Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekanan Besar di Laut Lepaskan Karbon-Nitrogen, Bisa Jadi Model Iklim Masa Depan

Kompas.com, 16 Maret 2026, 14:12 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tekanan besar di laut dalam melepaskan karbon dan nitrogen terlarut, yang memberikan nutrisi bagi mikroba laut. Temuan ini membantah anggapan sebelumnya yang menyebut laut sebagai ekosistem miskin nutrisi.

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Science Advances, peneliti University of Southern Denmark (SDU), Denmark, menyatakan, tekanan di lautan dapat memeras nutrisi yang dikenal sebagai partikel organik, marine snow.

Baca juga:

Tim peneliti menyebutkan, marine snow mulai melepaskan karbon dan nitrogen terlarut ketika mencapai kedalaman dua sampai enam kilometer. Nutrisi ini kemudian bisa dikonsumsi mikroba yang hidup pada laut dalam.

Menurut mereka, pelepasan terjadi lantaran tekanan hidrostatik yang sangat tinggi di kedalaman tersebut.

“Tekanan tersebut bekerja hampir seperti alat pemeras raksasa. Tekanan itu memeras senyawa organik terlarut keluar dari partikel, dan mikroba dapat langsung menggunakannya," kata penulis studi dari Nordcee dan Danish Center for Hadal Research, Peter Stief, dilansir dari SciTechDaily, Senin (16/3/2026).

Baca juga:

Tekanan besar di laut memberi nutrisi bagi mikroba laut

Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan. Dok. Freepik/Freepik Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan.

Para peneliti memperkirakan partikel yang tenggelam tersebut dapat melepaskan hingga 50 persen karbon asli, dan sekitar 58-63 persen nitrogen selama proses turun ke laut dalam.

Peneliti juga mengaitkan temuan baru ini yang berimplikasi dengan siklus karbon global.

Menurut tim peneliti, apabila marine snow kehilangan banyak karbon sebelum mencapai dasar laut, lebih sedikit karbon yang akhirnya tersimpan pada sedimen laut dalam dibandingkan yang selama ini diasumsikan ilmuwan.

Sebaliknya, lanjut Stief, karbon yang dilepaskan tetap terlarut di air laut dalam dan dapat bertahan selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum perlahan kembali ke permukaan laut lalu menuju atmosfer.

Setelah terperangkap di dasar laut, karbon dapat tetap tersimpan selama jutaan tahun. Dalam jangka waktu panjang, karbon yang terkubur dapat menumpuk dalam jumlah sangat besar. Alhasil, banyak minyak dan gas yang diekstraksi terbentuk melalui proses itu.

“Proses ini memengaruhi seberapa banyak karbon yang dapat disimpan oleh laut dan berapa lama penyimpanannya. Hal ini penting untuk memahami proses iklim dan meningkatkan model iklim di masa depan," jelas Stief.

Baca juga:

Potongan kecil yang saling menggumpal

Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan. Dok. Freepik/tirachard Tekanan yang besar di laut bisa memicu larutnya karbon dan nitrogen. Hal ini dinilai menjadi model iklim masa depan.

Para peneliti menyampaikan, marine snow terbentuk ketika potongan kecil material organik saling menggumpal. Partikel terdiri dari alga mati, mikroba, dan puing organik lainnya yang melayang di laut.

Ketika partikel berkumpul dan tenggelam melalui kolom air, bentuknya sering menyerupai serpihan salju kecil sehingga disebut marine snow.

Untuk meneliti proses ini di laboratorium, tim peneliti menciptakan marine snow buatan menggunakan diatom yakni alga mikroskopis. Mereka menaruh partikel dalam tangki tekanan khusus yang dirancang untuk menyimulasikan kondisi laut dalam.

Tangki terus berputar agar partikel tetap melayang dan tidak mengendap di dasar. Para peneliti menemukan sebagian besar material yang dilepaskan terdiri dari protein dan karbohidrat, zat yang mudah dikonsumsi oleh mikroba laut dalam.

Pengujian menunjukkan mikroba merespons dengan sangat cepat. Dalam waktu dua hari, jumlah bakteri meningkat 30 kali lipat dengan tingkat respirasi meningkat tajam. 

Para peneliti berharap dapat melakukan studi lanjutan dalam ekspedisi ke Arktik beberapa waktu mendatang. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau