KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut konflik AS-Israel vs Iran menjadi pelajaran penting betapa rentannya dunia akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Diketahui, perang antar negara tersebut menyebabkan harga minyak dunia naik.
Sekretaris Eksekutif badan PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC), Simon Stiell, mencatat Uni Eropa telah merasakan dampaknya melalui lonjakan harga energi global. Harga gas di Eropa melonjak hingga 50 persen selama perang dua pekan itu.
"Ketergantungan pada bahan bakar fosil merampas keamanan dan kedaulatan nasional, dan menggantinya dengan kepatuhan serta naiknya biaya. Eropa lebih bergantung pada impor bahan bakar fosil dibandingkan negara ekonomibesar lainnya," ungkap Stiell dilansir dari Reuters, Senin (13/3/2026).
Baca juga: Konflik AS-Israel Vs Iran Jadi Momentum Indonesia Percepat Penggunaan BBM Bersih
Uni Eropa sendiri mengimpor lebih dari 90 persen minyak dan 80 persen kebutuhan gas. Karenanya, para pemimpin negara Uni Eropa bergegas menyusun langkah darurat guba melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.
Selain itu, menghindari terulangnya krisis energi Eropa seperti tahun 2022, ketika Rusia memangkas ekspor gas yang menyebabkan harga naik ke rekor tertinggi.
Komisi Eropa menyatakan, strategi perubahan iklim dalam jangka panjang untuk mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan serta nuklir yang diproduksi secara lokal.
Sehingga, dapat menjamin keamanan energi negara anggota, dan membebaskan mereka dari fluktuasi harga bahan bakar yang tidak menentu.
Stiell berpandangan, peralihan ke sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya membantu setiap negara mendapatkan energi yang lebih murah, lapangan kerja di industri teknologi bersih, hingga keamanan pasokan energi bersih.
Baca juga: Sektor Energi Sumbang 75 Persen Emisi Global, Ini Pentingnya Transparansi Data di Indonesia
"Energi terbarukan mengubah keadaan. Sinar matahari tidak lagi bergantung pada selat pelayaran yang sempit dan rawan," ucap dia.
Mengutip laman resmi PBB, energi terbarukan akan melampaui batu bara sebagai sumber listrik utama dunia pada 2025, dengan lebih dari 2 triliun dollar AS (Rp 33,9 kuadriliun) diinvestasikan dalam energi bersih dua kali lipat dari bahan bakar fosil.
Sebagai pemimpin dalam aksi dan ambisi iklim, keputusan Eropa menjalankan Skema Perdagangan Emisi, mendorong investasi dan inovasi, dengan perusahaan-perusahaan di dunia berada di garis depan industri bersih dan pertumbuhan.
“Eropa dapat secara permanen merebut tambang emas investasi multi-triliun euro yang baru saja dimulai dengan merangkul pertumbuhan hijau, memanfaatkan berbagai kekuatan termasuk pendidikan, lembaga yang kuat, regulasi yang cerdas, keadilan sosial dan inovasi serta kekayaan intelektual, dan dengan mendukungnya dengan rencana dan kebijakan," papar Steill.
Diberitakan Kompas.com, harga minyak dunia melonjak pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat atau Senin (16/3/2026) pagi, di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang telah memasuki pekan ketiga.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Harga minyak mentah AS sempat menembus 100 dollar AS (Rp 1,69 juta) per barel sebelum turun tipis dan diperdagangkan di sekitar 98,9 dollar AS (1,67 juta) per barel pada pukul 22.28 waktu setempat.
Sementara itu, harga minyak Brent crude oil sebagai acuan internasional naik 1,2 persen menjadi 104,2 dollar AS (Rp 1,76 juta) per barel.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya