KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan melepaskan varietas padi tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman (multi-toleran).
Sebagian besar sentra produksi padi yang ada di kawasan pesisir jadi alasan pengembangan varietas tersebut.
Baca juga:
Hal itu ditambah dengan adanya krisis iklim yang memungkinkan banjir, kekeringan, serta salinitas dapat terjadi dalam satu musim tanam sehingga menurunkan hasil dan berisiko gagal panen.
Selain sudah melewati seleksi molekuler untuk kekeringan dan salinitas, varietas padi ini juga disebut lolos ketahanan terhadap hama dan penyakit. Setelah berbagai pengujian, saat ini varietas tersebut sedang menjalani uji multi-lokasi.
"Rencananya varietas ini akan dilepaskan di tahun 2026 ini. Mudah-mudahan juga bisa secepatnya diadopsi di daerah," kata Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).
Baca juga:
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha saat menjelaskan pengembangan varietas padi tahan kekeringan, salinitas, dan banjir dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rentan Bencana, Senin (30/3/2026).Krisis iklim berdampak langsung terhadap penurunan produksi tanaman padi, dengan heat stress pada siang hari.
Pada malam harinya, kenaikan suhu menganggu akumulasi fotosintesisnya, yang akhirnya memengaruhi kualitas biji padi.
Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), krisis iklim berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi Indonesia sebesar Rp 112 triliun pada tahun 2023.
Krisis iklim berdampak pada berbagai aspek pangan, dari gagal panen, ketersediaan pangan yang menipis, sampai volatilitas harga.
"Kontribusinya itu beragam ya, misalkan gagal panen secara langsung itu 40 persen, kemudian terkait kerusakan infrastruktur itu 20 persen dan seterusnya menurut catatan Kementerian Keuangan. Artinya memang secara ekonomis dampak perubahan iklim ini sangat-sangat merugikan," jelas Yudhistira.
Baca juga: Jangan Tertipu Air Sinkhole yang Jernih, BRIN Ingatkan Bahaya Bakteri
BRIN akan melepaskan varietas padi tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman (multi-toleran).Di sisi lain, secara tidak langsung, kenaikan suhu meningkatkan metabolisme organisme pengganggu tanaman (OPT), dengan siklus hidup semakin singkat dan mudah bermultiplikasi.
Kekeringan juga menurunkan C/N (carbon/nitrogen) ratio tanaman, yang memicu serangga menjadi lebih rakus dan tanaman semakin peka.
Krisis iklim juga mengakibatkan perembesan air laut ke dalam akuifer air tanah sehingga peningkatan kadar garam atau salinitas semakin meluas.
Dalam menghadapi krisis iklim, sektor pertanian padi perlu mengadopsi strategi adaptasi dan mitigasi.
Strategi mitigasi krisis menuntut sektor pertanian berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oxide (N2).
Sementara itu, strategi adaptasi mengharuskan sektor pertanian padi meningkatkan produktivitas dan ketahanan di tengah krisis iklim.
Salah satunya dengan praktik budi daya cerdas iklim pada padi dengan menentukan pola dan waktu tanaman varietas unggul, penambahan pupuk organik dan kompos, sampai pengelolaan lahan dan air.
Baca juga: BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya