KOMPAS.com - Desain kilang minyak di Indonesia dinilai belum sepenuhnya selaras dengan karakteristik produksi minyak domestik, sehingga berkontribusi pada tingginya ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan bahwa sebagian besar kilang di Indonesia dirancang untuk mengolah minyak mentah berat (heavy crude), yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
“Kalau minyak mentah ringan dijual, lalu kita beli minyak dari Timur Tengah yang lebih murah, itu karena kilang kita memang didesain untuk minyak berat,” ujar Yayan kepada Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Dunia Terancam Krisis Energi, Kilang Terbesar ke-4 Dunia Berhenti Operasi
Secara teknis, kilang minyak memiliki spesifikasi tertentu dalam mengolah bahan baku. Beberapa kilang di Indonesia bahkan dirancang mengikuti karakteristik minyak Timur Tengah, yang umumnya memiliki kandungan sulfur lebih tinggi dan menghasilkan residu lebih besar.
Di sisi lain, Indonesia juga memproduksi minyak mentah ringan (light sweet crude) dengan kandungan sulfur rendah yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar global. Akibatnya, terjadi pola ekspor minyak ringan dan impor minyak berat untuk kebutuhan pengolahan dalam negeri.
Data industri juga menunjukkan komposisi minyak yang diolah di kilang domestik didominasi minyak berat dan super berat, mencapai lebih dari 60 persen, sementara minyak ringan hanya sebagian kecil.
Kondisi tersebut membuat sistem energi nasional rentan terhadap gangguan pasokan global, termasuk akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Yayan menilai, Indonesia turut terdampak jika terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, meski jalur tersebut hanya menyumbang sekitar 18–21 persen pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke Indonesia.
Pasalnya, Indonesia juga masih mengimpor BBM dari Singapura, yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari kawasan tersebut.
“Produk BBM seperti Pertalite dan Pertamax banyak diimpor dari Singapura, sementara sekitar 80 persen pasokan energi Singapura melewati Selat Hormuz,” kata dia.
Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah mulai membuka peluang diversifikasi sumber impor energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pihaknya telah diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mencari sumber pasokan minyak dari berbagai negara.
“Bapak Presiden memerintahkan kami untuk segera mencari pasokan minyak dari berbagai negara dan mengoptimalkan sumber energi yang ada,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, hingga menjelang Lebaran 2026, pasokan energi nasional, termasuk bensin, solar, dan LPG, masih dalam kondisi aman.
Ke depan, pengamat menilai Indonesia perlu menyesuaikan konfigurasi kilang agar lebih fleksibel dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah, sekaligus mengurangi ketergantungan impor BBM yang masih tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya