Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN

Kompas.com, 6 Maret 2026, 18:20 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tren produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan peningkatan periode 2020-2024. Mengutip data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), pada 2020 tingkat produktivitas tenaga kerja tercatat sebesar 83,48 juta per tenaga kerja, lalu pada 2024 angkanya naik menjadi 89,33 juta per tenaga kerja.

Namun, berdasarkan penlilaian World Competitiveness Ranking 2025, Indonesia berada di bawah negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Baca juga:

Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Deniey A Purwanto mengatakan, Indonesia juga bersaing ketat dengan Vietnam yang pertumbuhan produktivitas pekerjanya dinilai cukup agresif.

"Kalau Indonesia itu (produktivitasnya) naik tetapi sedikit-sedikit. Jadi mungkin kalau kita tidak terjadi peningkatan-peningkatan di produktivitas, maka nanti Vietnam pun akan mengejar kita," ujar Deniey dalam tayangan YouTube INDEF, Jumat (6/3/2026).

Produktivitas pekerja Indonesia naik, tapi masih tertinggal

Struktur ekonomi yang belum berhasil bertransformasi

Tren produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan peningkatan periode 2020-2024, tapi masih tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara.Kompas.com Tren produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan peningkatan periode 2020-2024, tapi masih tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara.

Secara global, produktivitas pekerja Indonesia berada pada posisi 111. Deniey menjelaskan bahwa rendahnya angka produktivitas jika dibandingkan negara lain dikarenakan struktur ekonomi yang belum berhasil bertransformasi.

Indonesia, kata dia, mulanya berupaya beralih dari sektor pertanian ke sektor industri.

"Tetapi belum sampai kita menjadi sebuah negara dengan basis industri yang tangguh, kita sudah mulai bergeser kepada sektor-sektor yang lebih ke jasa. Ini di satu sisi sulit untuk menjaga produktivitas," tutur dia.

Penyebab lainnya, masih belum terpenuhinya keterampilan atau skill yang sesuai kebutuhan pasar kerja. Lalu, ketiga, tingginya proporsi tenaga kerja di sektor informal.

Deniey menyatakan, ketika tenaga kerja yang memiliki pendidikan tinggi justru bekerja di sektor informal atau tidak sesuai bidangnya maka potensi produktivitas menjadi tidak optimal.

Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Deniey A Purwanto menjelaskan soal produktivitas pekerja, Jumat (6/3/2026). Dok.ISTIMEWA Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Deniey A Purwanto menjelaskan soal produktivitas pekerja, Jumat (6/3/2026).

"Keempat adalah memang belum meratanya soal teknologi karena memang di beberapa industri sudah terjadi adopsi industri ada digitalisasi, otomasi," papar Deniey.

Di sisi lain, pekerja formal di dalam negeri hanya 38,81 persen berdasarkan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025.

Sebanyak 90 persen pekerja di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menghadapi tantangan berupa produktivitas.

"Isunya bukan soal tenaga kerjanya enggak mau, tetapi memang lapangan pekerjaan yang ada belum bisa mendukung lebih besar lagi peningkatan produktivitasnya," ucap dia.

Baca juga: 

Apakah upah meningkatkan produktivitas?

Tren produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan peningkatan periode 2020-2024, tapi masih tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara.FREEPIK/DRAZEN ZIGIC Tren produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan peningkatan periode 2020-2024, tapi masih tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau