Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waktu Sehari di Bumi Ternyata Makin Lama akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 17 Maret 2026, 08:14 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Satu hari di bumi bisa jadi tidak lagi 24 jam. Kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim memperlambat rotasi bumi, sekaligus memperpanjang durasi rata-rata dalam sehari.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth mengungkapkan, kecepatan durasi rata-rata satu hari di bumi saat ini mencapai 1,33 milidetik tambahan tiap abad, dengan tingkat laju yang belum pernah terjadi dalam 3,6 juta tahun terakhir.

Baca juga:

"Dalam penelitian kami sebelumnya, kami menunjukkan bahwa mencairnya lapisan es kutub dan gletser pegunungan yang semakin cepat pada abad ke-21 menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang memperlambat rotasi bumi dan akibatnya memperpanjang durasi satu hari," jelas Mostafa Kiani Shahvandi dari Departemen Meteorologi dan Geofisika di University of Vienna, Austria, dilansir dari laman resminya, Senin (16/3/2026).

Shahvandi mengibaratkannya dengan peseluncur es yang berputar lebih lambat saat mengulurkan tangannya, dan berputar lebih cepat saat menempelkan tangannya ke tubuh.

Sebagai informasi, studi ini dari University of Vienna dan Swiss Federal Institute of Technology Zurich.

Waktu sehari di bumi lebih lama akibat krisis iklim

Pengaruh krisis iklim lebih besar dibanding bulan

Merasa hari berjalan lebih lama? Kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim perlambat rotasi bumi dan perpanjang durasi rata-rata dalam sehari. Dok. Freepik/Freepik Merasa hari berjalan lebih lama? Kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim perlambat rotasi bumi dan perpanjang durasi rata-rata dalam sehari.

Bagi kebanyakan orang, satu hari akan berlangsung selama 24 jam, tidak lebih atau kurang sedetik pun.

Namun, kenyataannya, durasi hari tertentu bisa bervariasi, antara lain akibat gaya gravitasi bulan terhadap planet, proses geofisika di dalam dan di permukaan bumi, serta kondisi atmosfer, dikutip dari Scientific American.

Penulis senior studi tersebut sekaligus ahli geofisika di Swiss Federal Institute of Technology Zurich, Benedikt Soja menganggap, krisis iklim diperkirakan akan berpengaruh lebih besar dibanding bulan terhadap durasi hari di bumi pada akhir abad ini.

"Meskipun perubahannya hanya dalam hitungan milidetik, hal itu dapat menyebabkan masalah di banyak bidang, misalnya dalam navigasi ruang angkasa yang presisi, yang membutuhkan informasi akurat tentang rotasi bumi," ujar Soja.

Studi tersebut menunjukkan, laju peningkatan durasi hari saat ini lebih tinggi daripada jutaan tahun lalu.

Dengan menganalisis komposisi kimia fosil organisme bersel tunggal bernama benthic foraminifera, para peneliti menyimpulkan adanya perubahan permukaan laut selama 3,6 juta tahun terakhir.

"Berdasarkan komposisi kimiawi fosil foraminifera, kita dapat menyimpulkan fluktuasi permukaan laut dan kemudian secara matematis menghitung perubahan durasi siang hari yang sesuai," ucap Shahvandi.

Langkah selanjutnya, para peneliti menghitung perubahan yang sesuai dalam panjang hari. Mereka memakai algoritma pembelajaran mendalam probabilistik untuk memodelkan fisika perubahan permukaan laut dengan lebih baik.

Mereka menemukan, seiring terbentuk dan mencairnya es di planet ini, durasi hari di bumi telah berfluktuasi secara bersamaan.

Namun, laju peningkatan panjang hari saat ini merupakan anomali.

"Hanya sekali, sekitar dua juta tahun yang lalu, laju perubahan panjang hari hampir sebanding, tapi tidak pernah sebelumnya atau sesudahnya ‘peluncur es’ planet ini mengangkat tangannya dan menaikkan permukaan laut secepat yang terjadi pada tahun 2000 hingga 2020," kata Shahvandi.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau