Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan

Kompas.com, 25 Maret 2026, 17:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kota Loni di India menjadi kota dengan kualitas udara terburuk tahun 2025. Berdasarkan laporan tahunan ke-8 World Air Quality Report 2025 IQAir, kadar rata-rata tahunan PM2.5 di kota ini mencapai 112,5 mikrogram per meter kubik (µg/m3), naik hampir 23 persen dari tahun 2024.

Angka PM2.5 Loni 22 kali lipat lebih besar dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang sebesar lima µg/m3.

Baca juga:

Wilayah dengan kualitas udara terburuk di dunia 2025

Dihitung berdasarkan PM 2.5

Selain India, IQAir juga melaporkan lima wilayah dengan udara paling tercemar, antara lain:

  1. Pakistan dengan PM2.5 sebesar 67,3 µg/m3
  2. Bangladesh dengan PM2.5 sebesar 66,1 µg/m3
  3. Tajikistan dengan PM2.5 sebesar 57,3 µg/m3
  4. Chad dengan PM2.5 sebesar 53,6 µg/m3
  5. Republik Demokratik Kongo dengan PM2.5 sebesar 50,2 µg/m3

"Sebanyak 25 kota paling tercemar di dunia seluruhnya berada di India, Pakistan, dan China. India menjadi lokasi tiga dari empat kota paling tercemar," tulis IQAir dalam keterangannya, dilansir Rabu (25/3/2026).

Kota besar paling tercemar di Amerika Serikat, antara lain El Paso, Texas, dan Southeast Los Angeles, California. Sementara Seattle, Washington menjadi kota besar paling bersih.

Sementara itu, Nieuwoudtville, Afrika Selatan, menjadi kota terbersih di dunia dengan rata-rata PM2.5 sebesar 1 µg/m3.

Situs Warisan Budaya Khuttal Kuno di Tajikistan yang masuk daftar situs warisan dunia UNESCO terbaru Juli 2025. Tajikistan termasuk negara dengan kualitas udara terburuk di dunia pada 2025.DOK. IICAS via UNESCO Situs Warisan Budaya Khuttal Kuno di Tajikistan yang masuk daftar situs warisan dunia UNESCO terbaru Juli 2025. Tajikistan termasuk negara dengan kualitas udara terburuk di dunia pada 2025.

Tahun ini, IQAir menganalisis data dari stasiun pemantauan di 9.446 kota di 143 negara, wilayah, dan teritori dengan tambahan 12 negara yang sebelumnya tidak disertakan pada 2024.

Dibandingkan tahun 2024, sebanyak 54 negara mengalami peningkatan rata-rata tahunan PM2.5. 

Tercatat, tidak ada kota di Asia Timur yang memenuhi pedoman PM2.5 WHO. Menurut IQAir, pola polusi di China menunjukkan pergeseran konsentrasi tinggi ke arah barat. 

Sementara itu, 23 negara Eropa mengalami peningkatan PM2.5 dan 18 negara mengalami penurunan. Polusi musiman diperburuk pembakaran kayu saat musim dingin, asap lintas batas dari kebakaran hutan Kanada, dan debu Sahara.

Di Amerika Latin dan Karibia, tren kualitas udara umumnya positif dengan 208 kota mengalami penurunan PM2.5, sedangkan 95 lainnya meningkat, dan sembilan wilayah tidak berubah.

Oseania tetap menjadi salah satu wilayah terbersih di dunia, dengan 61 persen kota memenuhi pedoman WHO, meskipun cuaca dingin ekstrem di New South Wales, Australia, pada Juni 2025 menyebabkan lonjakan musiman PM2.5.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau