Ming menyarankan orangtua untuk membuat resume kegagalan sebagai ritual keluarga untuk mencatat dan menghargai sebuah kesalahan.
"Kuncinya adalah mengubah sudut pandang. Jangan bertanya, 'Apa yang membuatmu gagal?'. Tanyakan, 'Apa yang kamu coba yang sulit? Apa yang kamu pelajari darinya?'. Normalisasikan dan bahkan hargai tindakan melampaui kemampuan seseorang dan kaitkan upaya itu dengan imbalan pertumbuhan," tutur Ming.
Baca juga:
AI berpotensi mengatasi tantangan yang memengaruhi kehidupan anak-anak. Mulai dari memperluas akses ke layanan kesehatan, mempercepat pendidikan berkualitas, hingga membangun ketahanan iklim iklim di komunitas yang kekurangan sumber daya.
Namun, dilansir dari laman UNICEF, AI tidak dirancang dengan mempertimbangkan hak dan kesejahteraan anak. Imbasnya, AI juga berisiko menyebabkan kerugian nyata bagi anak-anak.
"Keputusan yang dibuat hari ini akan menentukan apakah AI akan memperburuk ketidaksetaraan atau membantu menghapuskannya," demikian keterangan dari laman resmi UNICEF.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya