JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Jobstreet by SEEK mengungkapkan bahwa 77 persen pekerja di Indonesia merasa paling bahagia karena rekan kerja mereka. Business Transformation Advisor Stanford Seed, Audi Lumbantoruan mengakui, hal ini bisa terjadi lantaran sebagian besar karyawan terutama di kota besar lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.
"Saya tebak kenapa dianggap rekan kerja membuat menyenangkan? Karena dari survei itu saya anggap mungkin menggambarkan bahwa dengan adanya rekan kerja membuat mereka merasa nyaman, senyaman di kantor ataupun juga di lingkungan kerjanya," ujar Audi saat dihubungi, Senin (2/3/2026).
Faktor lain yang membuat pekerja Indonesia bahagia ialah nilai tanggung jawab dan kejujuran perusahaan. Nilai-nilai itu diartikan sebagai budaya kerja di perusahaan tersebut.
Baca juga: WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
Audi menyebutkan, banyak pekerja yang memutuskan berhenti karena merasa tidak lagi sejalan dengan budaya perusahaan.
"Misalnya, bagaimana komunikasinya dengan atasan, bagaimana tugas tanggung jawabnya. Bahkan yang paling parah adalah budaya saling menghormati, menghargai, dan saling mendukung satu sama lain," jelas Audi.
Ia menambahkan, lingkungan kerja yang toksik, penuh politik kantor, atau minim penghargaan dapat membuat karyawan merasa terpecah dan tidak nyaman. Kondisi tersebut kerap menjadi alasan utama seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri.
Sebaliknya, pekerja yang nyaman bekerja di perusahaan akan termotivasi bekerja dengan lebih baik. Mereka juga tak segan merekomendasikan tempat kerjanya kepada orang lain, menandakan keterikatan dan rasa memiliki terhadap pekerjaan maupun perusahaan.
Baca juga: Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko Kerja Paksa
"Jadi budaya itu penting, cara kerja, bagaimana orang berperilaku, bagaimana berkomunikasi, termasuk bagaimana saling melengkapi dalam pekerjaan," tutur Audi.
Mayoritas orang memilih pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Namun, dia berpandangan gaji tak serta-merta membuat pekerja bahagia.
Menurut Audi, yang lebih penting bagi pekerja adalah mereka dapat berkembang, diterima di lingkungan kerja, memiliki prospek karier, hingga mendapat perhatian dari atasan.
"Karena yang lebih penting bukan soal nilai rupiahnya. Tetapi apakah dia bisa bekerja dengan baik, dia diterima, bisa punya karier, diperhatikan oleh atasannya, atau apakah lingkungan kerjanya sehat?" beber Audi.
"Atau kadang-kadang rumah lebih dekat tetapi gaji enggak terlalu tinggi, bisa juga jadi alasan," imbuh dia.
Tren dunia kerja saat ini lebih mengarah pada peningkatan kualitas hidup dengan konsep work life balance. Namun, konsep tersebut bukan sekadar menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi, melainkan bagaimana individu mampu mengintegrasikan keduanya serta mengelola waktu secara efektif.
"Ini yang kadang-kadang di tempat kerja kadang susah-susah dan kadang-kadang gampang, karena banyak intervensinya, bisa jadi dari atasan. Ketika kita bisa menguasai antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, nah di situlah sebenarnya nikmatnya kita bekerja," sebut Audi.
Diberitakan sebelumnya, riset Jobstreet menunjukkan Indonesia menjadi negara pertama dengan pekerja paling bahagia di tempat kerja se-Asia Pasifik, melampaui Hong Kong, Singapura, hingga Australia.
Baca juga: Riset Jobstreet: Pekerja di Indonesia Paling Bahagia se-Asia Pasifik
Sebanyak 82 persen responden menyatakan mereka merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja. Selain kebahagiaan umum, sebanyak 86 persen pekerja Indonesia merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaan mereka memberikan kepuasan batin.
Elemen spesifik yang paling membuat pekerja Indonesia bahagia meliputi rekan kerja atau tim sebesar 77 persen, lokasi tempat kerja sebesar 76 persen, serta tujuan kerja atau perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna sebesar 75 persen.
Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor yang menjadi tantangan bagi pekerja Indonesia bahagia di tempat kerja, yaitu tingkat stres sebesar 44 persen dan tuntutan beban kerja sebesar 56 persen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya