Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Cara Yunani Lindungi Warisan Budaya Dunia dari Krisis Iklim

Kompas.com, 29 Maret 2026, 17:16 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Warisan budaya Yunani terdampak krisis iklim cukup parah. Akibatnya,  pemerintah negara tersebut mengucurkan dana 25 juta dollar AS atau setara Rp 424 miliar untuk melindungi warisan budayanya.

Yunani menetapkan strategi nasional untuk melindungi warisan budaya sebagai tujuan jangka panjang hingga 2050, dengan tolok ukur setiap lima tahun, dilansir dari Greek Reporter, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga:

Perlindungan tersebut menargetkan situs arkeologi dan monumen, dengan langkah pencegahan melibatkan penelitian ilmiah, perangkat digital, serta kerja sama internasional untuk memperkuat ketahanan beberapa aset budaya terpenting di Yunani.

Direktorat Purbakala Prasejarah dan Klasik Yunani mengembangkan strategi ini bersama Universitas Nasional dan Kapodistrian Athena, Yayasan Riset Nasional, Kementerian Krisis Iklim dan Perlindungan Sipil, serta Kementerian Lingkungan dan Energi Yunani.

Warisan budaya Yunani terdampak krisis iklim

Penilaian risiko

Pantai Avlaki di Porto Rafti, Yunani. Dari Knossos hingga Mycenae, warisan budaya Yunani menghadapi ancaman krisis iklim. Bagaimana Yunani melindungi warisan budayanya?Dok. Shutterstock/M-Production Pantai Avlaki di Porto Rafti, Yunani. Dari Knossos hingga Mycenae, warisan budaya Yunani menghadapi ancaman krisis iklim. Bagaimana Yunani melindungi warisan budayanya?

Selain pencegahan krisis iklim, strategi perlindungan warisan budaya di Yunani juga berfokus pada penilaian risiko nasional, yang meneliti tingkat paparan, kerentanan, serta bahaya di seluruh negeri.

Salah satu strateginya terkait proyek infrastruktur preventif untuk melindungi situs arkeologi yang rentan dari kerusakan akibat krisis iklim.

Langkah pencegahan meliputi sistem proteksi kebakaran, pekerjaan pengendalian banjir, dan proyek mitigasi tanah longsor.

Di sisi lain, Yunani juga meluncurkan perangkat dan platform digital untuk menilai risiko dan membantu pihak berwenang memilih rencana adaptasi yang disesuaikan untuk setiap lokasi.

Strategi perlindungan warisan budaya ini juga menetapkan sistem pemantauan dan evaluasi yang selaras dengan indikator internasional yang diadopsi pada COP30 tahun 2025 di Belém, Brasil.

Yunani telah menerapkan rencana adaptasi krisis iklim percontohan di 19 situs arkeologi yang menghadapi risiko iklim sedang atau tinggi. Situs tersebut termasuk Delphi, Olympia, Mycenae, Knossos, dan Delos.

Baca juga:

Pemandangan Acropolis di Athena, Yunani. Dari Knossos hingga Mycenae, warisan budaya Yunani menghadapi ancaman krisis iklim. Bagaimana Yunani melindungi warisan budayanya?UNSPLASH/CONSTANTINOS KOLLIAS Pemandangan Acropolis di Athena, Yunani. Dari Knossos hingga Mycenae, warisan budaya Yunani menghadapi ancaman krisis iklim. Bagaimana Yunani melindungi warisan budayanya?

Strategi perlindungan warisan budaya tersebut juga mencakup pembahan terhadap lima ancaman iklim utama yaitu kebakaran hutan, banjir, kekeringan, panas ekstrem, dan naiknya permukaan laut.

Sebelumnya, laporan UNESCO pada pertengahan 2025 mengungkapkan, lebih dari sepertiga kota warisan dunia di Mediterania berada di daerah pesisir.

Sepertiga penduduk Mediterania saat ini juga tinggal di dekat laut, yang terpapar dampak iklim seperti banjir akibat kenaikan permukaan laut, perubahan frekuensi gelombang ekstrem dan gelombang badai, serta intrusi air asin ke dalam akuifer pesisir.

Dari total 49 situs warisan budaya dunia di daerah pesisir dataran rendah Mediterania, sebanyak 37 di antaranya berisiko terkena banjir 100 tahunan pada 2018, dilansir dari laman UNESCO.

Kebakaran hutan di dalam dan sekitar kota-kota bersejarah juga berdampak signifikan di beberapa negara, seperti Albania, Kroasia, Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, dan Turkiye.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau