Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW

Kompas.com, 12 Oktober 2026, 19:17 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Memensiunkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) menjadi fokus awal dalam program prioritas dalam mengakselerasi energi baru terbarukan (EBT).

Rencananya, terdapat sekitar 13 GW PLTD akan diganti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

‎"Ini adalah (program PLTS) 100 gigawatt karena pertama-tama kita mau mengakselerasi dengan menggantikan dengan yang saat ini sangat sangat tidak efisien dengan diesel. Ya, kurang lebih itu ada 13 gigawatt yang kita akan coba replace secara bertahap dalam bertahun-tahun," ujar Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara (Daya Anagata Nusantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani dalam Indonesia Internasional Sustainability Forum (ISF) 2026, Selasa (6/10/2026).

‎Ia mengklaim, keberadaan BPI Danatara memperkuat ekosistem kelembagaan dalam membuat tata kerja investasi menjadi jauh lebih terarah dan mempercepat proses eksekusi proyek-proyek hijau di lapangan.

‎Katalis utama dari percepatan ekosistem ini adalah pendanaan berkelanjutan. Saat ini, investasi hijau (green investment) telah menjadi salah satu kunci penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Sepanjang periode tahun 2025 - 2026, tren aliran modal menunjukkan bahwa proporsi investasi hijau yang masuk ke Indonesia telah mencapai 30 persen dari total keseluruhan investasi.

Jika dikalkulasikan dengan total proyeksi investasi nasional lebih dari Rp2.000 triliun pada 2025 - 2026, maka nilai investasi hijau yang berputar di Indonesia diperkirakan menembus angka Rp600 triliun. 

‎"Jadi, kita melihat trennya investasi, porsi investasi ini akan terus meningkat karena ini juga kita bisa menangkap semua hilirisasi. Hilirisasi dan paling penting bagaimana hilirisasi ini bisa berjalan di Indonesia dengan menjalankan asas-asas sustainability," tutur Rosan.

‎Investasi 'hijau'

‎Ada tiga sektor paling menonjol dalam investasi 'hijau'. Pertama, elektrifikasi yang mendorong hilirisasi pada sektor pertambangan, produksi sel baterai, sampai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). 

‎Kini, Indonesia telah memiliki fasilitas produksi sel baterai melalui kerja sama dengan Hyundai, serta Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL). Produksi sel baterai mulai beroperasi secara bertahap sejak Agustus 2026.

‎Rosan menyebut, sekitar satu dari enam mobil baru yang terjual di Indonesia saat ini merupakan EV berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Sedangkan dari dua pertiga EV tersebut juga telah dirakit di dalam negeri.

‎Kedua, hilirisasi yang lebih bersih dengan mengadopsi sumber EBT, terutama untuk mengoperasikan smelter dan industri pengolahan. Selain PLTS, sumber EBT yang diupayakan adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dengan disertai teknologi penyimpanan energi.

‎Apalagi, Indonesia diproyeksikan memiliki potensi EBT hampir 3.700 GW, dengan pemanfaatannya saat ini masih kurang dari 1 persen atau sekitar 15,4 GW.

‎Ketiga, pengembangan biofuel atau bahan bakar nabati. Indonesia telah meningkatkan bauran biodiesel atau bahan bakar nabati untuk dicampurkan ke solar sebesar 50 persen atau B50.

‎"Dalam dua bulan (sejak implementasi), B50 telah tersedia di sekitar 94 persen SPBU Pertamina," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau