Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi

Kompas.com, 31 Maret 2026, 20:13 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Negara anggota Uni Eropa berbondong-bondong membeli panel surya, pompa panas (heat pump), dan kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) di tengah krisis energi.

Melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran menyebabkan Uni Eropa beralih ke energi terbarukan sesegera mungkin. 

Baca juga:

Uni Eropa borong EV dan pompa panas saat krisis energi

Penjualan pompa panas di Inggris melonjak 51 persen dalam tiga pekan pertama pada bulan Maret dibandingkan Maret 2025, menurut laporan Octopus Energy. Padahal, secara historis Inggris memiliki tingkat adopsi terendah di Eropa.

“Kita melihat pergeseran besar karena orang-orang berhenti hanya bertanya dan mulai bertindak. Keluarga-keluarga Inggris lelah disandera oleh harga bahan bakar fosil global,” ujar perwakilan Octopus Energy, Rebecca Dibb Simkin, dilansir dari Euronews, Selasa (31/3/2026).

Tercatat, penjualan panel surya meningkat hingga 54 persen lantaran pemilik rumah memperbesar sistem dengan 12 panel, alih-alih 10 panel seperti sebelumnya.

Sementara itu, penjualan pengisi daya kendaraan listrik (EV) melonjak 20 persen.

Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa. SHUTTERSTOCK/GUTEKSK7 Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa.

"Dengan beralih ke energi surya dan pompa panas, mereka membangun pembangkit listrik sendiri, biaya rendah dan melindungi pengeluaran dalam jangka panjang," tutur Simkin.

Berdasarkan data Komisi Eropa, pengeluaran rata-rata untuk bahan bakar minyak di Uni Eropa meningkat 12 persen menjadi 1,84 euro (sekitar Rp 31.650) per liter sejak Senin (23/2/2026) hingga Senin (16/3/2026).

Hal ini lantas menyebabkan penjualan mobil listrik bekas Perancis, Aramisauto, naik hampir berlipat ganda.

Permintaan pelanggan untuk membeli EV melonjak di seluruh pasar online (daring) di Perancis, Romania, Portugal, dan Polandia dengan pertumbuhan yang terus meningkat secara konsisten setiap pekannya.

Perusahaan energi terbarukan Jerman, Enpal BV, menyebutkan, permintaan untuk panel surya dan pompa panas naik 30 persen sejak dimulainya perang AS-Israel vs Iran.

Hal senada dilaporkan perusahaan surya 1KOMMA5° dengan penjualan panel surya hampir dua kali lipat.

Baca juga:

Investasi ke energi terbarukan

Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa. Kindel Media Saat krisis energi menyerang dunia akibat konflik AS-Israel vs Iran, penjualan panel surya dan kendaraan listrik melonjak di Uni Eropa.

Spanyol juga telah berinvestasi besar-besaran untuk energi terbarukan selama enam tahun terakhir. Hal ini berdampak pada murahnya harga listrik di negara tersebut.

Sejak tahun 2019, Spanyol telah menggandakan kapasitas energi angin dan suryanya, menambahkan lebih dari 40 gigawatt dibandingkan negara-enagra Uni Eropa lainnya kecuali Jerman yang pasar energinya dua kali lebih besar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim
Swasta
Singapura Tetapkan Standar Manajemen Risiko Iklim bagi Bank, Investor, dan Asuransi
Singapura Tetapkan Standar Manajemen Risiko Iklim bagi Bank, Investor, dan Asuransi
Pemerintah
Viral Tak Sama dengan Valid, Ahli Soroti Pentingnya Visual dalam Praktik Greenwashing
Viral Tak Sama dengan Valid, Ahli Soroti Pentingnya Visual dalam Praktik Greenwashing
Swasta
Krisis Iklim Bikin Area Tanam Kopi Arabika Berkurang Tahun 2050
Krisis Iklim Bikin Area Tanam Kopi Arabika Berkurang Tahun 2050
Swasta
Melembagakan WFH: Hemat, Produktif, dan Hijau Sekaligus
Melembagakan WFH: Hemat, Produktif, dan Hijau Sekaligus
Pemerintah
Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal
Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal
Pemerintah
Daftar 40 Spesies Baru yang Dilindungi, Ada Hyena hingga Hiu
Daftar 40 Spesies Baru yang Dilindungi, Ada Hyena hingga Hiu
Pemerintah
Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak
Puluhan Paus Pilot Terdampar di Rote NTT, Diduga akibat Ekolokasi Rusak
LSM/Figur
Banjir dan Longsor Bikin Tanah Kurang Subur, BRIN Jelaskan Alasannya
Banjir dan Longsor Bikin Tanah Kurang Subur, BRIN Jelaskan Alasannya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau