Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi: Desain Kilang Sebabkan RI Tergantung pada Pasokan Minyak Timur Tengah

Kompas.com, 30 Maret 2026, 14:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Desain kilang minyak di Indonesia dinilai belum sepenuhnya selaras dengan karakteristik produksi minyak domestik, sehingga berkontribusi pada tingginya ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).

Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan bahwa sebagian besar kilang di Indonesia dirancang untuk mengolah minyak mentah berat (heavy crude), yang banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.

“Kalau minyak mentah ringan dijual, lalu kita beli minyak dari Timur Tengah yang lebih murah, itu karena kilang kita memang didesain untuk minyak berat,” ujar Yayan kepada Kompas.com, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: Dunia Terancam Krisis Energi, Kilang Terbesar ke-4 Dunia Berhenti Operasi

Secara teknis, kilang minyak memiliki spesifikasi tertentu dalam mengolah bahan baku. Beberapa kilang di Indonesia bahkan dirancang mengikuti karakteristik minyak Timur Tengah, yang umumnya memiliki kandungan sulfur lebih tinggi dan menghasilkan residu lebih besar.

Di sisi lain, Indonesia juga memproduksi minyak mentah ringan (light sweet crude) dengan kandungan sulfur rendah yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar global. Akibatnya, terjadi pola ekspor minyak ringan dan impor minyak berat untuk kebutuhan pengolahan dalam negeri.

Data industri juga menunjukkan komposisi minyak yang diolah di kilang domestik didominasi minyak berat dan super berat, mencapai lebih dari 60 persen, sementara minyak ringan hanya sebagian kecil.

Kondisi tersebut membuat sistem energi nasional rentan terhadap gangguan pasokan global, termasuk akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dampak Gejolak Timur Tengah

Yayan menilai, Indonesia turut terdampak jika terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, meski jalur tersebut hanya menyumbang sekitar 18–21 persen pasokan minyak mentah dari Timur Tengah ke Indonesia.

Pasalnya, Indonesia juga masih mengimpor BBM dari Singapura, yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari kawasan tersebut.

“Produk BBM seperti Pertalite dan Pertamax banyak diimpor dari Singapura, sementara sekitar 80 persen pasokan energi Singapura melewati Selat Hormuz,” kata dia.

Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah mulai membuka peluang diversifikasi sumber impor energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan pihaknya telah diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mencari sumber pasokan minyak dari berbagai negara.

“Bapak Presiden memerintahkan kami untuk segera mencari pasokan minyak dari berbagai negara dan mengoptimalkan sumber energi yang ada,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Kamis (26/3/2026).

Ia menambahkan, hingga menjelang Lebaran 2026, pasokan energi nasional, termasuk bensin, solar, dan LPG, masih dalam kondisi aman.

Ke depan, pengamat menilai Indonesia perlu menyesuaikan konfigurasi kilang agar lebih fleksibel dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah, sekaligus mengurangi ketergantungan impor BBM yang masih tinggi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau