Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Udara di 19 Kota Besar Turun Drastis, Ini Sebabnya

Kompas.com, 15 Maret 2026, 10:11 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kadar polusi udara 19 kota besar di dunia, termasuk London di Inggris, San Francisco di Amerika Serikat (AS), dan Beijing di China, telah berkurang secara signifikan.

Pengurangan polusi udara tersebut disebabkan sejumlah intervensi, seperti jalur sepeda, pemakaian mobil listrik, dan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil yang mencemari lingkungan.

Baca juga:

Informasi tersebut berdasarkan laporan Breathe Better: How Leading Cities Have Rapidly Cut Air Pollution dari layanan kesehatan lingkungan yang berbasis di London, Breathe Cities.

"Laporan ini mengidentifikasi 19 kota yang berhasil mencapai penurunan signifikan setidaknya sebesar 20 persen baik pada partikel halus (PM2.5) maupun nitrogen dioksida (NO2) selama 15 tahun terakhir, bahkan dalam beberapa kasus mencapai penurunan sekitar 45 persen," tulis laporan tersebut, dilansir dari laman resminya, Sabtu (14/3/2026).

Sebagai informasi, laporan ini mengkaji tren kualitas udara di kota-kota anggota C40 dan Breathe Cities periode 2010 hingga 2024. 

C40 mencakup 96 kota yang mewakili seperdua belas populasi dunia dan seperempat perekonomian global.

Polusi udara di 19 kota dunia berkurang

Polusi udara bisa dikurangi, bagaimana caranya?

Beijing dan Warsawa menduduki kota peringkat teratas dalam upaya membersihkan polusi partikulat halus PM2.5.SHUTTERSTOCK/HOLIDAY62 Beijing dan Warsawa menduduki kota peringkat teratas dalam upaya membersihkan polusi partikulat halus PM2.5.

Beijing dan Warsawa, Polandia, menduduki peringkat teratas dalam upaya membersihkan polusi partikel halus berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5), yang mana kadarnya berkurang lebih dari 45 persen sejak tahun 2010.

Sementara itu, Amsterdam dan Rotterdam di Belanda mengalami peningkatan terbesar dalam pengurangan NO2, dengan penurunan lebih dari 40 persen.

Menurut analisis terhadap hampir 100 kota di seluruh dunia, San Francisco menjadi satu-satunya kota di AS yang berhasil menurunkan tingkat kedua polutan tersebut lebih dari 20 persen.

Adapun China dan Hong Kong menjadi rumah bagi sembilan dari 19 kota tersebut, sedangkan kota-kota di Eropa mencakup sisanya

“Laporan ini menunjukkan bahwa kota-kota dapat mencapai apa yang dulunya dianggap mustahil: Mengurangi polusi udara beracun sebesar 20-45 persen hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu dekade,” ujar Direktur Eksekutif Breathe Cities, Cecilia Vaca Jones, dilansir dari The Guardian.

Bahkan, kota-kota besar, seperti Bangkok di Thailand dan Warsawa, juga membuktikan bahwa  krisis polutan yang memperburuk gangguan pernapasan itu bisa diselesaikan.

Pembakaran bahan bakar fosil melepaskan gas "beracun" dan partikel berbahaya yang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan manusia.

Partikel polutan yang lebih kecil dari PM2.5 berisiko masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, merusak organ mulai dari otak hingga alat kelamin. Sementara itu, NO2 merusak saluran pernapasan dan bereaksi dengan air membentuk hujan asam.

Baca juga:

Laporan tersebut menemukan, pengurangan polusi udara secara substansial bisa dicapai dalam waktu 15 tahun melalui berbagai intervensi,  di antaranya peralihan dari mobil berbahan bakar fosil ke listrik di China, perluasan jalur sepeda di kota-kota besar di Eropa, dan  pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil di London.

Namun, laporan tersebut tidak mengeksplorasi rantai sebab akibat untuk membedakan antara peningkatan kualitas udara yang berasal dari kebijakan nasional versus kebijakan lokal.

Menghirup udara yang tercemar memengaruhi kesehatan manusia di setiap tahap kehidupan. Mulai dari bayi dengan berat badan rendah saat lahir dan asma pada anak-anak, hingga kanker dan masalah jantung di usia dewasa.

Dalam 10 tahun terakhir, berbagai studi menyebut, polusi udara terkait dengan penurunan kognitif dan demensia di usia lanjut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau