KOMPAS.com - Pemerintah Australia didesak mengganti bus berbahan bakar minyak (BBM) dengan bus listrik akibat melonjaknya harga minyak dunia yang kini mencapai 3 dollar AS (sekitar Rp 48.000) per liter. Bus listrik di negara ini hanya mencakup 1 persen dari total kendaraan umum.
Angkanya jauh di bawah China yang mrncapai 80 persen, dan Inggris sebesar 12 persen. Badan industri Bus Industry Confederation, meminta agar bus diprioritaskan dalam perencanaan keamanan bahan bakar.
“Bus mengangkut lebih dari separuh penumpang angkutan umum Australia. Keamanan bahan bakar bukan hanya masalah operasional, masalah kesetaraan sosial dan ketahanan masyarakat," ungkap Direktur Eksekutif Bus Industry Confederation, Varenya Mohan-Ram dilansir dari The Guardian, Jumat (3/4/2026).
Baca juga: Australia Pangkas 50 Persen Pajak BBM di Tengah Lonjakan Harga Minyak
Australia sejauh ini masih sangat bergantung pada diesel, dengan konsumsi sekitar 530 juta liter per tahun. Hampir 42.800 bus diesel beroperasi pada 2025, sedangkan bus listrik hanya 629 armada.
Sebagian besar negara bagian dan wilayah memiliki target untuk mentransisikan armada mereka. Canberra dan wilayah metropolitan Sydney akan sepenuhnya menggunakan kendaraan listrik di 2040.
Menteri Transportasi Australian Capital Territory (ACT), Chris Steel, menyebut Australia Selatan akan memiliki 81 bus listrik tahun ini. Sementara Australia Barat telah meluncurkan bus listrik ke-100, dan semua bus baru yang dibeli di Victoria adalah bus listrik.
“Setiap bus listrik ditenagai oleh 100 persen listrik terbarukan yang diproduksi di Australia, biaya operasionalnya lebih murah dan tidak bergantung pada bahan bakar impor," papar dia.
Baca juga: Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Dengan adanya bus listrik, Australia dinilai bisa terbebas dari ketergantungan minyak yang kini jalur distribusinya terhambat karena Selat Hormuz ditutup sejak perang Amerika Serikat-Israel versus Iran.
“Bus listrik sejauh ini merupakan cara paling berdampak untuk mengurangi emisi dari transportasi umum. Manfaat bus listrik tidak hanya terbatas pada emisi karbon," ucap Cameron Rimington selaku pejabat kebijakan senior di Electric Vehicle Council.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu merencanakan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Di Victoria, perusahaan bus Kinetic baru-baru ini membuka depo khusus dengan infrastruktur pengisian daya di atas kepala di Preston, Melbourne utara. Sementara di New South Wales, satu dari 11 konversi depo listrik yang direncanakan telah terbangun.
Profesor Universitas RMIT, Jago Dodson berpandangan bahwa Australia memang lebih lambat dibandingkan negara lain. Tetapi krisis, kenaikan harga bahan bakar, dan ketidakpastian pasokan dapat mengubah perhitungan biaya sehingga membuat bus listrik menjadi pilihan yang lebih menarik.
“Dari sudut pandang keamanan sederhana, mungkin ada biaya tambahan yang perlu dibayar untuk memastikan bahwa apa pun yang terjadi di luar Australia, kita tetap bisa menjalankan armada bus dengan listrik,” sebut dia.
Bus juga bersifat fleksibel, memberikan peluang penting untuk merespons krisis. Bus dapat mengisi kesenjangan antara layanan jalur tetap dan dapat dengan cepat diperluas untuk memenuhi permintaan serta meningkatkan cakupan di wilayah yang saat ini belum terlayani dengan baik oleh transportasi umum.
Komunitas di wilayah barat Melbourne telah lama mengampanyekan akses dan layanan bus yang lebih baik. Mereka menginginkan rute yang berbelit-belit diubah menjadi sistem yang cepat dan efisien, agar memenuhi kebutuhan lokal seperti pergi ke toko, sekolah, atau stasiun kereta.
Dodson menyatakan, krisis bahan bakar memberikan dorongan tambahan untuk perubahan, selain kebutuhan untuk beralih ke transportasi tanpa emisi karbon.
“Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Kita perlu menyadari bahwa perubahan memang diperlukan dan bahwa keamanan sistem transportasi kita adalah isu keamanan nasional yang mendasar," jelas dia.
Menurut Elyse Cunningham selaku penggerak komunitas kota berkelanjutan Friends of the Earth Melbourne, peningkatan layanan dapat mengubah hidup masyarakat termasuk orang berpenghasilan rendah atau keluarga migran. Peralihan ke transportasi listrik akan menjadi nilai tambah, membuat perjalanan lebih tenang dan nyaman.
Sejak 2024, dua bus mini listrik yang dijuluki Sandy dan Sunny di Victoria, misalnya, menjadi transportasi lokal yang inklusif bagi ratusan penumpang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya