KOMPAS.com - Kebakaran hutan meninggalkan dampak jangka panjang. Ketika hujan turun di lanskap yang hangus, hal itu meningkatkan limpasan permukaan dan erosi tanah yang dapat berlangsung selama puluhan tahun, menurut penelitian di Nature Geoscience.
"Kebakaran hutan berdampak pada permukaan tanah dan aktivitas geomorfologi pasca-kebakaran di seluruh dunia, meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah," tulis penelitian tersebut, dikutip dari laman Nature, Rabu (21/1/2026).
Baca juga:
Rata-rata kebakaran hutan melahap sekitar empat juta kilometer persegi lahan per tahun. Meskipun demikian, belum ada penilaian jangka panjang global tentang bagaimana kebakaran ini memengaruhi erosi tanah dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu, para peneliti dari Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa dan Universitas Basel, Swiss, mempelajari data selama 20 tahun untuk menyusun peta global pertama di dunia tentang erosi tanah pasca-kebakaran.
Penelitian mengungkap kebakaran hutan memicu erosi tanah jangka panjang. Bahkan, setelah 20 tahun, banyak wilayah belum pulih sepenuhnya.Para peneliti menggunakan model bertajuk Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE), yang mereka adaptasi untuk kondisi pasca-kebakaran.
"Kami memperkirakan tren global erosi tanah pasca-kebakaran menggunakan basis data global tentang kejadian kebakaran hutan dan tingkat keparahan kebakaran, serta model Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) bersama dengan pemulihan lanskap yang terbakar melalui data penginderaan jauh," tulis para peneliti.
Para peneliti kemudian menggabungkannya dengan data satelit kebakaran hutan global dari tahun 2001 hingga 2019 dan membandingkan area tersebut dengan kondisi lahan sebelum kebakaran, dilansir dari Phys.org.
Hasil penelitian menunjukkan, kebakaran hutan menyebabkan hilangnya 8,1 miliar ton tanah setiap tahun, yang menyumbang 19 persen dari seluruh erosi tanah di bumi.
"Secara global, Afrika adalah benua yang paling terdampak dalam hal erosi tanah pasca-kebakaran, mengingat luas area yang terbakar jauh lebih besar," tulis para peneliti.
Adapun Afrika menyumbang 62 persen dari kehilangan tanah ini, diikuti oleh Asia sebesar 12 persen, Amerika Selatan sebesar 11 persen, Oseania sebesar 10 persen, Amerika Utara sebesar empat persen, dan Eropa sebesar satu persen.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya