Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim, BRIN Sebarkan Varietas Padi Tahan Kekeringan

Kompas.com, 30 Maret 2026, 16:13 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan melepaskan varietas padi tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman (multi-toleran).

Sebagian besar sentra produksi padi yang ada di kawasan pesisir jadi alasan pengembangan varietas tersebut.

Baca juga:

Hal itu ditambah dengan adanya krisis iklim yang memungkinkan banjir, kekeringan, serta salinitas dapat terjadi dalam satu musim tanam sehingga menurunkan hasil dan berisiko gagal panen.

Selain sudah melewati seleksi molekuler untuk kekeringan dan salinitas, varietas padi ini juga disebut lolos ketahanan terhadap hama dan penyakit. Setelah berbagai pengujian, saat ini varietas tersebut sedang menjalani uji multi-lokasi.

"Rencananya varietas ini akan dilepaskan di tahun 2026 ini. Mudah-mudahan juga bisa secepatnya diadopsi di daerah," kata Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Baca juga:

BRIN lepaskan varietas padi tahan kekeringan

Produksi padi menurun akibat krisis iklim

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha saat menjelaskan pengembangan varietas padi tahan kekeringan, salinitas, dan banjir  dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rentan Bencana, Senin (30/3/2026).KOMPAS.com/Manda Firmansyah Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha saat menjelaskan pengembangan varietas padi tahan kekeringan, salinitas, dan banjir dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rentan Bencana, Senin (30/3/2026).

Krisis iklim berdampak langsung terhadap penurunan produksi tanaman padi, dengan heat stress pada siang hari. 

Pada malam harinya, kenaikan suhu menganggu akumulasi fotosintesisnya, yang akhirnya memengaruhi kualitas biji padi.

Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), krisis iklim berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar Rp 112 triliun pada tahun 2023.

Krisis iklim berdampak pada berbagai aspek pangan, dari gagal panen, ketersediaan pangan yang menipis, sampai volatilitas harga.

"Kontribusinya itu beragam ya, misalkan gagal panen secara langsung itu 40 persen, kemudian terkait kerusakan infrastruktur itu 20 persen dan seterusnya menurut catatan Kementerian Keuangan. Artinya memang secara ekonomis dampak perubahan iklim ini sangat-sangat merugikan," jelas Yudhistira.

Baca juga: Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri

BRIN akan melepaskan varietas padi tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman (multi-toleran).Dok. PEXELS/icon0.com BRIN akan melepaskan varietas padi tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman (multi-toleran).

Di sisi lain, secara tidak langsung, kenaikan suhu meningkatkan metabolisme organisme pengganggu tanaman (OPT), dengan siklus hidup semakin singkat dan mudah bermultiplikasi.

Kekeringan juga menurunkan C/N (carbon/nitrogen) ratio tanaman, yang memicu serangga menjadi lebih rakus dan tanaman semakin peka.

Krisis iklim juga mengakibatkan perembesan air laut ke dalam akuifer air tanah sehingga peningkatan kadar garam atau salinitas semakin meluas.

Dalam menghadapi krisis iklim, sektor pertanian padi perlu mengadopsi strategi adaptasi dan mitigasi.

Strategi mitigasi krisis menuntut sektor pertanian berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oxide (N2).

Sementara itu, strategi adaptasi mengharuskan sektor pertanian padi meningkatkan produktivitas dan ketahanan di tengah krisis iklim.

Salah satunya dengan praktik budi daya cerdas iklim pada padi dengan menentukan pola dan waktu tanaman varietas unggul, penambahan pupuk organik dan kompos, sampai pengelolaan lahan dan air.

Baca juga: BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau