Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia

Kompas.com, 19 Februari 2026, 05:10 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Orang-orang yang lebih sering terpapar polusi udara disebut berisiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer.

Hal itu menurut studi terbaru yang dilakukan Yanling Deng dari Emory University di Georgia, Amerika Serikat, bersama rekan-rekannya yang diterbitkan di jurnal PLOS Medicine.

Baca juga:

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia yang paling umum dan menyerang sekitar 57 juta orang di seluruh dunia, dilansir dari Medical Xpress, Rabu (18/2/2026).

Paparan polusi udara sudah dikenal sebagai faktor risiko Alzheimer, serta pemicu berbagai penyakit kronis lainnya seperti darah tinggi, strok, dan depresi.

Penyakit-penyakit kronis itu juga berhubungan dengan Alzheimer. Namun, sebelumnya belum jelas apakah polusi udara menyebabkan penyakit kronis tersebut yang kemudian berujung pada Alzheimer, atau apakah penyakit-penyakit tersebut yang justru memperparah efek polusi udara terhadap kesehatan otak.

Baca juga:

Hubungan polusi udara dengan Alzheimer

Paparan polusi udara lebih besar berkaitan dengan peningkatan risiko Alzheimer

Studi menemukan, paparan polusi udara, terutama PM2.5, meningkatkan risiko Alzheimer pada lansia. Risiko lebih tinggi pada penderita strok.Napatcha Studi menemukan, paparan polusi udara, terutama PM2.5, meningkatkan risiko Alzheimer pada lansia. Risiko lebih tinggi pada penderita strok.

Untuk mengetahui jawabannya, tim peneliti meneliti lebih dari 27,8 juta penerima Medicare atau layanan kesehatan lanjut usia (lansia) di Amerika Serikat berusia 65 tahun ke atas dari tahun 2000 hingga tahun 2018.

Para peneliti mengamati tingkat paparan polusi udara pada setiap individu dan apakah mereka terkena Alzheimer, sambil menekankan peran penyakit kronis lainnya.

Mereka menemukan bahwa paparan polusi udara yang lebih besar berkaitan dengan peningkatan risiko Alzheimer. Hubungan tersebut sedikit lebih kuat pada individu yang pernah mengalami strok.

Namun, tekanan darah tinggi dan depresi ternyata tidak memberikan dampak tambahan yang signifikan.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa polusi udara berkontribusi terhadap penyakit Alzheimer sebagian besar melalui jalur langsung, bukan lewat penyakit kronis lainnya.

Namun, orang yang memiliki riwayat strok mungkin lebih rentan terhadap dampak buruk polusi udara bagi kesehatan otak.

Baca juga:

Studi menemukan, paparan polusi udara, terutama PM2.5, meningkatkan risiko Alzheimer pada lansia. Risiko lebih tinggi pada penderita strok.FREEPIK/RAWPIXEL.COM Studi menemukan, paparan polusi udara, terutama PM2.5, meningkatkan risiko Alzheimer pada lansia. Risiko lebih tinggi pada penderita strok.

Studi ini mengindikasikan bahwa memperbaiki kualitas udara bisa menjadi cara penting untuk mencegah demensia dan melindungi para lansia.

"Dalam studi nasional berskala besar terhadap lansia ini, kami menemukan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi udara partikel halus (PM2.5) berkaitan dengan risiko penyakit Alzheimer yang lebih tinggi," tulis para peneliti.

Hal ini sebagian besar terjadi melalui efek langsung pada otak, bukan melalui penyakit kronis umum seperti darah tinggi, strok, atau depresi.

"Temuan kami menunjukkan bahwa individu dengan riwayat strok mungkin sangat rentan terhadap efek berbahaya polusi udara bagi kesehatan otak. Hal ini menyoroti adanya titik temu yang penting antara faktor polusi dan faktor risiko pembuluh darah," tambah peneliti dalam makalah mereka.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau