Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Robot AI Diperkirakan Bisa Lebihi Jumlah Pekerja Manusia

Kompas.com, 20 Maret 2026, 18:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ECB, CNBC

KOMPAS.com - Robot AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) diperkirakan akan melampaui jumlah pekerja dalam beberapa dekade mendatang, seiring semakin banyaknya perusahaan mengadopsi agen AI dan terus menekan biaya.

Pekerja manusia diprediksi akan terpinggirkan, apalagi karena para pemimpin perusahaan terus memprioritaskan profitabilitas.

Baca juga:

“Kita memiliki sistem kepemimpinan dalam hal ekonomi dan bisnis yang menjunjung tinggi profitabilitas," ujar penulis buku AI – Anarchy or Abundance? Why the Future of Work Needs Pro-Human Leaders, Rob Garlick, dilansir dari CNBC, Kamis (19/3/2026).

"Ketika Anda menggabungkan profitabilitas dengan kemajuan teknologi, kita akan menyaksikan perdagangan terbesar dalam sejarah, yang pada dasarnya adalah kecerdasan buatan akan mampu melakukan lebih banyak hal, lebih baik dan lebih murah, dan itu akan mampu menggantikan peran manusia," tambah Garlick.

Robot AI diperkirakan bisa ganti pekerja manusia

Jumlah robot diprediksi naik jadi 1,3 miliar tahun 2035

Robot AI diperkirakan akan meningkat menjadi 1,3 miliar pada 2035, serta menggantikan pekerja manusia.Dok. Freepik/user6702303 Robot AI diperkirakan akan meningkat menjadi 1,3 miliar pada 2035, serta menggantikan pekerja manusia.

Berdasarkan laporan Citi Global Insights tahun 2024 yang dipimpin Garlick, jumlah robot AI akan meroket sebagai akibat dari keputusan bisnis ini.

“Dalam beberapa dekade mendatang, jumlah robot bergerak akan melebihi jumlah pekerja, lalu ditambah lagi dengan agen-agen kecil, dan jumlahnya akan meledak,” tutur mantan kepala inovasi, teknologi, dan masa depan pekerjaan di Citi Global Insights itu.

Robot AI, dari humanoid hingga robot pembersih rumah tangga dan kendaraan otonom, diperkirakan akan meningkat menjadi 1,3 miliar pada tahun 2035.

Jumlah robot AI tersebut juga diperkirakan akan meningkat pesat menjadi lebih dari empat miliar pada tahun 2050.

Bahkan, laporan Citi Global Insights tahun 2024 juga mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan robot AI untuk mengembalikan modalnya melalui penghematan biaya dengan mengganti pekerja manusia.

Misalnya, robot AI seharga 15.000 dollar Amerika Serikat (AS) (sekitar) Rp 254 juta) akan mencapai titik impas dalam 3,8 minggu untuk pekerjaan manusia dengan 41 dollar AS per jam (sekitar Rp 695.000).

Atau, robot AI seharga 35.000 dollar AS (sekitar Rp 593 juta) akan memiliki waktu pengembalian modal selam 8,9 minggu untuk pekerjaan manusia dengan upah 41 dollar AS per jam.

“Anda sudah bisa membeli robot humanoid saat ini, yang memberikan periode pengembalian modal dibandingkan pekerja manusia kurang dari 10 minggu. Manusia tidak bisa bersaing dalam hal ini," ucap Garlick.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau