalah tugas pengawasan terhadap sistem AI.

Dalam situasi ini, karyawan harus memantau dan memeriksa hasil yang dihasilkan oleh AI.

Masalah ini menjadi semakin umum terjadi lantaran perusahaan mulai meminta karyawan untuk membangun dan mengelola AI, yang mampu melakukan tugas dengan sedikit pengawasan manusia.

Baca juga: Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI

“Bertentangan dengan janji memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan yang bermakna, juggling dan multitasking dapat menjadi ciri khas bekerja dengan AI," tulis para peneliti.

Para pekerja yang melakukan pemantauan semacam ini melaporkan kelelahan mental 12 persen lebih tinggi daripada mereka yang tidak melakukannya.

Pekerjaan dengan bantuan AI menyebabkan pekerja mendapatkan kelebihan informasi yang harus diproses lalu memicu kelelahan otak.

Responden juga mengakui, AI meningkatkan beban kerja karena memaksa untuk melacak lebih banyak hasil dalam waktu yang sama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau