KOMPAS.com - Jumlah gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan oleh sektor air limbah mungkin jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan selama ini, menurut makalah yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change.
Mobil, pabrik, dan pesawat bukanlah satu-satunya sumber utama emisi gas rumah kaca. Air yang kita buang melalui saluran pembuangan juga mengandung metana dan dinitrogen oksida dalam jumlah besar.
Faktanya, pengolahan air limbah bertanggung jawab juga atas persentase yang cukup besar dari emisi gas rumah kaca non-karbon dioksida (CO2) di dunia.
Baca juga:
Kebanyakan negara melacak tingkat polusi mereka melalui sesuatu yang disebut National Inventory Report (NIR/Laporan Inventaris Nasional), dilansir dari Phys.org, Senin (2/3/2026).
Namun, cara mereka menghitung emisi air limbah sangat bervariasi. Ada kerangka kerja bersama, tapi metode praktiknya berbeda-beda.
Dengan demikian, mereka menggunakan perhitungan matematika yang berbeda untuk mengestimasi angka-angka tersebut dan sering kali melewatkan sumber gas rumah kaca yang kecil, seperti kakus dan pembuangan air yang telah diolah.
Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan data dan fokus yang terlalu besar pada pabrik pengolahan pusat yang besar saja.
Para peneliti kemudian membandingkan metode pelaporan nasional dan menghitung ulang emisi menggunakan asumsi-asumsi yang diperbarui.
Mereka memeriksa apakah negara-negara telah menghitung semua cara air limbah dapat melepaskan gas, meninjau rumus yang mereka gunakan untuk menghitung emisi, dan mengevaluasi seberapa besar populasi yang tercakup oleh laporan-laporan tersebut.
Mereka menemukan bahwa banyak negara hanya melaporkan sumber-sumber yang terlihat jelas dan melewatkan sumber-sumber tersembunyi, seperti limbah yang bocor dari pipa rusak atau meluap setelah badai.
Baca juga:
Studi mengungkap emisi gas rumah kaca dari sektor air limbah jauh lebih tinggi dari laporan resmi. Potensinya mencapai 150 juta ton CO2e per tahun.Tim tersebut juga mencatat bahwa banyak negara masih mengandalkan faktor emisi yang sudah lama.
Mereka mengikuti pedoman tahun 2006, tapi pedoman ini mengasumsikan bahwa instalasi pengolahan modern itu bersih dan hampir tidak menghasilkan metana.
Padahal, menurut tes lapangan baru-baru ini, kenyataannya di lapangan agak berbeda. Selain itu, data dari beberapa negara berkembang sudah berusia lebih dari satu dekade.
Hasilnya, bagi 38 negara yang diteliti, para peneliti memperkirakan adanya kesenjangan pelaporan atau emisi yang tidak terlaporkan sebesar 52 hingga 73 juta ton setara-CO2 per tahun.
Ketika angka-angka ini dihitung secara proyeksi ke skala global, jumlahnya melonjak menjadi 94 hingga 150 juta metrik ton per tahun.
Dengan demikian, secara keseluruhan, sektor air limbah menyumbang sekitar lima hingga 6,5 persen dari total emisi gas rumah kaca non-CO2 dunia.
Temuan ini pun membuat peneliti menggarisbawahi perlunya pendekatan penghitungan yang lebih komprehensif pada masa depan untuk memperkuat data gas rumah kaca di sektor air limbah.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya