KOMPAS.com - Rasa takut dinilai bisa jadi strategi membangun dukungan masyarakat terkait kebijakan iklim, tentunya dalam tingkat yang terkendali.
Jika ada rasa takut yang berlebihan, masyarakat bisa merasa tidak berdaya menghadapi krisis iklim.
Sebaliknya, bila rasa takut berkurang, masyarakat cenderung mendukung kebijakan iklim yang solutif, dilansir dari Phys.org, Selasa (24/3/2026).
Baca juga:
Rasa takut dinilai bisa jadi strategi membangun dukungan masyarakat terkait kebijakan iklim, tentunya dalam tingkat yang terkendali. Studi terbaru dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan, rasa takut yang terkendali dapat mendorong masyarakat terlibat dan mendukung kebijakan untuk mengatasi krisis iklim.
Berbeda dengan ketakutan, kecemasan justru menyebabkan masyarakat cenderung enggan mendukung kebijakan iklim.
Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa perasaan takut berkorelasi dengan dukungan yang lebih besar terhadap kebijakan iklim. Sementara itu, perasaan cemas berlebihan malah berarti dukungan yang lebih kecil.
Namun, ketakutan yang mendalam dan terlalu intens justru memicu rasa kurang percaya terhadap efektivitas kebijakan untuk penanganan krisis iklim.
Hal itu selaras dengan studi sebelumnya yang meunjukkan bahwa hubungan antara intensitas rasa takut dan perubahan perilaku. Dengan demikian, tingkat rasa takut yang dapat dikelola akan memotivasi.
Di sisi lain, rasa takut yang terlampaui sedikit akan gagal memotivasi, dan terlalu banyak malah menyebabkan keengganan individu untuk sama sekali terlibat dalam kebijakan iklim.
Temuan dari studi ini mengungkapkan, kepercayaan terhadap krisis iklim di Inggris sudah tergolong tinggi.
Ketika diminta untuk menilai empat pernyataan termasuk aktivitas penyebab krisis iklim dan urgensinya sebagai keadaan darurat, responden memperoleh skor rata-rata 339 dari 400.
Hasi tersebut menunjukkan penerimaan publik yang luas, meskipun emosi individu tidak memprediksi tingkat kepercayaan responden.
Studi ini untuk pertama kali meneliti apakah emosi sehari-hari individu, entah saat memikirkan krisis iklim atau tidak, memengaruhi keyakinannya dan kesediaannya untuk mendukung kebijakan yang dirancang untuk mengatasinya.
"Meskipun merupakan emosi yang paling mirip dari 10 emosi yang kami uji, hasil kami menunjukkan perbedaan yang jelas dan penting antara rasa takut dan kecemasan. Merasa takut tampaknya memotivasi orang dan dikaitkan dengan dukungan yang lebih besar terhadap kebijakan iklim," kata penulis utama studi tersebut sekaligus dosen psikologi di Anglia Ruskin University (ARU), Sarah Gradidge,
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya