JAKARTA, KOMPAS.com - Memensiunkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) menjadi fokus awal dalam program prioritas dalam mengakselerasi energi baru terbarukan (EBT).
Rencananya, terdapat sekitar 13 GW PLTD akan diganti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
"Ini adalah (program PLTS) 100 gigawatt karena pertama-tama kita mau mengakselerasi dengan menggantikan dengan yang saat ini sangat sangat tidak efisien dengan diesel. Ya, kurang lebih itu ada 13 gigawatt yang kita akan coba replace secara bertahap dalam bertahun-tahun," ujar Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara (Daya Anagata Nusantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani dalam Indonesia Internasional Sustainability Forum (ISF) 2026, Selasa (6/10/2026).
Ia mengklaim, keberadaan BPI Danatara memperkuat ekosistem kelembagaan dalam membuat tata kerja investasi menjadi jauh lebih terarah dan mempercepat proses eksekusi proyek-proyek hijau di lapangan.
Katalis utama dari percepatan ekosistem ini adalah pendanaan berkelanjutan. Saat ini, investasi hijau (green investment) telah menjadi salah satu kunci penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Sepanjang periode tahun 2025 - 2026, tren aliran modal menunjukkan bahwa proporsi investasi hijau yang masuk ke Indonesia telah mencapai 30 persen dari total keseluruhan investasi.
Jika dikalkulasikan dengan total proyeksi investasi nasional lebih dari Rp2.000 triliun pada 2025 - 2026, maka nilai investasi hijau yang berputar di Indonesia diperkirakan menembus angka Rp600 triliun.
"Jadi, kita melihat trennya investasi, porsi investasi ini akan terus meningkat karena ini juga kita bisa menangkap semua hilirisasi. Hilirisasi dan paling penting bagaimana hilirisasi ini bisa berjalan di Indonesia dengan menjalankan asas-asas sustainability," tutur Rosan.
Ada tiga sektor paling menonjol dalam investasi 'hijau'. Pertama, elektrifikasi yang mendorong hilirisasi pada sektor pertambangan, produksi sel baterai, sampai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Kini, Indonesia telah memiliki fasilitas produksi sel baterai melalui kerja sama dengan Hyundai, serta Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL). Produksi sel baterai mulai beroperasi secara bertahap sejak Agustus 2026.
Rosan menyebut, sekitar satu dari enam mobil baru yang terjual di Indonesia saat ini merupakan EV berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV). Sedangkan dari dua pertiga EV tersebut juga telah dirakit di dalam negeri.
Kedua, hilirisasi yang lebih bersih dengan mengadopsi sumber EBT, terutama untuk mengoperasikan smelter dan industri pengolahan. Selain PLTS, sumber EBT yang diupayakan adalah pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dengan disertai teknologi penyimpanan energi.
Apalagi, Indonesia diproyeksikan memiliki potensi EBT hampir 3.700 GW, dengan pemanfaatannya saat ini masih kurang dari 1 persen atau sekitar 15,4 GW.
Ketiga, pengembangan biofuel atau bahan bakar nabati. Indonesia telah meningkatkan bauran biodiesel atau bahan bakar nabati untuk dicampurkan ke solar sebesar 50 persen atau B50.
"Dalam dua bulan (sejak implementasi), B50 telah tersedia di sekitar 94 persen SPBU Pertamina," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya