Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan

Kompas.com, 2 Maret 2026, 15:38 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Survei Jobstreet by SEEK mengungkapkan bahwa 77 persen pekerja di Indonesia merasa paling bahagia karena rekan kerja mereka. Business Transformation Advisor Stanford Seed, Audi Lumbantoruan mengakui, hal ini bisa terjadi lantaran sebagian besar karyawan terutama di kota besar lebih banyak menghabiskan waktu di kantor.

"Saya tebak kenapa dianggap rekan kerja membuat menyenangkan? Karena dari survei itu saya anggap mungkin menggambarkan bahwa dengan adanya rekan kerja membuat mereka merasa nyaman, senyaman di kantor ataupun juga di lingkungan kerjanya," ujar Audi saat dihubungi, Senin (2/3/2026).

Faktor lain yang membuat pekerja Indonesia bahagia ialah nilai tanggung jawab dan kejujuran perusahaan. Nilai-nilai itu diartikan sebagai budaya kerja di perusahaan tersebut.

Baca juga: WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya

Audi menyebutkan, banyak pekerja yang memutuskan berhenti karena merasa tidak lagi sejalan dengan budaya perusahaan.

"Misalnya, bagaimana komunikasinya dengan atasan, bagaimana tugas tanggung jawabnya. Bahkan yang paling parah adalah budaya saling menghormati, menghargai, dan saling mendukung satu sama lain," jelas Audi.

Ia menambahkan, lingkungan kerja yang toksik, penuh politik kantor, atau minim penghargaan dapat membuat karyawan merasa terpecah dan tidak nyaman. Kondisi tersebut kerap menjadi alasan utama seseorang memutuskan untuk mengundurkan diri.

Sebaliknya, pekerja yang nyaman bekerja di perusahaan akan termotivasi bekerja dengan lebih baik. Mereka juga tak segan merekomendasikan tempat kerjanya kepada orang lain, menandakan keterikatan dan rasa memiliki terhadap pekerjaan maupun perusahaan.

Baca juga: Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko Kerja Paksa

"Jadi budaya itu penting, cara kerja, bagaimana orang berperilaku, bagaimana berkomunikasi, termasuk bagaimana saling melengkapi dalam pekerjaan," tutur Audi.

Bukan Hanya Perkara Gaji

Mayoritas orang memilih pekerjaan dengan gaji lebih tinggi. Namun, dia berpandangan gaji tak serta-merta membuat pekerja bahagia.

Menurut Audi, yang lebih penting bagi pekerja adalah mereka dapat berkembang, diterima di lingkungan kerja, memiliki prospek karier, hingga mendapat perhatian dari atasan.

"Karena yang lebih penting bukan soal nilai rupiahnya. Tetapi apakah dia bisa bekerja dengan baik, dia diterima, bisa punya karier, diperhatikan oleh atasannya, atau apakah lingkungan kerjanya sehat?" beber Audi.

"Atau kadang-kadang rumah lebih dekat tetapi gaji enggak terlalu tinggi, bisa juga jadi alasan," imbuh dia.

Tren dunia kerja saat ini lebih mengarah pada peningkatan kualitas hidup dengan konsep work life balance. Namun, konsep tersebut bukan sekadar menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi, melainkan bagaimana individu mampu mengintegrasikan keduanya serta mengelola waktu secara efektif.

"Ini yang kadang-kadang di tempat kerja kadang susah-susah dan kadang-kadang gampang, karena banyak intervensinya, bisa jadi dari atasan. Ketika kita bisa menguasai antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, nah di situlah sebenarnya nikmatnya kita bekerja," sebut Audi.

Diberitakan sebelumnya, riset Jobstreet menunjukkan Indonesia menjadi negara pertama dengan pekerja paling bahagia di tempat kerja se-Asia Pasifik, melampaui Hong Kong, Singapura, hingga Australia.

Baca juga: Riset Jobstreet: Pekerja di Indonesia Paling Bahagia se-Asia Pasifik

Sebanyak 82 persen responden menyatakan mereka merasa cukup atau sangat bahagia di tempat kerja. Selain kebahagiaan umum, sebanyak 86 persen pekerja Indonesia merasa dihargai dan 75 persen merasa pekerjaan mereka memberikan kepuasan batin.

Elemen spesifik yang paling membuat pekerja Indonesia bahagia meliputi rekan kerja atau tim sebesar 77 persen, lokasi tempat kerja sebesar 76 persen, serta tujuan kerja atau perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna sebesar 75 persen.

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor yang menjadi tantangan bagi pekerja Indonesia bahagia di tempat kerja, yaitu tingkat stres sebesar 44 persen dan tuntutan beban kerja sebesar 56 persen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Pemerintah
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
United Tractors Berdayakan Masyarakat Lereng Gunung Arjuno lewat Program Desa UniTy
Swasta
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang
LSM/Figur
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia 'Happy' karena Rekan dan Budaya Perusahaan
Bukan Gaji, Pekerja di Indonesia "Happy" karena Rekan dan Budaya Perusahaan
LSM/Figur
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
WWF Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Jurusan, Ini Syaratnya
LSM/Figur
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Kementerian LH Panggil Pemkab Bekasi Minta Tanggung Jawab soal Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
Skill Apa yang Wajib Dikuasai Pekerja pada Era AI?
LSM/Figur
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
WVI Galang Dana untuk Tingkatkan Literasi 3.000 Anak di Papua
LSM/Figur
Sistem Peringatan Dini Sudah Ada, tapi Tindak Lanjut Mitigasi di Indonesia Masih Lemah
Sistem Peringatan Dini Sudah Ada, tapi Tindak Lanjut Mitigasi di Indonesia Masih Lemah
LSM/Figur
Limbah Kulit Kacang Bisa Jadi Material Terkuat di Bumi, Baik untuk Alat Elektronik
Limbah Kulit Kacang Bisa Jadi Material Terkuat di Bumi, Baik untuk Alat Elektronik
Pemerintah
Emisi Karbon Kursi Kelas Bisnis di Pesawat Lebih Banyak dari Kelas Ekonomi
Emisi Karbon Kursi Kelas Bisnis di Pesawat Lebih Banyak dari Kelas Ekonomi
LSM/Figur
Banjir Berulang di Jawa Barat, Ahli Sebut Butuh Solusi Lebih dari Tindakan Viral
Banjir Berulang di Jawa Barat, Ahli Sebut Butuh Solusi Lebih dari Tindakan Viral
LSM/Figur
Brasil Minta Dunia Susun Roadmap Transisi Energi Jelang COP31
Brasil Minta Dunia Susun Roadmap Transisi Energi Jelang COP31
Pemerintah
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
AI Jadi Pisau Bermata Dua dalam Krisis Perusahaan, Bisa Bantu atau Hancurkan Reputasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau