Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir dan Longsor Bikin Tanah Kurang Subur, BRIN Jelaskan Alasannya

Kompas.com, 31 Maret 2026, 13:16 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Banjir bandang dan tanah longsor dapat menyebabkan tanah kurang subur. Sebab, bencana hidrometeorologi tersebut bisa mengubah struktur solum tanah, atau bagian terluar tanah dari permukaan sampai lapisan di mana perakaran tanaman tidak dapat menjangkaunya.

Longsor membalikkan posisi struktur, dengan lapisan teratas solum tanah dari lokasi kejadian ambrol ke lapisan di bawahnya. Yang tersisa di lokasi kejadian longsor adalah solum tanah dari lapisan yang paling dalam.

Baca juga:

Padahal solum tanah kaya akan unsur hara, yang mana dibutuhkan tanaman dan berada di lapisan atas. Solum tanah terluar tersebut juga kaya akan bahan organik.

"Tentunya kesuburan tanahnya akan berkurang. Demikian juga banjir ya," ujar Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Longsor dan banjir ubah struktur tanah yang kaya unsur hara

Perlu rehabilitasi dengan bahan organik

Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?

Banjir akan menggerus dan membawa lapisan atas solum tanah ke daerah lain. Seperti longsor, banjir memindahkan lapisan solum tanah yang lebih subur ke lokasi lain.

Imbasnya, banjir menyisakan solum tanah dari lapisan lebih dalam yang kurang subur.

Solum tanah bekas banjir atau longsor perlu direhabilitasi dengan menggunakan bahan organik.

Tanah terdegradasi itu juga dapat direhabilitasi dengan pengkondisian menggunakan kation-kation basa.

"Biasanya kation-kation basa yang ada itu sudah tercuci sehingga ada kation-kation yang sifatnya asam ya, perlu pengapuran, kemudian perlu aplikasi dan sebagainya. Intinya adalah perlu perbaikan tanah tersebut," tutur Yudhistira.

Sementara itu, daerah lain yang menampung lapisan atas solum tanah dari wilayah terdampak banjir atau longsor, akan menjadi semakin subur.

Perubahan struktur kimia dari solum tanah akibat banjir atau longsor perlu dicek ulang.

Varietas-varietas tanaman untuk solum tanah terdegradasi banjir atau longsor harus adaptif dengan kondisi miskin hara.

"Ada beberapa varietas yang toleran terhadap kemasaman. Jadi itu bisa dilihat di deskripsi, misalkan untuk tanaman padi, biasanya tanaman padi di lahan kering itu sudah tahan terhadap kemasaman atau keracunan aluminium," ucap dia.

Baca juga:

Varietas unggul

Kondisi salah satu rumah warga di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang rusak diterjang tanah longsor, Selasa (3/2/20206). Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?Dok. BPBD Cianjur Kondisi salah satu rumah warga di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang rusak diterjang tanah longsor, Selasa (3/2/20206). Bencana alam seperti banjir dan longsor tak hanya merusak infrastruktur, tapi juga menghilangkan kesuburan tanah. Mengapa demikian?

BRIN akan melepaskan varietas padi multi-toleran atau tahan terhadap kekeringan, salinitas, serta rendaman. Salah satunya karena mayoritas sentra produksi padi berada di kawasan pesisir.

Pengembangan varietas padi ini juga dilatarbelakangi krisis iklim yang memungkinkan banjir, kekeringan, serta salinitas dapat terjadi dalam satu musim tanam sehingga menurunkan hasil dan berisiko gagal panen.

Selain sudah melewati seleksi molekuler untuk kekeringan dan salinitas, varietas padi ini juga lolos ketahanan terhadap hama dan penyakit. Setelah berbagai pengujian, saat ini varietas padi tersebut sedang menjalani uji multi lokasi.

"Rencananya varietas ini akan dilepaskan di tahun 2026 ini. Mudah-mudahan juga bisa secepatnya diadopsi di daerah," ujar Yudhistira.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau